Galau bukan lagi bingung mau kemana saat malam minggu atau liburan.
Galau bukan lagi kesal karena tiba-tiba sudah tanggal tua atau hari Senin tiba.
Galau bukan lagi gelisah menunggu panggilan kerja, atau gondok karena hasrat sekedar ingin belanja baju atau gadget baru tak terpenuhi.
Galau bukan lagi sakit karena kepo timeline mantan, atau sedih tidak berpasangan.
Sekarang..
Galau itu timbul karena memikirkan bagaimana cara untuk mencerdaskan bangsa.
Galau itu ada karena ingin menggerakkan banyak orang untuk memajukan pendidikan negara secara bersama.
Galau itu....
Menganalisa kepantasan dan kesanggupan diri akan menjadi seorang role model.
Berat ya? Mungkin terdengar muluk juga.
Tapi sungguh nyata ini terjadi.
Dan aku yakin galau baru ini terselip juga di setiap hati 51 Pengajar Muda V lainnya, teman-teman seperjuanganku.
Saat pertama kali memasuki camp Pelatihan Intensif Pengajar Muda V di Wisma Handayani, Fatmawati, Jakarta pada tanggal 10 September lalu, banyak hal terasa kabur.
Aku masuk sebagai gelas kosong.
Tidak tahu benar akan melakukan apa selama 16 bulan ke depan,
Tidak punya ekspektasi apapun akan apa yang mungkin terjadi selama 2 bulan pelatihan,
Tidak benar-benar tahu apa yang diharapkan oleh gerakan ini terhadap diriku.
Aku sengaja tidak ingin banyak bertanya, tidak ingin banyak tahu, karena aku ingin mengalaminya semua sendiri.
Apa yang kuketahui, aku ada di sana benar-benar siap memberikan diriku 100%, untuk belajar dan diajari memberi dan mengabdi.
Siap. Tanpa ingin mengeluh, menuntut, atau punya kepentingan lainnya.
Siap mengikuti apapun yang diarahkan dan diberikan tanpa banyak bertanya.
Siap, bukan berarti tanpa kekhawatiran.
Gunung khawatir itu besar, banyak bentuknya pula.
Nanti kamu akan tahu kenapa aku rasa khawatir. Dan seperti apa khawatir itu.
Semua dari kita punya alasan masing-masing kenapa berada di ruangan itu hari itu.
Hari pertama kami bertatap muka pertama kalinya,
Saling menatap wajah-wajah baru yang akan menjadi rekan seperjuangan bersama.
Alasannya? berbeda-beda macamnya.
Yang pasti, bukan alasan yang sepele.
Saat hari itu kami ditanya, jawaban kami beragam sekali.
Ada yang murni ingin memberi, dan ada yang mengakui mengharapkan sesuatu.
Tapi, coba tanyakan pertanyaan dasar itu kepada kami sekarang.
‘Apa motivasi kalian menjadi Pengajar Muda?”
Kuperhatikan reaksi normal sebagian besar diantara kami adalah nyengir, atau tersenyum simpul, saling berpandangan cukup lama, baru menjawab.
Mengapa demikian?
Mungkin kami akhirnya sadar, berada disini adalah murni panggilan hati.
Kami dipanggil. Kami terpanggil.
Sehingga, motivasi nyata tak lagi dapat dijelaskan dengan kata-kata yang tepat.
Kami hanya tahu bahwa kami ingin disini, bahwa disini memang tempat kami.
Ingatkah akan gunung khawatir itu?
Kaki gunungnya adalah rasa minder.
Kaki-kaki itu pertama terbentuk ketika hari itu aku, dan mungkin yang lainnya juga, melihat ke sekeliling ruangan dimana kami dikumpulkan.
Menatap satu persatu sosok-sosok luar biasa, yang kiprahnya bisa kau baca di buku panduan pelatihan.
Ya, buku panduan pelatihan yang memuat profil masing-masing calon Pengajar Muda ini.
Subhanallah, mereka bukanlah orang-orang sembarangan.
Prestasi, akademik maupun non akademik, secara karya dan kemanusiaan, semuanya patut mendapatkan standing ovation.
Rasa-rasanya gamang.
Bingung, kenapa aku bisa terpilih hadir disini.
Khawatir, karena merasa diriku bukan apa-apa bila dibandingkan setiap sosok lain yang ada disitu hari itu.
Ini lucu sekali.
Belakangan aku tahu, perasaan yang menyesaki dadaku hari itu dirasakan juga oleh setiap temanku yang hadir di ruangan itu.
Belakangan aku sering sekali membaca ulang profil mereka di waktu-waktu tertentu saat pelatihan, dan berdecak kagum campur geli, melihat bahwa mereka semua, sosok hebat di dalam buku itu, juga sebenarnya hanya manusia biasa yang memiliki keseharian yang sama dengan diriku.
Kekhawatiran itu makin-makin berkembang, saat mulailah sering disebut-sebut sebuah kata keramat bagi Pengajar Muda: role model.
Siapkah aku menjadi seorang role model?
Sudah pantaskah aku menjadi sosok yang akan digugu dan ditiru?
Siapa-kah aku, sehingga mendapat kesempatan menjadi seorang yang ucapannya akan dapat begitu didengar di pelosok nusantara?
Yang bisa-bisa setiap ucapannya dapat menjadi fatwa.
Yang bisa-bisa mendapat kehormatan menamai bayi mereka, atau tiba-tiba dicari warga untuk mengobati keluarganya dan dimintai jimat keberuntungan.
Siap-kah aku?
Menjadi sosok yang tidur siangnya menjadi pembicaraan satu kampung.
Diidamkan, sehingga tetiba bisa saja ada lamaran pernikahan masuk ke dalam rumah, tak peduli, misalnya aku ini pun laki-laki, dan wanita datang pula melamarku.
Sanggupkah aku.....
Menyimpan mimpi dalam benak setiap anak yang kutemui, dan menyiram hausnya mereka akan pengetahuan?
Sanggupkah aku untuk setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi.
Setahun belajar, seumur hidup diinspirasi?
Beranikah aku?
Menyandang gelar Pengajar Muda, dan mempertanggungjawabkannya seumur aku hidup?
Apabila dilihat daftar kompetensi yang diharapkan dipunyai oleh seorang Pengajar Muda, kamu akan menganggapnya sebagai seorang sosok yang sempurna.
Mana ada diantara kita yang sempurna?
Sejatinya manusia punya banyak kekurangan.
Apalagi aku, pun begitu.
Belum lagi pasti ada cacat, salah, bodoh-bodoh masa muda yang kulakukan, yang lalu, yang membuat seorang aku tak patut dicontoh.
Bagaimana tidak minder, dituntut menjadi sempurna?
Baru setelah menjalani 2 bulan pelatihan ini aku tahu, kita tidak pernah dituntut untuk menjadi sempurna.
Kami ditempa untuk menjadi sosok terbaik, versi terbaik dari diri kami.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa setiap individu yang berada di tempat pelatihan ini pernah menjadi pemimpin yang cukup mumpuni diluar sana.
Katakanlah kami-kami ini sudah selesai memimpin (lebih seringnya) di lini terdepan di kehidupan kami masing-masing sebelumnya.
Lalu sekarang, memimpin siapa?
Pertanyaan bagus. Memimpin siapa?
Memimpin diri sendiri.
Akhirnya, kembali memimpin diri sendiri.
Menggali dan memoles kembali endapan-endapan karakteristik terbaik kami yang mungkin, sempat tertimbun oleh tanggung jawab, tergerus oleh waktu, terpapas oleh ego sewaktu kami ini memegang kendali penuh kepemimpinan.
Mengingatkan kembali, apa-apa yang sudah kami lupa.
Memupuk idealisme, membangun motivasi diri.
Merasakan kembali apa itu sensitif, inisiatif, adaptif.
Paling penting, melaksanakan pengelolaan diri.
Kelihatannya jauh lebih mudah?
Terbiasa mengurus orang banyak, lalu saat ini hanya perlu memimpin satu orang, diri sendiri?
Salah. Memimpin diri sendiri jauh lebih sulit. Jelimet.
Memimpin diri sendiri berarti jauh-jauh dari permisif.
Memimpin diri sendiri berarti menjadi benar-benar jujur terhadap diri sendiri, apalagi orang lain.
Memimpin diri sendiri, wujud tanggung jawab seutuh-utuhnya.
Se-andragoginya, memimpin diri sendiri membutuhkan kesadaran diri yang luar biasa.
Ini, ada satu lagi konsep kepemimpinan yang kita sering lupa.
Di depan, di samping, di belakang.
Satu ruangan persegi panjang seadanya ini pastinya akan runtuh apabila terdapat 52 orang ysng berdesakkan berebut untuk berdiri di depan.
Lalu, kita semua yang terbiasa berdiri di depan, kemudian perlahan-lahan mengingat kembali ada posisi kepemimpinan lain yang harus diisi.
Ing ngarso… sung tulada,
ing madya.. mangun karso,
tutwuri… andayani.
Pelan-pelan, sedikit demi sedikit, kita pun akhirnya mencoba menguasai ketiga posisi kepemimpinan tersebut secara bersama-sama.
Kita akhirnya dibiasakan menjadi rendah hati, meredam ego yang ingin selalu menjadi yang terdepan.
Bukan jalan sendiri-sendiri di depan,
Tetapi berombongan, bersama, di depan , di samping, di belakang.
Berputar bagai bola salju.
Meredam ego ini bukan perkara mudah.
Melibatkan diri dalam gerakan ini berarti meninggalkan konsep ke-Aku-an ku di peraduan masing-masing.
Like Mr. Anies said; It’s not about me, it’s about them.
Berpegang pada itulah yang melapangkan jalan meninggalkan konsep pengakuan diri itu sedikit demi sedikit.
Disini itu untuk berjuang dan belajar, bukan ajang pamer kekuatan.
Disini itu untuk melunasi janji negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Usaha meninggalkan ego itu sebut saja proses transformasi.
Bercandanya, kita yang biasa jadi leader, harus siap menjadi cheerleader.
Bukan lagi superman yang membantas semua kejahatan sendirian, tetapi menjadi Professor X, motor penggerak segerombolan X-Men.
Dahulu, saat aku masih mengenakan jaket kuning kebanggaan itu,
aku aktif ikut mengelola fakultas maupun universitas dalam wadah badan eksekutif selama 3 periode masa kemahasiswaanku.
Dalam setiap periodenya, kami memiliki jargon masing-masing yang kerap kami suarakan dalam kegiatan kami.
Dan kamu tahu?
Bersyukur sekali, setiap jargon itu aku rasakan aplikasi lebih nyatanya lagi saat ini.
Pengajar Muda itu... belajar, bergerak, bersama.
Pengajar Muda itu.. MEMBARA! merangkul, membangun, bersama.
Pengajar Muda itu... progresif-inklusif.
:')
Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.
Ayo kamu, yang masih duduk di bangku kuliah.
Cepat selesaikan tugas akhirmu, dan susul kami.
Ayo kamu, yang telah lulus, namun masih ragu.
Jangan dulu sibuk mempertanyakan apa yang akan kamu dapat nanti.
Karena sungguh, yang akan kamu peroleh, akan jauh melebihi ekspektasimu.
Ayo kamu...
Berhenti mengecam kegelapan, nyalakanlah lilin.
Aku juga pernah ada disitu.
Berbekal kekuasaan tingkat fakultas dan tingkat universitas, berusaha membuat perubahan dengan mulutku.
Tapi kini, kamu bisa berbuah nyata dengan tanganmu.
Kamu bisa menyentuh hati mereka yang kamu bela dengan sebenarnya.
Sudah cukup memetakan kegelapan yang jelas terhampar.
Ayo keluarkan senter dari kantongmu, lalu terangi perjalananmu.
Jangan berani bilang ini pengorbanan.
Pengorbanan apa? Ini kehormatan.
Kebanggaan.
Ini tanggung jawab besar, karena kamu dipercaya secara besar.
Untuk kamu yang pragmatis, sebut saja ini investasi.
Kamu bukan mengorbankan kehidupanmu selama satu tahun.
Tapi sesungguhnya kamu sedang mempersiapkan amunisi,
melakukan akselerasi untuk kiprahmu di tahun-tahun berikutnya.
Awalnya 6.845 pendaftar,
terpilih 52 pejuang,
dan akhirnya kau akan berjuang sendirian.
Bismillah, aku siap.
Aku siap menebarkan optimisme.
Aku siap menebarkan optimisme.
Galau, refleksi akhir untuk 14 bulan yang Insya Allah menakjubkan.
Subhanallah, bergetar membacanya, mbak Aida...
ReplyDeletesemoga semangatnya menular ke An, yah... :D
An ingin menjadi guru yang baik dan inspiratif, mengikuti jejak semua guru yang berkarakter seperti itu..
Itu cita-cita An :D
Terima kasih ya sudah mampir dan membaca blogku, aku terharu dengan respon kamu :)
ReplyDeletekamu tahu blogku darimana?
amin amin semoga kita dapat menjadi guru yang baik dan inspiratif ya.
semoga amanah ini terjalani dengan baik.
salam kenal,
Anneke Puspa Calliandra