Kelu, lalu berlalu (monolog).

Kelu, lalu berlalu.

'Aku sayang Mama' tidak pernah mudah diucapkan.
Mungkin berangkat dari gengsi.
Mungkin bermula dari rasa terlalu aman, nyaman, kemudian menggampangkan.
'yang penting perasaannya' bisik dalam hati.
'lagi pula, Mama pasti tahu kok, kalau aku memang sayang', pembenaran kemudian.

Tapi coba tengok, apa benar sayang?
atau, sayang itu menjadi.. otomatis harus ada?
Otomatis, ada saja.
Karena kodratnya, anak itu sayang kepada Ibunya.

Baik, baik. Aku tahu kamu sayang.
Lalu mana pembuktiannya?
Dengar-dengar, sewaktu kecil kamu seingin itu membuat Mama tersenyum bahagia.
Muluk.
Ingin membelikan Mama rumah, mobil, membuatkan Mama ruangan menjahit pribadi,
serta membawa Mama naik haji.
Mana?


Iya, nanti.
Kan belum.
Aku belum selesai dengan diriku sendiri.
Masih banyak yang ingin kukejar.
Masih segudang kebutuhanku, yang harus kupenuhi dulu.
Nanti, kalau sudah sukses, untuk Mama semua.

Coba dilihat.
Mama juga mungkin tidak pernah selesai dengan dirinya.
Mama juga punya banyak mimpi dan cita yang ingin dikejarnya,
tapi lalu ditundanya untuk membawa-bawa kamu selama 9 bulan.
Kemudian... dilupakannya karena beliau sudah punya mimpi yang baru.
Kamu.

Kamu, sesederhana itu.

Mimpimu, jadi mimpinya juga.
Bahagiamu, sumber bahagianya.


Lalu, kenapa bahagianya tidak bisa jadi bahagiamu juga?

Kelu, lalu berlalu.
Mungkin bahagianya bukan bahasa lain dari 'aku sayang mama' untukmu.


24 tahun, semakin tua.
Ingat, Mama juga semakin tua.
dan tampaknya, pembuktian 'aku sayang mama' itu, semakin menjauh.
Ambisi itu, semakin banyak.
Dan walau belum selesai dengan diri sendiri,
pun pergi juga untuk mengabdi.
Memaksa diri untuk selesai, dan saat pulang, pasti akan mulai kembali.
Mencoba menyelesaikan diri sendiri, yang tergantung dipaksa selesai.

Mama pasti mengerti.

Kasihan Mama, selalu harus mengerti.
Sampai kapan harus selalu mengerti?

Mengerti hormon dan gejolak muda itu.
Meledak-ledak, sehingga selalu ingin tampil.
Selalu ingin bergerak, berkarya, membuat kekaguman khalayak ramai.
Pulang larut, Mama cemas, tapi mengerti.
Hari libur tidak di rumah, Mama sedih, tapi mengerti.
Pusat dunia itu aku.
Segala ke-aku-an itu,
belum lagi perasaan paling benar sedunia.
Mama jengkel, tapi mengerti.

Jarak dari pusat dunia ke pangkuan Mama itu, semakin makin jauh.
Ketika masih pakai rok merah, dunia itu harus selalu dibagi dengan Mama.
Saat rok itu berubah menjadi rok biru, abu-abu, lalu rok mini...
dunia itu tiba-tiba berbeda dengan dunia Mama.

Mama patah hati.
Kemudian protes, dan meminta waktumu dengan baik-baik.
Kamu kesal. sebal.
Mama ga ngerti perasaan aku.
Aku capek.

Lalu begitu akhirnya setiap malam.
Lelah beraktivitas, lalu merasa jengah karena tidak dimengerti.
Tak ada lagi tidur manja di pangkuan Mama.
Tak ada lagi kecup manis sebelum tidur.
Larut malam, muka lelah, dengan langkah berat melengos masuk ke dalam kamar.

Mama menangis, tapi mengerti.

Lalu, kenapa kamu tidak bisa mengerti Mama?
Bukan mudah  melihat gadis kecilnya tumbuh dewasa meninggalkannya.
Bukan mudah, memutar otak memenuhi segala nafsu dan inginmu di masa muda itu.

Kelu, lalu berlalu.
Mungkin mengerti perasaanya bukan bahasa lain dari 'aku sayang mama' untukmu


Mengejar mimpi, terengah-engah sendirian.
Berusaha keras menjadi seseorang.
Dengan harapan cepat tercapai, lalu akan selesai.
Kemudian, dengan lapang dapat berkonsentrasi membahagiakan Mama.

Mama ditinggal, ditunda, dibiarkan sendiri sebentar.
Terbengong-bengong, bingung menatap kamu yang berlari kesana-kemari.
Tidak tahu, harus apa.

Lalu, kenapa tidak mengejar mimpi itu bersama Mama?
Ini mimpiku sendiri.
Hanya aku yang tahu bagaimana cara mencapainya.

Kelu, lalu berlalu
Mungkin kebersamaan dengan dirinya bukan bahasa lain dari 'aku sayang mama' untukmu



Mama tidak peduli dengan muka yang berjerawat itu.
Gaya rambut yang kuno pun bukan masalah untuknya.
Dalam masa kecanggungan dulu itu,
Mama setia ada mendampingi, walau tidak mau, dan tidak diminta.
Mama siap sedia membantu terbitnya kepopuleran di sekolah.
Atau paling tidak, membuatnya terlihat normal dan tidak menjadi bahan ejekan massal.

Sampai akhirnya, jati diri itu akhirnya diketemukan.
Semakin nyaman, dan bangga dengan diri sendiri.

Kemudian, suatu saat Mama muncul dengan pakaian yang tidak kekinian.
Atau berbingung-bingung tak berujung, memegang ponsel model terbaru.

Malu. Tiba-tiba malu.

Maunya.. jauh-jauh.
Maunya... jangan sampai ada yang melihat.


Kenapa malu?
Mama tidak pernah malu kepadamu.



Kelu, lalu berlalu

Mungkin menerimanya apa adanya bukan bahasa lain dari 'aku sayang mama' untukmu





Ketika Mama menunda mimpinya untukmu,
kamu menunda membuktikan rasa sayangmu untuknya.
Ketika Mama menunggu berbagi cerita dan hidupnya bersamamu,
kamu sibuk menunggu orang lain mau melakukan itu bersamamu.
Ketika Mama begadang mencoba menurunkan demammu,
kamu menggerutu ketika dititipkannya membeli obat, sepulang sekolah.
Ketika Mama cemas menunggu kabar dan kepulanganmu,
kamu sibuk tertawa-tawa, lepas, tak berbatas.
Ketika Mama sibuk mendoakan dan menangisimu,
kamu sibuk menangisi orang lain.


Aku sayang Mama.
Sesederhana itu, tetapi lidah itu selalu kelu saat mencoba mengucapannya.
Kelu, lalu berlalu.
Berlalu lagi kesempatan untuk menerimanya apa adanya, memiliki kebersamaan dengannya, mengerti perasaannya, serta membuatnya bahagia.

Berlalu terus.
Entah sampai kapan.




Ini untuk Mama :)

ditonton ya, ma.




AKU SAYANG MAMA

Selamat hari Ibu :')

0 comments :

Post a Comment

 
Menarikan Kata © 2012 | Designed by Rumah Dijual , in collaboration with Buy Dofollow Links! =) , Lastminutes and Ambien Side Effects