Hari ini adalah ulang tahun Papa ke-54!
Untuk pertama kalinya selama 24 tahun, aku tidak ada di rumah untuk menyelipkan hadiah kejutan atau sekedar kartu pada pagi 9 September, di meja kecil tempat biasa Papa menaruh dompet, ponsel, cincin pernikahannya dan kunci mobil sepulang bekerja.
Jarak baru benar-benar terasa kejam sekarang ini.
Kalau ditanya ingin memberi hadiah apa untuk merayakan ulang tahun ke-54 nya ini, jujur saja aku juga bingung. Rasa-rasanya semua sudah pernah kuberi, dan sepertinya basi.
Aku selalu sibuk mondar-mandir frustasi dengan Mama mengintil di belakang hampir setiap kali menjelang ulang tahun Papa. Lalu, ya itu. Setelah keluar toko dengan kusut masai, hadiah yang kuberi... kok ujung-ujungnya basi. Berakhir menjadi onggokan benda semata yang memenuhi rumah.
Hanya ada dua hadiah yang kuingat cukup menciptakan kesan yang berbeda di ulang tahun Papa.
Dua-duanya buatan tangan sendiri.
Yang pertama adalah album foto yang berisikan foto-fotoku, serta adikku dengan Papa dari masa ke masa.
Yang kedua adalah mix tape yang berisikan kompilasi lagu-lagu kesukaan Papa, dengan satu track yang memuat rekaman suaraku yang berdoa untuk ulang tahunnya.
Waktu itu aku masih duduk di SMP.
Dengan bermodalkan mic, tape di kamar serta kaset kosong berdurasi 60 menit, rupa-rupanya aku berhasil membuat Papa menangis tersedu-sedu karena haru hari itu.
Selama beberapa waktu saat mobil kami masih menggunakan pemutar kaset, kaset tersebut kerap kali menemani waktu-waktu Papa di jalanan. Lucunya, ada saat-saat kami hanya berduaan di mobil, dan Papa harus menekan tombol fast forward dengan panik untuk melewatkan track spesial itu, agar kami berdua tidak terjebak di situasi canggung yang menggerahkan.
Hahahaha, gengsi.
Walaupun aku bingung setengah mati ingin memberi hadiah apa untuk Papa, aku tahu benar apa yang sedang Papa inginkan dariku akhir-akhir ini, yang sayangnya tidak mungkin bisa aku beri.
Papa minta cucu.
#heningberkepanjangan.
Saingan Mama minta pulsa, kalau kata seorang teman.
Aku menuliskan ini sembari nyengir kuda dan menahan tawa, dan aku tahu kalian juga ingin terbahak.
Rasanya hatiku bergejolak geli dan kepalaku luar biasa pening saat kejadian minta-cucu ini terjadi di satu malam cutiku kemarin. Saat itu aku sedang berbaring malas-manja di sebelah Papa, menonton televisi. Papa yang seperti biasa sembari ngopi dan menghisap nikotin kesayangannya tetiba memulai percakapan ganjil ini:
(ngelus rambut sekali) (#mencurigakan)
Aku : “Hmm..”
(cuek nonton TV)
Papa : “Cantik Papa sibuk terus nih..”
(ngelus lagi, sembari pijat jidat sedikit) (#MAKINMENCURIGAKAN)
Aku : “He em...”
(geleyot males)
Papa : “Kamu punya pacar ga?”
(#kemudianhening)
Aku : (badan mulai ga santai, suara mulai ketus)
“Apaan sih, ah. Engga.”
Papa : (nyeruput kopi)
“Terus Papa kapan punya cucu?”
Aku : “HHHHHHHHhhh!”
(bangkit berdiri, ambil HP, naik tangga sambil gedebak-gedebuk, masuk kamar)
Sesampainya di kamar, aku menghempaskan tubuhku di atas kasur. Kemudian terbahak hebat yang sesaat kemudian berubah menjadi perasaan gamang seada-adanya. Ini lucu, karena meskipun di Umur ini sudah wajar bagi sebayaku untuk menikah dan mempunyai anak, tak pernah kuduga percakapan janggal tersebut akan terjadi di waktu dekat-dekat ini, terlebih antara AKU dan PAPA. Lucu. Karena Papa melewatkan tahap bertunangan dan menikah, dan menyerangku dari pertanyaan ‘punya pacar’, langsung ke ‘kapan-punya-cucu’.
Perasaan gamangku timbul karena sedetik kemudian aku tersadar kalau sentilan tadi itu bukan lagi bercanda. Buncahan kegamangan itu pun kemudian dipompa oleh tidak siapnya aku untuk berubah dari “Daddy’s little Princess” ke mesin-pemberi-cucu, tanpa ada masa transisi yang cukup dan pantas.
***
Papa mengalami kesulitan untuk ‘tumbuh dewasa’ bersamaku.
Beliau banyak terjebak di masa pipiku masih membulat dan terlihat lucu, berlari-lari dengan gaun-putih rok-kembang, memamerkan cengiran gigi satu andalanku.
Tidak peduli kemana aku telah bertualang, tidak peduli sudah sibuk berkarya apa diluar sana, saat kembali ke rumah, di matanya aku dan adikku adalah putri-putri kecilnya yang nampaknya bahkan tidak bisa berdiri sendiri tanpa Papa pegangi dengan kedua tangan.
Aku teringat setiap masa aku akan naik jenjang sekolah. Menjelang akhir tahun ajaran, Papa akan sibuk wara-wiri menghubungi jejaring yang dimilikinya untuk ‘menitipkan’ aku masuk di sekolah yang baik di Bogor, dan itu terjadi hingga kuliah. Saat itu Papa ‘menyimpan’ satu kursi untukku di Universitas Pakuan Bogor, memanfaatkan koneksinya dengan Rektor UNPAK.
Dulu, aku sangat tersinggung dengan ulahnya itu. Aku merasa Papa tidak mempercayai kemampuanku sendiri untuk mendapatkan kursi pendidikan yang layak. Well, tapi nyatanya beliau hanya tidak ingin putrinya mengalami kesulitan. Lebih-lebih, Papa hanya ingin melindungiku dari rasa sakit hati atau sedih karena mengalami penolakan dari sekolah-sekolah yang susah payah ingin coba kumasuki.
Di waktu lain saat sedang tidak sibuk memanjakan dan melindungi kami seperti bayi, Papa berusaha keras untuk menjadi teman sebaya bagiku dan Dede. Ini adalah masa-masa dimana Papa harus menerima bahwa kami sudah tumbuh dewasa. Menjadi teman yang mencoba memahami keluh-kesah kami dan menyelami dunia kami adalah pengaturan otomatis Papa untuk menyesuaikan diri dengan masa tumbuh kembang kami.
Sepanjang sejarah itu, minim waktu yang kami punya untuk bicara hati ke hati secara sama-sama dewasa, dan menerima kenyataan hasil dari pergerakan waktu.
Untuk itu, si bayi ini terkejut setengah mati ketika tiba-tiba diminta untuk memberi seorang bayi.
***
Papa mencintaiku dengan banyak cara.
Dan secara kurang ajar, aku membenci banyak diantaranya.
Papa biasa mengirimkan sebuah BBM berbunyi : “Teh, sudah jam 10. Ayo pulang”, hampir setiap malam di beberapa tahun terakhirku di kampus.
Dan setiap malam itu pula, aku hampir selalu naik kereta di atas jam 10 malam dari stasiun UI. Bahkan sering kali pukul setengah 12 malam aku masih duduk sendirian di stasiun menanti datangnya kereta.
Setiap malam itu, aku akan bersungut-sungut. Mengeluh kepada Papa, atau misuh-misuh sendirian mengenai tidak pengertiannya Papa dengan kegiatanku di kampus.
Betapa perilaku Papa tidak sesuai dan tidak konsisten, karena kebebasanku yang dahulu tanpa batas makin lama makin dibatasi dan direcoki.
Kemudian ini akan menjadi isu pertengkaran kami, se-ti-ap ha-ri via BBM, dimulai pukul 10 malam. *sigh*
Di akhir setiap pertengkaran itu, besar atau kecilnya, Papa akan berkata : “sampai Bogor jam berapa? BBM Papa kalau udah di Citayam”.
Dan di setiap malam itu, di tengah jalanan Bogor yang sepi, melintasi satu demi satu lampu lalu lintas yang berpendar jingga, aku dan Papa akan memiliki quality time berdua, dalam diam, bernyanyi sumbang atau pada waktu kebanyakan saling mengejek satu sama lain.
Di hari-hari dimana kita bertengkar hebat mengenai curfew ini, Papa akan menghela napas panjang dan berkata: “Papa cuma khawatir kamu kenapa-kenapa di kereta. Anak perempuan jalan sendirian tengah malam. Stasiun Bogor udah makin rawan sekarang teh, kamu itu perempuan. Papa ga akan bisa tenang.”
***
Cuma Papa yang bisa begitu.
Setia berdiam diri di dalam mobil di lapangan parkir, walaupun hujan, walaupun berjam-jam, walaupun masih letih setelah menyetir pulang dari luar kota, hanya untuk membawaku menempuh perjalanan 15 menit di tengah malam yang harusnya bisa kutempuh dengan angkutan kota apabila masih tersedia.
Cuma Papa yang rela menerjang macetnya jalanan Jakarta di jam pulang kerja sore hari untuk menjemputku ke bandara, mendaratkanku di rumah pada pukul 10 malam, dan kembali mengantarku ke bandara pukul 2 pagi-nya setelah melewati rapat dua jam dan hanya tidur setengah jam.
***
Walaupun sudah lama lalu lalang di jalanan sendirian, sampai sekarang, Papa tidak mengizinkanku memiliki SIM.
Aku akan sering ngambek, karena ruang gerakku menjadi terbatas.
Aku akan sebal, karena aku harus melanggar peraturan lalu lintas setiap harinya di jalanan.
Lalu secara terang-terangan, Papa menyatakan kekhawatirannya akan tiba-tiba aku sudah berada di belahan lain Pulau Jawa untuk sekedar main atau kabur secara dramatis saat ngambek.
Dan seperti masa-masa sebelum aku bisa menyetir, dengan sabar dan rela Papa akan siap mengantarkanku kemana saja, termasuk dengan paket lengkapku ke rumah mereka masing-masing.
***
Papa akan menjadi sangat tidak ramah kepada laki-laki yang sedang dekat denganku, bagaimanapun bentuknya.
Akan terbit cengiran seadanya dan sikap paling kaku sedunia, ketika kali pertama aku mengenalkan lelaki tersebut ke rumah.
Berikutnya si lelaki tersebut harus tahan melihat mimik keras dibalik kumis lebat Papa selama berkali-kali kunjungan selanjutnya.
Lalu aku akan protes keras atas tingkah lakunya tersebut.
Kembali mengeluh mengenai betapa tidak pengertiannya Papa, dan bahwa tingkahnya membuatku malu dan memendam rasa tidak enak.
Kemudian lama-kelamaan Papa akan mulai melunak.
Papa akan mulai belajar menerima bahwa kehadiran si lelaki pendatang baru ini menjadi penting di kehidupan putrinya, meskipun si lelaki ini menyembunyikan putrinya dari orang tuanya, menganut prinsip yang berbeda, atau sedang berkutat antara melanjutkan kuliah atau tidak.
Papa yang selalu ingin punya anak laki-laki ini nantinya akan tampak lebih sayang dan maklum kepada si lelaki, lalu aku akan cemberut merengut cemburu.
Saat aku memihak pada si pendatang baru tanpa berempati kepada perasaan Papa,
nyatanya Papa sedang berhati-hati melakukan penilaian dan mempersiapkan dirinya menghadapi waktu-waktu dimana sebagian besar perhatianku akan tersita oleh si pendatang baru ini.
Saat aku merengut cemburu atas ketimpangan Papa, nyatanya Papa sedang berusaha menghargai pilihan penting yang aku buat, seberat apapun keputusan itu untuk diterimanya.
Papa secara sederhana belajar menyayangi seseorang yang disayangi putrinya.
Di akhir cerita, atau mungkin di tengah perjalanan, sangat mungkin Papa berubah sikap, menjadi lebih keras daripada sebelumnya.
Ini biasanya dipicu oleh adanya tanda-tanda bahwa si pendatang baru ini sering menerbitkan kubik airmata secara signifikan di pelupuk mata putrinya.
Kemudian Papa akan menjadi lebih sakit hati, daripada putrinya sendiri.
Akan lebih sulit memaafkan, daripada si korban itu sendiri.
Suatu keadaan yang sangat tidak bisa diterima, apalagi secara rela, bahwa ada seorang asing yang serta merta menyia-nyiakan putrinya yang dilindunginya mati-matian.
Dengan sekuat tenaga, apabila dibolehkan, sang pelaku mungkin akan berakhir berdarah-darah sekarat di tepi jalan demi terbalaskan sakit hatinya.
Papa tidak pernah tega putrinya mengalami luka perasaan, meskipun terluka dan memaafkan adalah fase lumrah yang terjadi di dalam proses pendewasaan hidup.
***
Hubunganku dengan Papa mungkin bukan hubungan Ayah dan anak perempuan paling ideal yang pernah ada.
Aku pernah begitu kecewa dan patah hati karena merasa beliau tidak memenuhi tuntutan idealku akan sosok seorang Ayah dan kepala keluarga.
Papa pernah begitu sedih dan juga patah hati menghadapi putri sulungnya yang tampaknya tidak pernah menghargai pontang-panting usahanya, atau bahkan menyimpan sedikit rasa sayang untuknya.
Kami mungkin pernah saling benci, mengecewakan dan menyakiti dengan banyak cara.
Secara tidak dikehendaki, mungkin terselip keluhan, kufur nikmat dan rasa jengah di lubuk hati masing-masing.
But I love you to the moon and back, Dad.
Teteh ga akan pernah lupa, waktu dulu Papa sibuk minjem duit kesana kemari cuma untuk beliin teteh boneka Hello Kitty bergaun pengantin edisi terbatas di paketan Happy Meal seharga 30 ribu.
Teteh ga akan pernah lupa rasa jengah dan tangis tertahan penuh sesal di Juli yang lalu, saat teteh ketemu lagi sama Papa setelah 8 bulan pisah, dan Papa udah berubah kurus parah secara drastis.
It was driving me mad,
melihat kenyataan bahwa teteh ninggalin Papa di saat-saat Papa paling butuh teteh ada disana.
Rasanya nyesel banget, ga bisa bantuin Papa di saat-saat paling sibuk sedunia ini sekarang.
I am so sorry, Papa.
Maaf teteh sering marah sama Papa.
Maaf teteh sering pergi ninggalin Papa, dan melewatkan banyak.
I will be back soon, in a heart beat.
Just hanging there, and please please please please take care of yourself.
Selamat ulang tahun, Papa.
Thank you for everything.
I love you, to the moon and back, my King.
Sincerely,
Your little Princess.

0 comments :
Post a Comment