“Hadirrrrr, buuuu!”
Teriakan ini setiap pagi keluar dari murid-muridku di kelas 6 saat aku mengabsen mereka sebelum pelajaran dimulai.
Sungguh, mungkin cerita ini perkara super sepele.
Tetapi entah kenapa, bagiku terasa begitu membekas.
“Hadir, bu!” yang kudengar setiap pagi ini mungkin adanya seperti ganja (mungkin, tidak pernah mencoba juga *ketok-ketok meja*).
Membuat ketagihan. Sungguh deh.
Rasa-rasanya ada sesuatu yang sangat kurang, kalau aku belum mengabsen mereka.
Dan bodohnya.... aku selalu. Se-la-lu melupakan buku absen itu ketika masuk ke dalam kelas.
Akibatnya, setelah duduk manis di meja guru, aku selalu. Se-la-lu memulai hari dengan kembali lagi ke ruang guru untuk mengambil buku absen, setelah sebelumnya saling bertukar cengiran dengan anak-anak karena aku melupakan buku absen. (dasar tua).
Kelas 6-ku ini terdiri dari 30 anak. 9 anak adalah perempuan, sisanya laki-laki.
Berisik. Sangat berisik sekali.
Para laki-laki sangat kelebihan energi. Tidak bisa diam.
Para perempuan kebanyakan manis dan diam, tetapi kalau sudah kena gangguan dari anak laki-laki, berubah menjadi sangat ganas.
Aku sangat beruntung. Aku tidak mengalami permasalahan klasik yang sering dialami para PM, yaitu rendahnya tingkat kehadiran murid di dalam kelas.
Murid-muridku hampir selalu hadir secara penuh.
Yaaa adalah satu-dua yang tidak hadir dalam dua-tiga hari dalam seminggu, dengan alasan... yang katakanlah cukup jelas.
Misalnya, sakit. Atau... hmmm ini baru alasan klasik: membantu orang tua di kebun. Atau lain lagi di daerahku ini, membantu memotong pinang.
Sebenar-benarnya, aku sudah sangat hapal seluruh penghuni kelas 6-ku ini. Dalam sekali sapu pandangan keliling kelas, aku langsung dapat mengenali siapa saja yang tidak hadir, lalu mengisi buku absen. Itu akan menghemat waktu, dan tenaga. Terlebih untuk aku, yang sangat benci rutinitas.
Tapi rutinitas yang satu ini... membuatku jatuh cinta. Sangat-sangat jatuh cinta.
Setelah 3 bulan mendengarkan dengan seksama teriakan “hadir, bu!” itu setiap pagi, aku dapat melakukan sebuah klasifikasi suka-suka atas usaha murid-muridku memberitahukan keberadaannya di kelas kepadaku.
Berikut 8 jenis “hadir, bu!” dengan sebaran pelaku yang tidak merata:
1. “Hadirrr.. buuuu..” -versi polos
Senyum-senyum manis dengan mata cerah polos. Saat dipanggil, tangan mengangkat sebentar sambil menganggukan kepala. Pelaku favoritku adalah M. Nur. Ada penekanan ‘rrrr’ yang berbeda dan sangat khas darinya yang selalu membuatku merasa geli.
2. “Hadir bu!!!!” -super semangat
Mata berbinar-binar, cengiran super lebar, tangan teracung tinggi-tinggi. Ini biasanya keluar dari murid yang bersemangat dan kompetitif di kelas. Atau juga dari kelompok murid fans-bodyguard Ibu guru. Biasanya ada kalimat ini : “hari ini hadir, kemarin juga ada, besok saya hadir juga.” sebagai tambahan di belakang “hadir, bu!” versi ini.
3. “HADIRR!!!!!!!! BU!!!!!!” -pake urat
Lengan lurus tegang, kepalan tangan tergenggam dikempit di paha. Kepala sedikit menengadah, leher tertarik saat berteriak. Iya, teriak. Teriak super keras. Pelaku biasanya adalah murid-murid yang super aktif dan punya banyak energi. Kesemuanya... anak laki-laki.
4. “Hadir. bu.” -are-you-kidding-me look
Tangan terlipat di dada, duduk menyandar di kursi. Matanya seakan-akan berkata : “yang benar saja, bu. Saya ya pasti hadir. Ibu tidak lihat saya ada disini?”
5. “Hadir bu.......” -malu-malu tapi mau
Badan bergoyang-goyang kecil, tangan teracung sedikit, disertai cekikik pelan. Pelaku biasanya anak perempuan.
6. “Ha..ha.. hadirr bu. Hadir” -pake kepo berat
Pelaku versi ini biasanya bersuara sembari bangun dari kursi dan mencondongkan badan ke depan, atau sambil berjalan maju sekalian ke meja guru. Kepo disini terbagi menjadi dua. Yang pertama, kepo akan jumlah alpha, sakit, atau izin yang telah dia atau teman-temannya peroleh di buku absen. Yang kedua, kepo akan benda-benda atau bahan ajar yang saya bawa masuk ke dalam kelas hari itu.
7. “Hadir................................. bu” -super males
Sebelah tangan dilipat diatas meja, sebelah lagi mengacung malas. Kepala bersandar super lemas di atas meja. Pelaku terlihat amat sangat tidak tertarik dengan rutinitas ini.
8. “Hadir bu!” -ala prajurit
Berdiri dari kursi. Kaki dihentak. Tangan hormat. Suara singkat tegas. Lalu berkeliling kelas, patroli.
Saat aku mengabsen, aku selalu menundukkan kepala sebisa mungkin, sambil sesekali melirik ke arah anak-anak. Secara teknis, aku menunduk agar mereka bersuara menyahut panggilanku saat mengabsen, tidak hanya mengacungkan tangan. Ini dilakukan untuk menarik fokus mereka. Secara kepuasan pribadi, dengan menunduk aku dapat lebih meresapi suara-suara “hadir, bu!” yang dikeluarkan oleh anak-anak dan merasakan sensasi gelitik yang ditimbulkannya.
Iya, benar.
Setiap kali mengabsen anak-anak, aku selalu harus menahan sensasi menggelitik itu di dadaku, sehingga aku tidak tiba-tiba tersenyum atau tertawa saat memanggil nama mereka satu-persatu.
Pernah sekali dua kali, aku tidak mengontrol diriku, lalu tersenyum, nyengir dan bahkan tertawa sepanjang aku mengabsen, dan anak-anak memandangiku bingung, seakan aku sudah hilang akal.
“Hadir, bu!” itu tidak akan pernah jadi biasa, walau setiap hari kudengar.
“Hadir, bu!” dari anak-anakku merupakan tanda bahwa setiap hari mereka hadir dengan penuh semangat untuk menerima ilmu dan membuka cakrawala.
“Hadir, bu!” itu adalah suntikan semangat tak terhingga untukku bertarung melawan hari. Melawan ketakutanku berdiri di depan kelas. Melawan ketidakbisaanku untuk mengatakan bahwa mereka bisa.
Hahaha percayalah. Dahsyatnya butterfly effect atau sensasi kupu-kupu itu akan kau rasakan menggelitiki dada dan perutmu, tidak hanya saat kamu jatuh cinta saja.
Irilah kepadaku, yang merasakan itu setiap hari karena anak-anak ini.
Cemburulah akan kesempatanku, untuk membawa senyuman sepanjang hari hanya karena sebuah “hadir, bu!” di pucuk pagi.
I Choreograph My Life, and Dance it in Your Mind.
Hadir, bu!
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
Author
@calliandr_a
Archives
Popular Posts
-
Tulisan ini menceritakan tentang enam anak manusia beda kasta, masa lalu, dan ukuran badan yang dipaksa keadaan untuk tidak hanya bers...
-
Rasanya sudah berdekade aku tidak didera gelisah semacam ini. Dulu mungkin ini aku namai rindu. Ini masa yang baru. Saat aku tidak tahu l...
-
Saya baru saja membaca sebuah cerita di dalam Madre karya Dee Lestari yang berjudul Menunggu Layang-layang. Cerita ini mengenai seorang p...
-
People say that growing up can wait. I used to believe it. But well then, apparently it cannot wait. at all. Rasa-rasanya, baru se...
-
"persahabatan itu sebuah proses kompromi." We meet each and everyday. But you are not really there, and I'm also not ther...
-
Sabtu, 25 November 2017. Merayakan Hari Guru di tahun 2017 dengan pulang ke SD Negeri 16 Kutamakmur, Aceh Utara, tempat saya pernah ...
-
30 Desember 2008. Malam yang sama, Saat perbincangan melelahkan itu berlangsung Di ampar bangunan yang kutempati secara tidak per...
-
Hari ini adalah ulang tahun Papa ke-54! Untuk pertama kalinya selama 24 tahun, aku tidak ada di rumah untuk menyelipkan hadiah kejutan at...
-
Ini adalah sebuah kisah abu-abu yang akan selalui menghantuiku, entah sampai kapan. Ya, abu-abu. Bukan merah jambu yang penuh cinta, Ata...
-
Menjadi Kepala Departemen Seni dan Budaya, berhenti dari BEM, atau mencoba posisi lain? Tulisan ini dulu dibuat di tengah kegalauan...
Calliandra. Powered by Blogger.
0 comments :
Post a Comment