Mungkin seharusnya judul tulisan ini adalah One Last Smile.
Karena dulu, rasa-rasanya aku tidak akan pernah bisa tersenyum lagi setelah peristiwa ini terjadi.
Selasa, 24 Agustus 2005.
19.15 WIB.
Aku sedang berbaring di tempat tidurku, melepas lelah sehabis pulang sekolah sambil mendengarkan lantunan lagu one last cry-nya Brian McKnight.
Aku sendirian di rumah, karena mama, papa dan adikku baru saja pergi ke rumah oma-ku.
Setengah jam aku berbaring, dan entah kenapa, lagu itu kuputar terus-menerus, berulang-ulang kali.
Terus, hingga akhirnya aku berangkat untuk mandi.
Setelah aku berpakaian, aku menjawab telepon yang berdering-dering tidak sabar sejak aku masih di dalam kamar mandi.
Ternyata yang menelepon adalah Citra, salah satu sahabatku sejak SMP. Saat itu dia memberiku kabar yang pada waktu itu rasanya benar-benar sulit diproses oleh otakku. Reaksi pertama yang muncul justru berasal dari dadaku, yang tiba-tiba terasa sakit dan berlubang.
Otakku tidak dapat memberiku kesadaran bahwa yang kudengar itu nyata :
Sahabat SMP-ku yang lain, Annisa Nadia Febrina meninggal dalam kecelakaan.
Kecelakaan motor yang mengerikan.
Nisa, biasa kami memanggilnya, dan temannya tewas terlindas oleh truk di jalanan di sekitar sekolahnya.
Aku tidak dapat mempercayai pendengaranku. Baru saja siang tadi aku dan Nisa saling berkirim SMS.
Dan hampir saja kami membuat janji untuk bertemu.
Segera setelah menutup telepon dari Citra, aku menelepon orang tuaku yang masih dalam perjalanan ke rumah oma untuk kembali dan menjemputku, kemudian mengantarku ke rumah Nisa, yang kebetulan terletak di dekat rumah omaku.
Sepanjang perjalanan aku menangis sekencang-kencangnya yang aku bisa, dan mama turut menangis karena tidak tega melihat keadaanku.
Nisa adalah satu dari 9 sahabat terbaikku dari SMP.
Ketika aku dan 8 orang sahabatku diterima di SMA yang sama, Nisa, sendirian harus berpisah sekolah dari kami.
Ini adalah peristiwa yang tidak pernah kuduga akan pernah terjadi di dalam hidupku.
Ini adalah peristiwa yang kusaksikan di televisi, di dalam novel, tapi tidak di dalam hidupku atau hidup siapapun yang aku kenal.
Aku terpukul berat. Kekuatanku untuk melaluinya dengan baik-baik saja adalah nihil.
Sesampainya di sana, ternyata jenazah Nisa masih berada di rumah sakit.
Aku bergabung dengan sahabat-sahabatku, juga dengan teman-teman yang lain.
Kami berbagi duka dan berbagi kekuatan.
Sepanjang malam itu kami hanya bisa terdiam, tapi kami sama-sama tahu apa yang kami rasakan satu sama lain.
Kami menangis, mengirimkan doa, dan tidak dipungkiri tetap berharap bahwa ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.
Jika kamu ada disana, kamu akan langsung mengerti dukaku, duka kami, dan kau akan tahu betapa istimewanya sahabatku itu.
Betapa berarti senyumnya bagi banyak orang.
Di sela-sela kucuran air mataku, aku kagum terhadap sahabatku ini, yang telah menyentuh hati begitu banyak orang yang pada malam itu hadir untuk memberikan penghormatan akhir kepadanya.
09.40 WIB.
Mobil ambulans itu datang, membawa jenazah sahabatku.
Saat itulah duniaku tiba-tiba menjadi gelap gulita.
Satu minggu berikutnya merupakan minggu terburuk dan terberat yang pernah kujalani seumur hidupku.
Aku tidak lagi bisa tersenyum, karena jika aku tersenyum, aku merasa telah mengkhianati dan tidak menghormati Nisa.
Aku tidak lagi memiliki semangat untuk melakukan apapun, karena waktu itu aku merasa hidup tidak lagi berlaku adil.
Aku tidak nafsu makan.
Aku mengirimkan pesan-pesan singkat ke ponsel Nisa yang berisikan betapa aku kehilangan dia, dan berharap dia membacanya.
Hah! Aku rasa saat itu aku hampir gila.
Setiap hari orang tuaku mengantar dan menjemputku di sekolah, karena mereka khawatir aku akan membahayakan diriku sendiri di jalanan dengan keadaanku yang tidak fokus.
Sepanjang hari aku hanya menangis dan melamun.
Guru-guru dan teman-teman di sekolah memakluminya.
Menjelang akhir minggu mengenaskan tersebut, kami bersembilan memutuskan untuk bolos sekolah dan berkumpul di rumah Citra.
Kami menangis bersama, berbagi cerita mengenai apa yang kami rasakan atas kejadian ini, dan saling memberi kekuatan.
Lagi, akulah yang paling lemah dan terpukul.
Hal ini dikarenakan menjelang akhir hidupnya, akulah yang terdekat dengannya diantara kami bersembilan.
Saat-saat itu sungguh berarti dan sangat menyenangkan bagiku dan Nisa.
Kami intim, berbagi mimpi dan perasaan kami.
Berbagi cerita mengenai aktivitas kami di siang hari, dan berbagi rincian perasaan kami di malam hari.
Aku kehilangan ceritanya, tawanya, senyumnya, nyanyiannya.
Aku tidak berkesempatan melihat Nisa-ku yang tomboy datang ke pesta ulang tahun ke tujuh belasku dengan mengenakan gaun dan sepatu berhak warna merah muda, seperti yang dijanjikannya.
Aku tidak tahan atas fakta aku sekarang sedang berkuliah dan mengejar mimpiku atas masa depan, tanpa pernah mengetahui jurusan apa yang ingin diambilnya saat kuliah nanti.
Aku bahkan tidak akan pernah bisa melihatnya memamerkan KTP pertamanya.
Setiap detik yang terjadi pada malam itu, menghantuiku selama berbulan-bulan.
Bagaimana aku menangis, sesak yang memenuhi rongga dadaku, juga jeritan dan pekikan yang bergantian terlontar tanpa bisa kutahan.
Aku ingat siapa saja yang hadir di sana, raut wajah mereka, dan apa yang kulakukan saat berinteraksi dengan mereka.
Aku juga selalu ingat, membayangkan tubuh Nisa yang katanya sudah habis hancur lebur tak bersisa, kecuali wajahnya yang tersenyum.
Aku akan selalu ingat, jengahnya merasa kehilangan, dan berusaha bergerak maju darinya dengan terengah-engah.
Tuhan memang selalu punya rencana.
Saat Dia mengirim kami bersembilan ke satu sekolah yang sama, berpisah dengan Nisa, sesungguhnya Dia mempersiapkan kami untuk kehilangan Nisa selamanya.
Ibunda Nisa yang kehilangan putri satu-satunya, mendapatkan sembilan putri baru yang senang hati berusaha untuk membahagiakan beliau.
Peristiwa berpulangnya Nisa memberikan hikmah yang luar biasa besar bagi persahabatan kecil sejak SMP ini.
Kami yang pada waktu itu mulai terpecah belah oleh kesibukan sebagai siswa baru SMA, dipersatukan kembali oleh kejadian ini.
Manis, namun terasa pahit.
Semenjak hari itu terbangun fondasi baru dari persahabatan ini yang mengikat kami secara emosional, hingga saat ini.
Meskipun kembali kami ditelan kesibukan-kesibukan kuliah kami di UI, ITB, YAI, dan IPB; kami akan selalu tahu bahwa di dalam hati kami, kami selalu peduli satu sama lain.
Kami tumbuh bersama menjadi sahabat yang akan selalu ada apabila dibutuhkan.
Sahabat yang tidak perlu banyak bicara,
Atau bertemu setiap saat, tetapi kami menyayangi satu sama lain, dan bermimpi untuk memiliki kesuksesan bersama.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.
24 Agustus 2011 yang lalu, genap 7 tahun Nisa meninggalkan kami, dan baru dua tahun yang lalu aku akhirnya memiliki ketegaran untuk mendengarkan lantunan lagu One Last Crytanpa menitikkan air mata lagi.
4 Februari 2012 nanti, seharusnya menjadi ulang tahunnya yang ke-23.
Tapi kami tidak lagi bertanya-tanya apa yang akan diinginkan almarhum untuk hadiah ulang tahunnya.
Kami tahu Nisa akan selalu ingin sahabat-sahabat kecilnya ini untuk selalu menopang satu sama lain, dan menjadi putri-putri terbaik bagi bundanya. :)
in memoriam of Annisa Nadia Febrina
in memoriam of Annisa Nadia Febrina

0 comments :
Post a Comment