Menjadi Kepala Departemen Seni dan Budaya,
berhenti dari BEM, atau mencoba posisi lain?
Tulisan ini dulu dibuat di tengah kegalauan melanjutkan karier di BEM FISIP UI
Jangan picik.
Berfikir ini egoku,
atau lawan atas ego dia.
Jangan dangkal.
Menyangka sakit adalah faktor dasar terbesar,
mengalahkan besarnya rasa untuk mengabdi.
Hhhhhhhhhhh, ini bukan lagi tentang hasrat atau keinginan.
Tapi ada yang lebih tepat diatas semua itu.
Aku hanya menimbang
(dengan hati dingin).
Dan menemukan bahwa apa yang akan dikorbankan dalam perjuangan,
tak dapat sebanding dengan apa yang bisa diberi.
Apa yang akan hilang,
belum tentu dapat diganti.
Egois?
Sama sekali tidak.
Naif menganggap pengorbanan pelepasan atas sesuatu yang begitu dicinta dan dinanti,
merupakan wujud kepentingan sendiri.
Bagaimana bisa memberi lebih ?
Bila yang dituntut saja belum tentu terpenuhi.
Bagaimana dapat menjadi motor penggerak ?
Apabila pada pijakan awal, sudah tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Tunggu.
Jalan ini memang sudah kututup,
rapat.
Rapat.
Tapi masih ada koridor lain,
dimana disitu tetap bisa ada aku,
yang siap memperpanjang pelukan terhadap yang aku cinta,
apabila masih diperlukan.
0 comments :
Post a Comment