Dejavu.
Kita pasti cukup familiar dengan kata ini.
Kata yang paling unik, untuk menjelaskan fenomena tak terjelaskan yang sering kita alami.
Tak bisa dikira kapan datangnya.
Tak bisa dipapar proses dan efeknya.
Si dejavu ini biasanya identik dengan peristiwa bukan?
Saat kamu merasa sedang mengalami pengulangan suatu kondisi tertentu.
Aku, menemukan sebuah konsep dejavu yang baru.
Bukan peristiwa, tetapi sosok.
Konsep dejavu versi baru ini kutemukan pertama kali.... kira-kira di minggu kedua kujalani pelatihan intensif untuk 14 bulan baru dari seumur hidupku.
Dalam pelatihan tersebut aku bertemu 51 rekan baru yang luar biasa, dan sekitar 7 orang pembimbing yang rutin kutemui setiap hari. Setiap hari, disertai berbelas jamnya interaksi bersama.
Aneh, tapi nyata.
Sosok sosok ini, beserta gerak geriknya, geliat dan logatnya... aku rasa sudah pernah kutemui.
Setiap individunya, setiap sisi-sisinya.
Rasa-rasanya bertemu dengan setiap individu ini membangkitkan memori yang terendap di ujung gumpalan otak-ku.
Memori itu berteriak-teriak bahwa manusia-manusia ini sudah kukenal lama.
Manusia-manusia ini... sejak dulu sudah kutahu akan kutemui.
Konsep baru dejavu ini membuat amygdala-ku bergejolak dan beriak-riak rasanya.
Fenomena ini lebih sulit lagi dijelaskan, menurutku.
Saat ini, perjalanan 14 bulan luar biasa ini sudah dimulai.
Nah, iya! Tepat sekali.
Aku bertemu lagi sosok-sosok yang membangkitkan aura dejavu itu .
Sebagian muridku.
Kepala desaku dan istrinya.
Keluarga angkatku.
Ibu kantinku.
Rekan-rekan Guru-ku, dan Kepala Sekolahku.
Lucu............................
Sebut saja ini lucu. Atau mengharu biru.
Si dejavu ini tidak membiarkan aku tinggal hanyaaaa dengan perasaan menebak-nebak kapan dan dimana aku pernah bermimpi, sehingga merasa telah mengenal semua sosok ini sejak lama.
Disisipkan pula disini, di ujung hatiku perasaan terikat.
Keterikatan besar.
Tahu ujungnya?
Saat berpisah, meninggalkan 51 rekan seperjuangan dan 7 pembimbing setiaku di Soekarno-Hatta lalu, dimana aku tahu 14 bulan lagi kami akan bertemu kembali bersama-sama saja.............. rasanya sudah menyayat dan teriris-iris. Kebersamaan 2 bulan penuh, berdampak seperti itu.
Sekarang?
Empat belas bulan.
Ujungnya aku tahu, 5 Januari 2014.
Kondisi hatiku di ujung itu... yang tidak aku tahu.
Pasti perih.
Pasti......................
ah.
Hallo, dejavu.
Terasa familiar, sudah lama, dan terikat.
Kesimpulanku... dejavu ini menandakan bahwa takdirku memang disini.
Rencana Tuhan, memang begini.
Pertemukan aku dengan 51 + 7 + segudang sosok baru ini.
Dimana hasilnya, satu saja.
Aku yang baru, terisi saripati tak terhingga dari sosok-sosok dejavu ini.
I Choreograph My Life, and Dance it in Your Mind.
When it’s meant to be, it’s dejavu!
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
Author
@calliandr_a
Archives
Popular Posts
-
Tulisan ini menceritakan tentang enam anak manusia beda kasta, masa lalu, dan ukuran badan yang dipaksa keadaan untuk tidak hanya bers...
-
Rasanya sudah berdekade aku tidak didera gelisah semacam ini. Dulu mungkin ini aku namai rindu. Ini masa yang baru. Saat aku tidak tahu l...
-
Saya baru saja membaca sebuah cerita di dalam Madre karya Dee Lestari yang berjudul Menunggu Layang-layang. Cerita ini mengenai seorang p...
-
People say that growing up can wait. I used to believe it. But well then, apparently it cannot wait. at all. Rasa-rasanya, baru se...
-
"persahabatan itu sebuah proses kompromi." We meet each and everyday. But you are not really there, and I'm also not ther...
-
Sabtu, 25 November 2017. Merayakan Hari Guru di tahun 2017 dengan pulang ke SD Negeri 16 Kutamakmur, Aceh Utara, tempat saya pernah ...
-
30 Desember 2008. Malam yang sama, Saat perbincangan melelahkan itu berlangsung Di ampar bangunan yang kutempati secara tidak per...
-
Hari ini adalah ulang tahun Papa ke-54! Untuk pertama kalinya selama 24 tahun, aku tidak ada di rumah untuk menyelipkan hadiah kejutan at...
-
Ini adalah sebuah kisah abu-abu yang akan selalui menghantuiku, entah sampai kapan. Ya, abu-abu. Bukan merah jambu yang penuh cinta, Ata...
-
Menjadi Kepala Departemen Seni dan Budaya, berhenti dari BEM, atau mencoba posisi lain? Tulisan ini dulu dibuat di tengah kegalauan...
Calliandra. Powered by Blogger.
0 comments :
Post a Comment