Jangan Nikah Dulu.




People say that growing up can wait. I used to believe it.
But well then, apparently it cannot wait.
at all.

Rasa-rasanya, baru semalam sebelum tidur bayangan soal suatu pernikahan itu, ya hanya bayangan saja. Bayangan akan sesuatu hal yang.... Iya, aku tahu pasti akan terjadi kok.

Tapi nanti. Masih jauh hari. Jauh sekali, entah kapan.
Untuk aku, juga untuk orang-orang di sekitarku.
Dalam hal ini, ya baca saja sahabatku, serta siapa saja yang satu generasi.
Entah teman sepermainan, teman seperjuangan, serta teman ini-itu lainnya.

Here it is.

A marriage is (or was?) a perfect concept of happily ever after for me.
This is how it’s gonna work:
I used to dream about meeting my Prince Charming someday. Falling in love with that perfect kind of guy, and marry him in a beautiful afternoon garden party next to a lake. I will come to my wedding by a horse carriage. Walking down the aisle in a pretty broken white dress (made by me and my Mommy :’) ) to my handsome groom that standing straight and tall waiting for me. We will holding hands, and say our vows. He’ll smile, and I’ll cry. Happiness tears. We will dance under the sunset (after I dance with my Daddy, of course), and he will kiss me on my forehead, saying that I’m his miracle.

What’s going to happen next?


He will take me out of my parents’ house, and we will live happily ever after, growing old together. We will live at a little beach house, with dozen of grandchilds that come by every weekend. By driving our Volkswagen, we will take a honeymoon every month to another exotic town. My Prince-Charming-Husband will always be my favorite hello, and my hardest goodbye, forever.



Fin.


I KNOW.
That’s just too perfect.
Like all those Disney Princess movies that I’m addicted to, those images are just... so unreal, and far.. faaaaar away
Untouchable.
But like it or not, it’s happening.
am getting closer and closer. 

GOSH.

Hey, I’m not ready.

I’m just a little girl.
Daddy’s little girl.
Well, that concept won’t last forever I guess.

NOW.

This is a real time, when I’m log in my Facebook account, an  ‘engaged’ or ’married’ status is no longer a joke. Bukan becandaan unyu-unyuan dari sepasang muda-mudi yang buta dimabuk asmara.
Yang... literally merasa dunia milik berdua, baru pacaran sebulan udah mamah-papahan.
Soulmate apa the one katanyah mah.

Status yang terpampang menyakitkan mata di home screen Facebook itu adalah bentuk komitmen nyata. Pertanda, bahwa satu lagi temanku sudah memasuki suatu babak baru dalam kehidupan mereka.


Tanda bahwa banyak hal, tak lagi sama.

Tanda bahwa ada banyak hal, (atau pihak?) that left behind.

Time flies baby.

Seminggu yang lalu, pada kurun waktu Jumat malam hingga Sabtu pagi aku duduk terpuruk dilanda badai kegalauan. #tsah.

It was my best friend’s engagement day.

#dang.

Sehari-semalam terjadi percakapan heboh di whatsapp group dalam rangka mempersiapkan hari lamaran itu.

Di Bogor.


Di Tanah Rencong ini, aku hanya bisa menatap layar ponsel-ku dengan nanar, powerless.



Ini bukan kali pertama temanku bertunangan.
Bahkan sudah banyak yang pamer janur kuning dimana-mana.

Tapi.. ini beda.

Bukan sekedar teman saja.
This is a real BEST FRIEND, you can call it BFF or whatever.

Let me introduce you to this special girl, Cyindi Andari Agmer.

Sahabat dari zaman putih biru.


Well.

Asal kamu tahu.
Aku gadis yang suka bermimpi.
Gadis yang suka memprediksikan, memproyeksikan atau bahkan merencanakan beberapa momen penting di masa depanku, sedari aku masih kecil.
Misalnya saja bagaimana pesta ulang tahun ke-17 ku akan dirayakan, atau bahkan seperti kau lihat tadi, detil mengenai hari pernikahanku.

This is another perfect and ideal concept about my future, in dealing with my best friend’s wedding:

Aku akan menjadi garda terdepan.
Bridesmaid, panitia, pengisi acara kalau perlu. Apa saja.
Aku akan mendampingi terus siapa pun sahabatku yang akan menikah, dari titik awal hingga akhir.
Terlibat dalam setiap detil persiapan hajat penting itu.
Lamaran, berbelanja, bachelorette party, sungkeman, siraman, hari H.
Won’t miss a thing. Begadang, cuti kerja, weekdays, weekend, I’ll be there.
Whatever it takes.

Berlebihan? Harus. Hari spesial untuk individu spesial, harus berlebihan.


Tapi ini kenyataannya.

Sahabatku yang satu ini, tiba-tiba saja akan menikah.
Out of nowhere.
Dengan calon yang, oh My God aku tidak kenal siapa.
Kejadian ini berlangsung sangat sangat sangat cepat sekali. 
Dan aku, sedang berada ribuan mil jauhnya (lebay dikit).

Setahuku, dia masih berpacaran dengan teman satu kampusku. Aku tahu betul ceritanya.

Akhir-akhir ini, tiba-tiba, aku membuka Facebook (lagi-lagi), dan menemukan dia telah berpacaran dengan seseorang yang baru.

Coba bagaimana rasanya? Mengetahui sahabatmu sejak zaman masih cupu punya pacar baru lewat social media? *banting meja* *lempar kursi*


Dan ketika diklarifikasi lewat percakapan di BBM group (BBM group for God Sake),

bau-baunya ini bukan lagi pacaran biasa saja.
Ujung-ujungnya nikah.
Nikah muda.
Sebentar lagi.

Ini salah siapa? Salah aku yang terlalu sibuk dan kurang perhatian lagi dengan orang-orang di sekitarku kah? Mungkin iya.


Ya Tuhan, kapan ini terjadinya?


Sore itu aku sedang turun dari desa ke kecamatan. Berkeringat dan sedikit pening di tengah proses mengetik ulang begitu banyak SK penugasan guru di sekolahku.

Itu minggu terakhir di tahun 2012. Dikejar deadline untuk memasukkan data-data guru honorer ke dinas.

Kembali, ada percakapan di BBM group.

Si calon pengantin ini yang memulai.
Tanpa babibu, tiba-tiba menanyakan wedding organizer.

Astaga.

“Wah. Apaan ni lo nanyain WO. Jangan bilang lo nikahnya 2013?”
“Mungkin April neq.. :( ”
(ya kira-kira begitu deh ya isi percakapannya).

JEDARR. Rasanya tersambar petir cetar membahana di siang bolong.

Di tengah-tengah hiruk pikuk belasan guru dari berbagai sekolah mondar-mandir di sekitarku,
tes. tes.  air mataku meleleh begitu saja.
Susah payah aku memasang default face di depan kerumunan, dan menelan bulat-bulat bulir airmata serta gumpalan tangis yang siap meledak keras-keras.
Patah hati rasanya, mengetahui bahwa jangankan terlibat dalam setiap detil rangkaian hari besar itu, untuk hari H-nya saja aku tidak akan bisa datang.

Lalu si anak egois ini bukan merasa senang sahabatnya akan menikah, malah marah.

Buah dari sedih dan panik.
Awalnya merengek, meminta pernikahannya diundur tahun 2014,
atau at least Juni/Juli 2013, sehingga aku dapat mengambil cuti dan pulang.
Pulang tektok bukan masalah.

Ketika tidak dituruti, (menurut lo?) lalu malah ngambek, leave BBM Group.

Childish, I know.

Butuh berhari-hari untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak akan bisa hadir di acara besar sahabatku itu.

Itu pun, setelah melewati proses-proses dramatis, salah satunya sempat berfikir gila untuk kabur saat weekend ke Bogor, dan setelah pesta pernikahan usai, kembali ke Aceh dan lanjut mengajar seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi tidak bisa. Tidak boleh. Ini konsekuensi.
Alhamdulillah logikaku masih berhasil menaklukkan amygdalaku yang berontak liar.

TA-DA! It’s happening!

Ring satu kehidupanku sedikt demi sedikit mulai berubah.
Masuk babak baru.
Akan banyak perubahan bentuk canda dan kebebasan.
Kita bukan lagi gadis-gadis kecil dengan rok biru yang bak drama FTV nangis-nangis bertengkar di depan kelas atau di dalam sebuah kamar wisma di Yogyakarta, terbagi dalam dua kubu berbeda, saling menyalahkan, memerdebatkan hal-hal menel ga penting yang waktu itu terasa begitu prinsipil.
(anjrit kita pernah kayak gitu loh geng! Hahahahaha.)

Lalu, itu tadi.

Aku tidak siap.
Tidak siap tumbuh dewasa.
Aku menolak menerima kenyataan bahwa semakin hari aku semakin mendekati waktu dimana aku harus menjadikan mimpiku akan hari pernikahanku jadi kenyataan.
Mmmm tapi, instead of being Disney Princess  yang happy ending-nya selalu berakhir di altar pernikahan (bahkan Poccahontas pun, setelah secara tidak senonoh gonta-ganti pacar, akhirnya nikah juga di Poccahontas 2), maybe I wanna make another new ending for myself?

Aku bukan dilanda kegalauan untuk menyusul. Justru sebaliknya.
Aku tidak rela ditinggal.

Dear Cyindi Andari Agmer.

We both know that we don’t always see eye to eye on everything.
Dari zaman SMA, walaupun satu organisasi gegayaan pake baju seragam Pramuka bareng, kita sama-sama tahu kalau kita itu memendam api dalam sekam.

Kita sama-sama ga suka dengan cara satu sama lain ngejalanin aktivitas sehari-hari kita,
begitu juga sampai kuliah.
Sama-sama selalu ngeforsir diri sendiri secara keterlaluan.
Sama-sama kelewat sibuk merhatiin orang lain sampai ga merhatiin diri sendiri.
Sama-sama ngeyel, sama-sama susah makan, sama-sama suka nyiksa diri sendiri.
Sama-sama selalu sok kuat, sok super dan sok tegar dalam segala situasi.

Hahaha konyol ya kita kalau dipikir.
Tapi, kita sama-sama tahu diri untuk ga saling ikut campur soal ini.
Karena kita sama-sama tahu, kita sendiri pun melakukan hal yang sama setiap harinya.

CYINDI ANDARI AGMER.

Sadar ga sih, kekonyolan kita ga berhenti disitu?
Selama 4 tahun sama–sama kuliah di UI, dari mulai kostan sebelahan, sampai akhirnya sekostan, SEBELAHAN PULA KAMARNYA..
Dari sibuk sama aktivitas di fakultas masing-masing sampai akhirnya kita bareng-bareng BEM UI di PUSGIWA..
Bahkaaaan dari zaman MABA sampai lulus, tuh fakultas kita sebelahan dan tinggal ngesot doang,
KITA SELALU JARANG BANGET KETEMU.
Jarang banget tau update kabar masing-masing,
padahal segampang itu buat BBM-an or anything.
Dan sungguh, gue sangat menyesali itu.

But, hey. Tampaknya memang itu kan gaya persahabatan kita sejak dulu?

Tidak perlu menjadi yang selalu paling cepat dan paling tahu.
Yang penting selalu paling ada, dan paling mau untuk tahu.

Dearest Bunny. 

Demi apapun di dunia ini, gue amat sangat menyesali ketidakhadiran gue nanti.
Mohon maaf sayang, gue ga akan bisa nyetirin lo kesana-kemari, nemenin lo milih kain, ngebantuin dandanin pasukan lo, bungkusin ini itu, atau mungkin joget-joget gila di pesta lajang lo.
Gue ga bakal bisa sekedar megangin tangan lo untuk nenangin lo setiap kali lo mulai panik, atau meluk lo setiap kali lo mulai lelah atau pengen nangis di tengah semua hiruk pikuk prosesi ini.
Gue ga akan bisa ada disana.
Berbagi tangis haru dan pelukan ketika akhirnya acara akad terlewati.
Gue juga ga akan bisa ikut ketawa-ketawa centil sambil ngegodain lo pas lo mau malam pertama.

Gue akan melewatkan banyak momen penting, gue tahu.

Gue minta maaf sayang.

Gue akan nebus semuanya saat gue pulang nanti, gue janji.


Mungkin masa muda kita sudah habis kita lewati dengan mengejar ambisi masing-masing sehingga kita lupa berjalan beriringan, tapi untuk babak baru ini... mari kita buat berbeda.

You’ll be great. You’ll be stunning.

Lo akan menjadi mempelai yang cantik, lo akan bikin keluarga lo dan kita semua bangga, lega ngelepas lo.
Lo akan jadi istri yang baik dan soleh, dan Arnanto serta keluarganya akan sangat bersyukur karena mereka begitu beruntung memiliki elo.

Nantinya, lo akan jadi Ibu yang baik. I know it.
Lo akan bahagia, seperti yang selalu lo bayangkan.

I know it’s scary, but no need to worry, everything is gonna be fine.


Untuk Arnanto.

Nan, to (bahkan gue gatau lo dipanggilnya apaa *frustasi*)
Salam kenal (lagi) to. Jagain temen gue ya.
Mungkin kita belum kenal, gue gatau elo, tapi gue yakin lo akan jadi suami yang baik buat Cyindi. Amin.
Take care of my dearest one yang satu ini ya.
Don’t mess with her, I mean it. Hahaha.

Untuk 7 gadis cantik aku,

Titip Cyindi-nya yaa.
Pastiin dia ga stress dan kesehatannya selalu terjaga yaaa.
Kalau bandel-bandel, gigit aja!

Oh iya, satu lagi.
Please, jangan ada lagi yang nikah dulu.
Tunggu gue pulang.
Melewatkan satu saja sudah begitu berat rasanya, I can't take it.

Semoga semuanya berjalan lancar ya sayang-sayangku.






Satu yang pasti, gue selalu doain lo dari sini.

Dan gue selalu ada disini kok (kalau ada sinyal. Hahaha)
deym, my tears won’t stop.

I love you.
Kecup jauh dari Atjeh,
:*

0 comments :

Post a Comment

 
Menarikan Kata © 2012 | Designed by Rumah Dijual , in collaboration with Buy Dofollow Links! =) , Lastminutes and Ambien Side Effects