Tulisan ini diperuntukkan menjawab pertanyaan ini:
“kok tiap hari ada aja sih temen lo yang ulang tahun? Dan lo selalu ngucapin?”
yang percaya tidak percaya, bukan sekali dua kali dilontarkan kepadaku.
Hari ulang tahun bagiku adalah momen super duper penting.
Entah dari mana awalnya, tetapi hari itu menjadi sakral.
Sakral, sehingga hari tersebut (aku harapkan) tidak akan pernah terlewatkan secara biasa, begitu saja. Harus spesial, harus ada sesuatu (#mataberbinar #puppyeyes).
Ucapan selamat, hadiah, peristiwa. Kenangan dan curahan perhatian (#maksa #banyakmau).
Hingga sampai hari ulang tahunku yang terakhir nanti, aku akan selalu mengingat setiap kejadian yang terjadi pada tanggal 12 Oktober di setiap tahunnya.
“Kenapa harus begitu sih?”
Well, kenapa tidak?
Secara teknis aku sadar bahwa hari ulang tahun merupakan pertanda satu tahun lagi waktu wara-wiriku di dunia ini sudah habis.
Momen ulang tahun sepatutnya diisi dengan koreksi diri dan rasa syukur, aku paham betul esensinya.
Kemudian bukan maksud berfoya, tetapi aku memilih menjalani hari ulang tahun dengan perayaan, sekecil apapun bentuknya.
Memperingati hari lahir adalah wujud merayakan keberadaan kita di dunia.
Hari ulang tahunku selalu mengingatkan aku kepada cerita perjuangan Mama melawan maut untuk memberikanku kehidupan.
12 Oktober 1988 dulu itu, Mama harus dioperasi berjam-jam untuk mengeluarkan aku dari perutnya.
Mungkin sejak masih janin, aku sudah menolak duduk diam sehingga terbelit plasenta di dalam perut Mama.
Setelah melahirkan aku, Mama diwanti-wanti untuk tidak boleh mempunyai anak lagi karena dapat membahayakan keselamatan Mama nantinya.
Tetapi Allah berbicara lain.
3 tahun kemudian, Mama melahirkan Dede, ajaibnya dengan cara normal tanpa operasi.
Keputusan Yang Maha Kuasa untuk memilihku menjadi salah satu ciptaan-Nya menurutku sangat patut dirayakan. Lalu kenapa tidak berbahagia dan merayakannya setiap tahun?
Secara sentimentil, karena aku menganggap hari ulang tahun adalah momen yang penting, maka aku berasumsi bahwa orang lain pun merasakan hal yang sama.
Dulu, ketika binder dan orgi masih menjadi benda paling hits bagi kaum hawa, aku mencatat tanggal ulang tahun teman-temanku di halaman kalender kertas binderku yang terhias gambar-gambar lucu berwarna-warni.
Hingga SMP, kertas binderku penuh dengan tanggal ulang tahun teman-teman terdekatku.
Perayaan penuh dengan momen-momen jahil kecil, siraman air, tepung dan telur.
Klasik.
Beranjak SMA, aku semakin canggih.
Meskipun jejaring ulang tahun-ku meluas tidak hanya sekedar teman dekat saja, aku mulai bisa menghapal tanggal-tanggal bersejarah itu di dalam kepalaku.
I could say goodbye to my binder.
Proses menghapal tersebut dibantu oleh banyak hal.
Pertama, mulai maraknya trend baru dalam merayakan ulang tahun pacar atau sahabat, yaitu membuat scrapbook atau video yang berisi kumpulan ucapan selamat ulang tahun dari teman satu sekolah dan diberikan sebagai hadiah.
Kemudian bagi kamu yang aktif dalam organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, pasti teman-temanmu itu sedikitnya mengucapkan selamat ulang tahun di mading sekretariat atau menciptakan momen kecil di tengah rapat, latihan rutin atau inisiasi.
Lalu menjelang akhir kelas dua hingga kelas tiga, marak pesta perayaan ulang tahun ke-17 di rumah makan, hampir setiap malam Minggu. Sehingga hampir setiap minggu juga terjadi kehebohan ritual pencarian hadiah ulang tahun, baju sesuai dress code, sampai tebengan pergi dan pulang dari tempat pesta (untung waktu itu punya pacar, jadi untuk yang ini, ga perlu terlalu ribet #EH #colongandikit).
Hal-hal tersebut membuat tanggal ulang tahun teman-temanku akan berhembus dan menjadi desas-desus jauh sebelum hari H, sehingga aku dengan mudah dapat mengingatnya.
Pada masa-masa itu, aku semakin menganggap serius momen ulang tahun.
Dan semakin niat menggarap persiapan perayaannya.
Bagiku, memberikan ucapan selamat ulang tahun saja tidak cukup saat itu.
Sebisa mungkin, aku akan memberikan hadiah. Sekecil apapun.
Untuk sahabat terdekatku, aku pasti mengusahakan memberikan hadiah yang kubuat dengan tanganku sendiri.
Untuk teman-temanku yang lain, akan kuusahakan hadiah dengan warna kesukaan mereka, atau mengandung hal-hal yang berkaitan dengan kesukaan mereka seperti kartun, hobi, dan lain sebagainya.
Untuk keluarga dan pacar? Jangan ditanya!
Aku familiar dengan persiapan berminggu-minggu ditambah begadang di waktu-waktu terakhir demi terbitnya cengiran lebar di muka Mama, Papa, Dede serta pacar di hari ulang tahun mereka.
(kalau yang ini, masih sampai sekarang kulakukan....... kalau ada pacar sih.............. *menerawang*#EHlagi #colonganlagi #bukankode #sumpah #isengdoang #beneran)
Pertimbangan memilih hadiah tersebut sederhananya untuk menunjukkan perhatian kepada yang bersangkutan.
Harapanku, hadiah buatan sendiri atau yang mengandung kesukaan si penerima itu menjadi sesuatu yang intim, memberikan pesan bahwa aku mengenal dan menaruh perhatian akan pribadi mereka sebagai seorang teman secara khusus.
I wanna show that their presence are important in my life.
Semasa remaja, (well sampai sekarang juga sih), aku adalah gadis yang suka berlebihan dalam berfikir. Extraordinary-visionary, kalau kata seorang teman, sehingga aku sering terjebak di dalam pikiranku sendiri, diantara apa yang aku anggap benar.
Padahal belum tentu seperti itu keadaaanya. Belum tentu orang lain berfikir atau merasa sepertiku.
Dulu itu, tidak memberi hadiah ulang tahun atau parahnya melupakan tanggal ulang tahun temanku, kurasakan sebagai sebuah dosa yang sangat-sangat-sangaaaaaaaaaat BESAR.
Kekhilafan itu, bagiku, bisa menjadi pertanda bahwa aku tidak perhatian kepada teman.
Ulang tahun yang hanya satu hari itu tidak bisa menunggu dan tidak bisa ditunda, pikirku.
Jadi dengan patuh, aku selalu berusaha untuk mengucapkan selamat serta memberi hadiah ulang tahun tepat waktu kepada teman-temanku.
Kedisiplinan ini bahkan mengalahkan kedisiplinanku sebagai seorang siswa SMA pada waktu itu. #salahfokus.
Lalu apa jadinya kalau aku terlambat atau kelupaan mengucapkan selamat atau memberi hadiah? Aku akan merasa amat sangat tidak enak dan bahkan malu kepada temanku.
Aku sangat takut telah memberikan sebuah sinyal yang salah, bahwa temanku yang sedang berulang tahun itu tidak berarti buatku sehingga aku melupakan ulang tahunnya.
Maka jadilah aku akan ngumpet atau kucing-kucingan dengan temanku yang berulang tahun, sampai aku menemukan cara untuk menebus ‘dosa’ tersebut.
Ada sebuah kisah lucu mengenai keramatnya memberikan hadiah ulang tahun pada masa itu. Seingatku ini terjadi setelah liburan panjang sekolah saat lebaran, beberapa waktu menjelang liburan natal.
Semasa liburan tersebut, banyak teman di sekolah yang berulang tahun.
Karena sekolah libur, aku tidak bisa memberikan hadiah ulang tahun kepada mereka.
Mendekati hari masuk sekolah, aku dan pacarku waktu itu berburu hadiah ulang tahun seharian. Suatu kebetulan yang menguntungkan, bahwa pacarku kala itu memiliki visi yang serupa mengenai momen hari lahir. Berburu hadiah ulang tahun menjadi ‘hobi’ sekaligus kegiatan yang sangat kami nikmati bersama.
Ketika akhirnya kami kembali bersekolah setelah liburan lebaran yang panjang, kami datang ke sekolah sembari membawa sekantung besar penuh hadiah.
Bak Sinterklas, kami membagi-bagikan hadiah tersebut kepada yang berulang tahun pada bulan itu secara sekaligus.
Masa sekarang.
Ini rutinitasku setiap pagi setelah bangun tidur.
Aku membuka kalender di Blackberry-ku yang sudah tersinkronisasi dengan kalender di jejaring sosial Facebook.
Setiap pagi, aku akan menemukan sederetan nama temanku yang berulang tahun hari itu.
Namanya Facebook, terkadang aku akan menemukan nama-nama yang asing.
Yang rasanya tidak aku kenal.
Maka yang kulakukan selanjutnya adalah membuka profil Facebook dia yang berulang tahun hari itu.
Kutilik baik-baik halaman profilnya untuk mengetahui siapa dia.
Ternyata, kadang-kadang aku tidak kenal sama sekali.
Ternyata terkadang ternyata dia adalah teman SD, SMP, SMA yang mungkin aku lupa.
Atau ternyata mungkin aku tidak pernah tahu nama lengkapnya.
Yang selanjutnya kulakukan adalah memberikan ucapan ulang tahun kepada teman-temanku, melalui jejaring sosial twitter.
Selain karena ingin ucapan tersebut menjadi lebih personal dari sekedar deretan wall di facebook yang mungkin sudah jarang dibuka oleh yang punya, aku juga berharap bahwa ada teman-teman lain yang melihat lalu ikut memberikan ucapan.
Karena tidak semua orang yang berteman denganku ku-follow di twitter, maka aku harus mencari akun twitter temanku itu terlebih dahulu.
Harus kuakui, di masa sekarang ini aku menjadi manja.
Tidak lagi terlalu sibuk mengingat tanggal ulang tahun teman-temanku di kepala, juga tidak lagi berambisi untuk selalu memberikan hadiah ulang tahun kepada setiap orang yang aku kenal baik.
Apa yang kulakukan setiap harinya tersebut mungkin seperti sesuatu yang sepele, dan aku terdengar seperti individu yang sangat kurang kerjaan.
Tetapi, ini adalah caraku sendiri untuk menghargai orang lain, yang pernah ada di dalam hidupku.
I always believe that we are a part of something bigger.
Aku percaya ada alasan mengapa kita pernah mengenal seseorang, sekecil apapun interaksi yang pernah terjadi antara kita dan orang tersebut.
Meskipun hubungannya hanya sebatas suka berpapasan di lorong sekolah, kehadiran seseorang itu pasti punya pengaruh di dalam kehidupanku, walaupun kecil riak yang ditimbulkannya.
Maka, kenapa tidak menyisihkan waktu untuk mengingat orang tersebut satu hari saja dari 365 hari yang kita miliki sepanjang tahun.
Semua orang pasti ingin diberi perhatian, bukan?
Dari apa yang kulakukan setiap hari ini, aku jadi mengetahui kabar terbaru dari teman-temanku. Aku jadi berkesempatan untuk merefleksikan masa lalu dan belajar banyak untuk kehidupanku sendiri.
Korelasinya jauh ya?
Well, it doesn’t hurt to dig deeper
Oleh karena itu,
Selamat ulang tahun untuk kamu.
Terima kasih pernah hadir di kehidupanku,
semoga kehidupanmu selalu sukses dan diberkahi.
0 comments :
Post a Comment