Merayakan Hari Guru di tahun 2017 dengan pulang ke SD Negeri 16 Kutamakmur, Aceh Utara, tempat saya pernah 'bertugas' selama 14 bulan sebagai guru bantu.
Empat tahun sudah sejak saya angkat kaki dari sekolah sederhana yang bersembunyi di tengah-tengah hamparan sawit dan pinang ini.
Dulu saya berjanji bahwa suatu saat akan kembali.
Dan sejak saat itu....
saya selalu rindu.
EMPAT TAHUN, NONA!
Sudah ngapain aja?
Sudah empat kali berganti pekerjaan, kehilangan Papa, dapat kesempatan menjelajah empat provinsi dan dua negara, kembali menari hingga kini aktif di balik layar, selesai produksi satu teater musikal, dan masih memperjuangkan Nusantari.
Setelah itu semua, akhirnya saya kembali dan mendapati bahwa......
murid-murid saya tidak beredar lagi.
Ah, ya konyol.
Tentu saja banyak yang telah berubah dalam empat tahun.
Empat tahun berlalu artinya murid-murid saya dulu sudah tersebar di dayah dan sekolah menengah pertama atau akhir, sehingga tidak banyak lagi yang masih keliaran di dusun.
Empat tahun berarti rumah sekolah sudah menambah lokal, memiliki perpustakaan baru, ruangan guru yang baru, bahkan Kepala Sekolah baru.
SMA yang dulu hanya menjadi angan-angan di dusun, pun sudah beroperasi.
Terlalu banyak yang baru baru memang, hingga akhirnya saya melangkah masuk ke ruang guru dan kembali menemukan wajah-wajah terdahulu.
Ya, para guru.
Ada yang semakin kurus, semakin gemuk, sudah menikah kembali, baru saja menikah, baru selesai operasi otak, baru kembali mengajar di sekolah, ada dua guru telah diangkat menjadi PNS, dan mereka bercerita bahwa nyaris semua guru (akhirnya) telah lulus kuliah.
Alhamdulillah.
Guru-guru telah banyak mengalami perubahan, namun banyak hal juga yang masih tetap sama.
"Habis berapa Bu, pergi sini?" tanya seorang guru sembari kami duduk-duduk santai.
Ketika saya menyebutkan harga tiket termurah yang saya peroleh saat promo, mereka tertawa lepas dan menyeletuk,
"Kek manaaaaa..... lah kami mau nabung ke sana, Bu. Sudah tujuh bulan bulan ni kami belum dapat gaji".
Celetukan ringan, tanpa beban, yang sukses membuat saya malu.
Terdiam rikuh, sontak pikiran saya berkelana.
Melamunkan apa arti 300 ribu rupiah di kehidupan saya saat ini, yang mungkin cepat tandas dalam satu kali makan di luar bersama Mama dan Dede.
Mungkin habis ditukar tiga jam di Bersih Sehat, atau satu malam di sebuah hotel dengan dalih "staycation".
Di sini, 300 ribu rupiah merupakan ganjaran per bulan yang diperoleh guru-guru honorer atas waktu dan tenaga yang mereka habiskan sehari-hari di sekolah, pun masih ditunda pencairannya selama tujuh bulan.
Ini bukan berita baru di telinga.
Dari dulu sudah begitu.
Namun mendengarnya kembali secara langsung dari mulut para guru, membuatku merasa kurang bersyukur.
Saya teringat bagaimana masing-masing dari mereka berusaha menambah penghasilan atau bertahan selama penundaan penerimaan gaji tersebut dengan mengupas pinang, ke kebun, atau berjualan sepulang sekolah.
Dan saya merasa semakin kecil hanya dengan memikirkannya.
Lamunanku buyar ketika seorang guru beranjak dan mengambil satu rangkap kertas yang adalah kumpulan soal-soal tes PPG (Pendidikan Profesi Guru) dan bercerita bahwa hari Selasa depan, dua di antara mereka akan mengikuti tes tersebut.
"Doakan lancar ya, Bu. Supaya kami lolos, bisa sertifikasi Bu".
Ah ya, tunjangan sertifikasi.
Harapan lain untuk mendapatkan peningkatan pendapatan bagi para guru.
Tunjangan-tunjangan ini kuingat selalu menjadi bahan obrolan hangat di sekolah.
Para guru yang sudah PNS dan mendapat beberapa tunjangan, biasa menggabungkan bagian tunjangannya dan membagikannya secara rata untuk para guru honorer.
Gotong royong yang membuatku selalu kagum.
Sisa pagi itu kami habiskan dengan membahas bersama jawaban kisi-kisi soal tes PPG yang belum dapat terselesaikan oleh para guruku.
Saya mencoba membantu menjawabnya sebisa mungkin, sambil diam-diam mendoakan kedua guruku tersebut dapat menjalani tes tersebut dengan baik.
Terberkatilah para guruku di sana.
Yang belajar dan mengajar setiap harinya tanpa bantuan sinyal internet dan mesin pencari daring.
Yang mengerjakan rapor K13 hanya dengan bantuan dua buah laptop sekolah.
Yang setiap hari harus berkendara membelah hutan sawit serta menerjang jalanan berbatu untuk sampai di sekolah.
Yang gajinya selalu ditunda hingga terpaksa meminjam sepuluh atau dua puluh ribu rupiah untuk membeli bensin agar bisa berangkat ke sekolah.
Yang tetap sederhana dan berbahagia.
Selamat Hari Guru.



0 comments :
Post a Comment