Ini Namanya Sakit


Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Suatu kekuatan akan runtuh apabila dicerai-berai.
Tapi apa namanya kalau satu kompi penuh berisi 52 kekuatan luar biasa, tetiba dicabut hanya 2 komponennya?
Ini, namanya sakit.
Ini namanya... patah tulang.

Perih.

Kamis, 18 Oktober 2012, kira-kira pukul 21.00 WIB.
Di dalam satu ruangan persegi panjang yang biasa menaungi kepala-kepala yang haus serapan ilmu dan motivasi baru setiap harinya, kami ber-50 duduk dengan cemas.

Hening.
Malam itu, kami baru menyelesaikan sesi motivasi kepemimpinan dari CEO Indosat secara langsung.
Kesempatan langka, bertatap muka dengan CEO kaliber internasional, yang serta merta, suka-suka berbagi pengalaman hidupnya yang berharga.
Namun, jujur fokus kami malam itu tidak sepenuhnya ada disana.
Kami gelisah, merasakan aura yang menggelitik tidak menyenangkan dari sore hari.

Hari itu kami rasa cukup spesial.
Di camp kami yang biasa sepi, biasanya hanya ada satu dua mobil saja parkir di sekretariat.
Tapi, malam itu berparkir cukup banyak kendaraan.
Ternyata malam itu kami kedatangan Pak Anies.
Ternyata malam itu, Pak Hikmat pun turut hadir.

Kedatangan mereka ternyata tidak serta merta hanya mengantar CEO Indosat bertatap muka dengan kami.
Kedatangan mereka mengantar kabar yang memukul di muka dan di punggung kami pada saat bersamaan.

Dua diantara kami terpaksa tidak akan diberangkatkan, karena alasan kesehatan yang tidak memungkinkan.
Dua diantara kami, harus meninggalkan cita-cita dan hasrat pengabdian itu, disini.
Dua diantara kami, harus kami tinggalkan.
Plak!
Ini namanya tamparan, sakit.

Minggu keenam pelatihan.
Enam minggu bukan waktu yang sebentar.
Bayangkan.
Enam minggu bersama-sama, 24 jam bercanda, berbaring, duduk, berdiri, memamah, menyimak... 
Menyimak cita-cita satu sama lain.
Menyimak gerik gerik yang tak lagi ditata secara dibuat-buat.

24 jam berproses bersama setiap harinya.

Enam minggu dari delapan minggu adalah tinggal menunggu penyelesaian tingkat akhir.
Sela-sela anyaman dari 52 warna sudah terjalin begitu kuatnya.
Saat aku, kamu, kita sudah saling hapal bau, mimik wajah, bahkan derajat kemiringan belahan rambut barumu.
Enam minggu membangun satu cita, satu asa, berdasar pengabdian.
Enam minggu sama-sama yakin, setelah minggu depan kembali diterjun ke dalam hutan bersama sosok-sosok berseragam hijau, 52 kita akan tertawa bersama di Jakarta di minggu terakhir.
52 kita akan berpeluk dan menangis bersama di Soekarno-Hatta 3 November mendatang.

Ini namanya sakit.
Saat kita sudah berpelukan erat, saling mengenggam mendekati akhir, tiba-tiba 20 jari-jemari yang siap membangun negeri ini ditarik dari 50 pasang mata yang hanya bisa menatap nanar.
Nanar tidak percaya.

Reaksi apa yang wajar timbul karena merasa sakit?
Tangis.
Kalau kau malam itu ada disana, kau akan menangis.
Kalau kau malam itu terbawa menangis, kau akan merasakan perihnya yang kami rasa.
Getir.

Malam itu, diantara kami yang mungkin sebelumnya bahkan tidak tahu rasa sakit itu apa, pun akhirnya menangis juga.
Histeris.
Kami berpelukan, menyesal, sedih, gemas, kesal, marah, tidak rela, perih, merasa perih selama berjam-jam.

Emosional.
Berkali-kali kami mencoba menyanyi untuk menimbulkan senyum, menabahkan hati.. tapi akhirnya dengan mudah kami jatuh menangis sekali lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Oh. Ada juga sosok diantara kami yang saking terkejut, tak bisa bicara, tak bisa ikut menangis, hanya duduk diam, bengong di pojokan.

Lelaaaah sekali rasanya malam itu. Banjir yang tak kunjung usai.

Setelah entah berapa lagu, akhirnya banjir airmata itu mulai surut.
Nafas-nafas mulai teratur kembali.
Kami akhirnya bisa mulai tersenyum dan menyanyikan lagu kami ini sambil berpegangan tangan menahan haru.

Kau temanku, ku temanmu, kita selalu bersama..
Seperti mentega dengan roti.
Ku kan slalu menjagamu,
Mendorongmu terus maju...
Dan bila kau jatuh, aku akan selalu menopangmu.
Kau temanku, ku temanmu, kita selalu bersama...
Seperti mentega, dengan roti.

Pikiran-pikiran kami mulai kembali jernih.
Kami sadar ini bukan akhir, hanya merupakan awal yang baru.
Dua dari kami ini bukan terhenti perjuangannya.
Hanya mungkin, berbeda ranah.
Berbeda cara.
Pada mulanya kami mungkin hanya tersebar di 7 kabupaten se-nusantara untuk berusaha membangun negeri, mencerdaskan bangsa.
Tapi hey! Sekarang kami merambah 2 ranah baru.
Memperluas jejaring dan kekuatan kita ternyata.


Malam itu, juragan Betawi PM V yang biasanya sangat fasih menciptakan pantun-pantun padat berisi pun hanya sanggup mengeluarkan sebaris ini saja:
Minum air dari kendi.
RR dan Andi.


RR dan Andi ini tidak akan berhenti berjuang, bersama kami.
RR dan Andi ini, akan selau ada di hati kami, para Pengajar Muda V yang jumlahnya akan selalu 52 orang :’)

0 comments :

Post a Comment

 
Menarikan Kata © 2012 | Designed by Rumah Dijual , in collaboration with Buy Dofollow Links! =) , Lastminutes and Ambien Side Effects