Saya baru saja membaca sebuah cerita di dalam Madre karya Dee Lestari yang berjudul Menunggu Layang-layang. Cerita ini mengenai seorang perempuan dan pria yang telah bersahabat dekat selama 4 tahun. Mereka memiliki prinsip, serta mengalami perjuangannya masing-masing dalam mencari pasangan. Si pria, Christian, seorang arsitek super kaku dan perfeksionis, menyendiri selama 4 tahun karena dia merasa belum menemukan perempuan sempurna untuk dirinya, yang mampu memenuhi kriteria yang dia cari. Starla, si perempuan, merupakan seorang desainer interior yang berjiwa bebas dan spontan, ‘alergi’ terhadap komitmen, sehingga dia bergonta-ganti pasangan sesuka hati dalam waktu yang singkat-singkat. Mereka begitu berbeda dunia dan karakter, terlibat dalam perdebatan di hampir setiap kali interaksinya, dan akhirnya secara mengejutkan falling so deep for each other. Mereka begitu dekat, tetapi tidak bisa saling melihat karena terburu-buru mengatakan tidak untuk satu sama lain, serta terlalu sibuk dengan konsep pasangan sempurna-nya masing-masing.
Ironis.
Membaca cerita tersebut membangkitkan sendi kegalauan saya, menggugah saya untuk memikirkan konsep ‘The One’ versi saya, dan menuangkannya ke dalam tulisan ini.
Iseng.
Beberapa waktu lalu, dini hari di tengah cuaca panas kota Lhokseumawe, saya terjebak dalam pembicaraan menggigit, dengan seorang teman melalui sebuah aplikasi instant messaging di ponsel saya. Sebuah pembicaraan yang benar sukses mengusir rasa kantuk saya, mengenai kegelisahan standar yang dialami hampir semua orang, (terutama mereka yang masuk ke dalam kelompok twenty-something, hahahaha!), find the one. Pencarian atas sesosok.. katakanlah belahan jiwa.
Mungkin boleh saya katakan, teman berbicara saya ini memiliki cukup banyak persamaan dengan saya. Kami sering memiliki pandangan yang serupa dalam menelisik berbagai hal. Namun, malam itu, pembicaraan menggelitik ini menggiring kami masuk ke dalam perdebatan yang membuat sedikit gerah.
Well, mungkin panasnya topik ini juga dipengaruhi sintingnya hembusan kemarau yang sedang menerjang Aceh secara tega. *kipas kipas*
Teman saya ini, memiliki sebuah gambaran cukup mendetail mengenai pasangan ‘sempurna’ versinya, untuk dirinya, dan berniat untuk mencarinya hingga ketemu. Sedangkan saya berpendapat, untuk mencari pasangan, tidak dibutuhkan tipe atau kriteria tertentu,
you just need to seek and build the chemistry. It could be anyone, with any inner and outer qualities.
Pembicaraan mengenai hal yang satu ini memang tidak akan pernah sederhana.
Topik yang lebih sensitif dari perempuan di kala PMS ini sangat bisa memancing keluar sisi-sisi rapuh dan picisan dari seorang Rambo sekalipun. Di akhir pembicaraan dini hari tersebut, saya merasa menjadi Starla in some ways, dan teman saya ini, in other ways adalah Christian dalam Menunggu Layang-layang.
Menunggu Layang-layang di dalam Madre bukanlah satu-satunya karya yang mengobrak-abrik lika-liku pencarian akan sesosok individu ‘sempurna’ yang bisa melengkapi kekosongan pelosok hati (#eeaaaaa).
Sebut saja film Hari untuk Amanda.
Latar waktu film ini hanyalah satu hari, dari pagi hingga malam. Satu hari ini merupakan hari dimana seorang calon pengantin perempuan bernama Amanda, sibuk berkeliling Jakarta untuk menyebarkan undangan pernikahannya. Seharusnya, kegiatan ini dilakukannya bersama sang calon pengantin pria, (saya lupa namanya siapa, kalau tidak salah Doni). Ajaibnya, karena beberapa hal, jadilah Amanda menyebarkan undangan pernikahannya hari itu justru ditemani oleh mantannya yang dulu dipacarinya selama bertahun-tahun, Hari namanya. Sepanjang hari itu, Amanda terlibat berbagai pertengkaran dengan calon suaminya, dan semakin dekat dengan Hari. Di penghujung hari, Amanda hampir saja membatalkan pernikahannya dan balikan dengan Hari, tetapi dia menyadari sesuatu tentang kedua pria tersebut. Sesuatu bahwa Hari itu memang memenuhi keinginannya. Spontan, romantis, menyenangkan dan penuh dengan adrenalin, tapi tanpa kepastian. Sedangkan Doni itu.... memenuhi kebutuhannya. Terkadang membosankan, tetapi pasti. Aman, nyaman dan melindungi.
Ada satu lagi momen yang memberikan sumbangsih penting lahirnya teori the one versi saya.
Tahun lalu, di tengah sebuah perjalanan menuju pernikahan seorang teman dari SMA, berdua dengan salah satu sahabat terbaik saya, saya tidak lagi dapat berkonsentrasi penuh mengemudi menghadapi kemacetan Bogor di akhir pekan. Perhatian saya seluruhnya terdistraksi oleh pembicaraan sengit, lagi-lagi mengenai bagaimana kita dapat menemukan the one.
Kali ini, pembicaraan mengupas tuntas pandangan masing-masing dari kita berdua terhadap konsep ta’aruf. Saat itu saya benar-benar tidak mengerti, bagaimana dua orang yang sebut saja tidak mengenal satu sama lain secara dekat, tidak tahu apakah mereka memiliki kecocokkan atau chemistry satu sama lain, bisa memberikan komitmennya untuk hidup bersama selamanya dalam ikatan pernikahan. Sangat-sangat tidak bisa diterima oleh nalar saya. Tidakkah akan takut menyesal telah menikahi orang yang salah? Tidakkah akan takut melewati hari-hari bersama orang yang tidak punya kecocokkan apapun dengan kita? Mimpi buruk, menurut saya.
Tapi.... sekarang akhirnya saya mulai mengerti.
Kenapa saya menceritakan semua ini?
Semua yang saya kemukakan di atas merupakan ‘resep’ dari konsep the one versi saya. Pemahaman baru mengenai hal ini terbangun perlahan-lahan secara konstruk, thanks to all of those moments and literatures. Pada akhirnya saya dapat menarik sebuah benang merah dari keseluruhan perdebatan dan ‘kontemplasi’ tersebut, menjadi seperti ini.
Jodoh itu, menemukan kebutuhan, bukan mencari keinginan.
Menurut saya, mencari the one itu bukan seperti mencari gaun pengantin, melainkan seperti mencari sebuah piyama. Mencari gaun pengantin itu.... harus sempurna. Agar membuat kita tampak sempurna di hari terbesar dalam hidup kita. Ukuran, model, bahan, warna dan detail gaun tersebut pastinya harus sesuai dengan keinginan kita. Itulah mengapa mencari gaun pengantin itu..... rumit.
Biasanya tidak akan pernah ada gaun pengantin di pasaran yang benar-benar sesuai dengan selera dan impian kita, maka kebanyakan gaun pengantin itu dipesan ke tukang jahit dari jauh-jauh hari. Saat membeli atau memesan gaun pengantin, kita sibuk minta ditemani orang-orang terdekat kita untuk memberikan pendapat dan persetujuan mereka akan gaun pengantin yang kita pilih. Semua keribetan itu hanya untuk.... kebahagiaan dan kesempurnaan satu hari.
Face it, gaun pengantin biasanya hanya dipakai satu kali seumur hidup. (kecuali mungkin kebaya pernikahan Mama saya yaa, yang saya kenakan kembali saat hari wisuda saya :3 Tapi kan, tidak semua gadis se-melankolis dan se-seremonial saya, bukan?).
Beda cerita dengan membeli piyama.
Waktu yang dibutuhkan untuk membeli piyama itu jauh lebih sebentar daripada membeli sebuah gaun pengantin. Cara yang dibutuhkan pun jauh lebih sederhana. Kita tidak perlu mengajak banyak orang untuk membeli piyama, karena membutuhkan persetujuan mereka. Kita hanya butuh melihat, menerawang di dalam toko, mengira-ngira apakah piyama tersebut nyaman untuk dipakai. Masalah bahan, warna, corak, dan lain sebagainya akan ikut kita pilih untuk mendukung satu faktor yang kita cari itu, kenyamanan. Bukan penampilannya.
Tapi, untuk tahu apakah piyama tersebut benar-benar nyaman dipakai, kita harus membawa piyama tersebut pulang, kita gunakan untuk tidur, baru keesokan harinya kita akan bisa memutuskan untuk menggunakan piyama tersebut kembali, atau harus mencari piyama yang lain.
Kedua konsep perolehan terbaik dari dua hal yang berbeda tersebut sama-sama memakan waktu yang lama, sampai kita menemukan satu potong gaun pengantin atau piyama yang paling pas.
Bedanya, saat mencari gaun pengantin yang paling sempurna dan sesuai dengan keinginan kita tersebut, mungkin kita akan merasa ‘sepi’. Kita akan terobsesi untuk memenuhi sederetan daftar keinginan kita agar gaun tersebut sempurna adanya. Kita akan merasakan adrenalin, rasa gelisah dan harap-harap cemas karena kita berpacu dengan waktu. Kita akan menaruh harapan yang sangat besar ketika akhirnya gaun itu berada di tangan kita tepat pada waktunya, gaun tersebut sesuai dengan keinginan kita, dan kita akan melewati hari terbesar dalam kehidupan kita itu dengan bahagia, terekam memori selamanya.
Lalu, apa yang akan terjadi apabila gaun tersebut tidak sesuai dengan yang selama ini kita bayang-bayangkan? Sudah pasti, kita akan merasa amat kecewa. Bukan tidak mungkin, kita akan merasa kehilangan pegangan kemudian. Bingung mau apa. Mungkin juga, kita akhirnya akan tidak bersemangat menjalani hari besar itu, dan kemudian menyesal sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Then you will start to wonder, what’s exactly that you need? Or start to questioning, what if? But it’s already too late. Pity.
Menurutku, mencari piyama akan jauh lebih menyenangkan, meski harus lebih diselami, dan mungkin lebih sering coba-coba. But it is less stress. With no expectation, just focusing on seeking the chemistry. Mungkin kita akan mengalami beberapa kekecewaan kecil, saat kita sudah memutuskan untuk membeli piyama tertentu, membawa dan mencoba menggunakannya saat tidur, tetapi ternyata piyama tersebut tidak cocok, dan kita harus membeli lagi piyama yang baru. But, so what? Dengan begitu, menurutku lama-kelamaan kita akan belajar untuk semakin bijaksana untuk memilih piyama berikutnya, semakin tahu piyama seperti apa yang kita butuhkan.
Failing means we learn something new, right?
Jodoh itu bukan bertemu belahan jiwa yang sudah ditentukan tanpa bisa memilih, tetapi justru merupakan pilihan itu sendiri.
Let me say this.
Saya tumbuh menjadi gadis yang cukup naif. Penuh dengan mimpi luar biasa, ideal dan... romantis. Saya sempat menjadi sangat benci kepada salah satu Disney Princess yang paling eksotis, Pocahontas. Sederhana karena dia adalah satu-satunya Disney Princess yang mengalami perjalanan percintaan paling realistis, berganti pasangan (btch!). Dalam film keduanya, tetiba miss Pocahontas menikah dengan pria baru, bukan John Smith yang telah mencuri hatinya pertama kali, yang membuatnya meninggalkan sukunya. Menurut kitab suci percintaan ala fairy tale di dalam kepalaku, Pocahontas sudah melanggar kode etik percintaan di dunia dongeng.
A Princess should meet just one Prince Charming, once, for good. Then... you know what’s happen next. They live happily ever after :3
But then, I was wrong.
Jodoh itu adalah usaha, proses, serta komitmen, bukan mengenai siapa orangnya.
Mencari jodoh itu bukan wara-wiri dengan checklist to fulfil, but about to do some trials and errors.
Kita tidak akan bisa menemukan jodoh kita tiba-tiba datang secara ajaib, time stops, angin berhembus dan ada balon-balon sabun berterbangan di sekitarnya ketika dia muncul tiba-tiba di hadapan kita.
Jodoh itu bukan bertemu orang yang terhubung sama kita secara mistis, tetapi mengenai apa dia (dan kamu) mau usaha untuk membangun (dan mempertahankan) hubungan?
Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan.
Lalu menurut saya, yang berjodoh itu adalah usahanya, bukan orangnya.
Disini saya mulai memahami konsep ta’aruf. Konsep yang super berani according to my opinion.
Saya makin memahami, selain usaha, jodoh itu mengenai pilihan. Orang yang melakukan ta’aruf itu berjodoh dalam menentukan pilihan. Mereka memilih satu sama lain. Mereka berjodoh dalam melakukan usaha untuk bersama. Orang yang melakukan ta’aruf itu tidak membutuhkan proses pembangunan chemistry sebelum berkomitmen, karena mereka telah mempercayai dan yakin satu sama lain secara ultima, mereka akan mengusahakan chemistry itu selanjutnya.
Saya tidak seberani itu. Saya masih lebih membutuhkan chemistry dan kenyamanan dengan orang lain sebagai dasar pengambilan keputusan berkomitmen dalam jangka waktu selamanya. Bibit, bebet, bobot yang terjamin tidak cukup untuk membuat saya yakin dan mempercayai seseorang secara penuh.
Mengenal itu urusan koneksi otak dan hati, bukan deretan tulisan menyilaukan di atas kertas.
Tetapi lagi, walau seindahnya kamu berhasil membangun sebuah kecocokkan tak terhingga dengan seseorang dan telah saling memilih satu sama lain, kamu masih harus berjodoh dalam berusaha untuk bersama.
Ini mungkin yang terjadi kepada orang yang sudah berpacaran bertahun-tahun lalu putus, atau bahkan sudah menikah hingga memiliki cucu lalu bercerai.
Mereka berhenti berjodoh.
Mereka berhenti memilih satu sama lain.
Mereka berhenti untuk berusaha bersama.
Mungkin mereka tidak lagi saling menginginkan, terlebih lagi saling membutuhkan.
Ini ada cerita lain lagi.
Saya pernah menjalin sebuah hubungan hampir 3 tahun dengan seorang libra yang awalnya adalah sahabat dekat saya, dan sekarang pun masih menjadi sahabat dekat saya.
Our chemistry is... undeniable.
Saya merasa cocok dengannya dalam hampir semua hal, dan rasanya tidak bisa terbayangkan oleh saya bisa menemukan kecocokkan seperti itu dengan orang lain.
Tetapi kami berbeda keyakinan.
Pun akhirnya kami tidak berjodoh dalam usaha untuk bersama. Saya tidak akan pernah pindah keyakinan, begitu pula dia. Tidak peduli seyakin apa kami telah memilih dan sebesar apa kami saling menginginkan satu sama lain, akhirnya kami lebih memilih keyakinan kami. Sesuatu yang lebih kami butuhkan daripada ‘kami’ itu sendiri.
Apabila kami sampai mengkhianati Tuhan kami untuk bersama, bukan tidak mungkin di masa depan kami akan mengkhianati satu sama lain, bukan?
Sesederhana itu, kami tidak berjodoh, karena kami memilih untuk tidak berjodoh.
Tetapi setidaknya kami berjodoh untuk mencapai titik kedewasaan tertentu yang rasanya tidak pernah terbayangkan, yaitu mengikhlaskan satu sama lain :)
Kalau the one adalah mengenai sosok seseorang, maka Mr. Perfect saya akan seperti ini
(in no particular order):
A best friend of mine. Libra (so we can celebrate our birthday together :p). Kind hearted. Super funny. Tanned, charming, sexy with a cute smile (a perfect clone of Ashley Banjo, please :3). Smart in a fun way. Broad-minded. Loose and flexibel. Gentleman. Full of surprises. Open-minded. Talk active. Adventurous and a family man at the same time. Able to be vulnerable with me. Have enormous good friends. Love, do, and watch arts. Creative genius, out of the box. Sundanese. Low profile. Do not watch sports, but DO sports. Do not do politics, but watch it. Sweet and romantic. Love Europe, but have a huge crush for Indonesia. A good leader and decision maker. Good listener. Love beach and sunset, mostly both. Wise, mature and brave. Have a very low level of a man’s ego. Passionate. Melancholic but also tough. Value little things in life. Have a big big big biiiiiig heart.
*Bisa delivery darimana? Give me the number! :p
Well, I never need a Mr. Perfect. I just need my Mr. Right.
Being with my Mr. Right means merayakan dan melewatkan waktu berkualitas dalam persamaan, saling menertawakan perbedaan, menopang kekurangan serta mendorong kelebihan.
It called Mr. Right, because it’s feels right.
Begitu saja.
Untuk kamu yang malas berusaha,
Jodoh itu katanya di tangan Tuhan.
Ya tapi, dijemput dong.
Your soulmate won’t suddenly fall from the sky in front of you and crawling to your arms.
Your Prince Charming maybe took a wrong turn, got lost and is too stubborn to ask for directions, and.... what would you do? Just, sit tight, wait him to come? Don’t be.
Go find him, give him the map to get back to you.
To you, the hopeless romantic.
Don’t fall for the second best just because you are afraid to be alone.
Being alone is... sucks. But being alone with the wrong person for the rest of your life is... a nightmare. I’ve seen it with my own eyes.
For you, my picky mates.
Get real.



0 comments :
Post a Comment