M. Arif

"Ibu, masuk kelas 6 ya. Ini absennya. Tapi ini ada satu murid yang tak tertulis namanya, murid pindahan, namanya M. Arif".

Itulah pertama kali aku mendengar nama itu, M. Arif.

Ketika itu Pak Agus, wali kelas 6 memintaku mengajar Bahasa Indonesia di kelas 6.

Hari-hari pertama mengajar di kelas 6, aku tidak begitu memperhatikan anak ini.

Dia duduk di kursi paling belakang, perawakannya kecil, tingkat keaktifannya pun masih kalah dengan beberapa anak lain di kelas.
Aktif dalam bergerak (alias jalan-jalan di dalam kelas atau bercanda),
maupun aktif dalam menjawab pertanyaan.


M. Arif dalam benakku baru sebatas murid pindahan yang absennya paling bawah, dan tidak boleh sampai lupa aku absen.



Konon, murid-murid SDN 16 Kutamakmur ini tidak suka mengerjakan PR.

Seorang ibu guru dan penjaga kantin bercerita padaku bahwa murid-murid disini sangat malas untuk belajar di rumah.
Sepulang sekolah, ya main.
Dan katanya, mereka sering kena hukuman karena enggan mengerjakan PR.

Katanya.

Aku pun belum sempat membuktikan validasi dari gosip tersebut.

Pada suatu hari, akhirnya aku memberikan PR kepada anak kelas 6.

PR Bahasa Indonesia.
Murid-muridku ini kuminta untuk menceritakan tentang dirinya.
Keadaan di rumah, cita-cita, kesukaan mereka, dan lain sebagainya.
Mereka juga diminta bercerita sedikit mengenai sosok seorang guru yang mereka sukai di sekolah.
Ini adalah satu cara untuk lebih mengenal anak-anak luar biasa ini.
Karena tugas mengarang tersebut cukup panjang, aku memberikan waktu 1 minggu untuk mereka menyelesaikan tugas tersebut.

2 hari kemudian, aku kembali masuk ke kelas 6.

Hari itu, kelas 6 adalah milikku.
Jam pelajaran pertama, IPA.
Anak-anak harus memahami mengenai keseimbangan ekosistem, dan apa saja tindakan manusia yang dapat mengganggu keseimbangan tersebut.

Waduh. Materi ini memuat begitu banyak istilah yang anak-anak ini belum mengerti.

Ekosistem, limbah, perburuan liar.. dan lain sebagainya.
Meski banyak belum mengerti, mereka tetap amat sangat bersemangat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan.
Tahu tidak tahu, benar tidak benar, mereka selalu berusaha menjawab semua pertanyaan tersebut.
Sampai akhirnya sedikit demi sedikit mulai diam, bukan karena menyerah menjawab semua pertanyaan itu dengan tidak tepat, tetapi tampaknya mereka mulai kebingungan memahami materi tersebut.
Sehingga akhirnya mereka lebih suka mendengar aku berbicara.

Tersisa satu anak yang paling bersuara kelas dalam terus menjawab.

M. Arif.
Akhirnya kuperhatikan, dia menjawab 80% dari pertanyaan-pertanyaanku hari itu dengan tepat.
Akhirnya, hari itu aku mulai melihat potensi lebih dari anak ini.

Setelah selesai dengan mata pelajaran IPA, aku melanjutkan mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Mengenai imbuhan me-.
Dengan didikte, anak-anak harus mencocokkan kata-kata yang diawali dengan me- ke dalam kalimat yang rumpang.
Di akhir pelajaran itu, kuperiksa hasil pekerjaan mereka satu persatu.

Tidak hanya memeriksa apakah jawaban mereka tepat atau tidak, kuperiksa juga tulisan mereka atas soal yang kudikte tadi.

Banyak anak yang masih belum tepat dalam menulis.
Mereka sering ketinggalan menulis huruf n dan dalam beberapa kata, seperti punya menjadi puya atau mengganggu menjadi mengangu.

Saat kuperiksa pekerjaan M. Arif, semua jawabannya benar.

Tulisannya rapi.
Dan walau penggunaan huruf kapitalnya masih belum tepat, dia tidak melakukan satu pun kesalahan dalam menulis.
Penasaran, kubuka-buka buku latihannya untuk melihat tulisannya yang lain.
Terbukalah halaman dimana dituliskannya PR mengarang yang kuberikan 2 hari lalu.

Dengan cukup terkejut, aku melihat PR tersebut sudah selesai dia kerjakan.
Setiap poin yang kuminta untuk diceritakan dalam tugas itu, sudah dia jawab walaupun pendek-pendek.

Dan... aku terharu.

Terdapat ini di ujung tulisan tersebut.



:')


Sore itu, aku mengadakan kegiatan ekstrakurikuler pertama sepulang sekolah.

Hari itu kami akan belajar baris berbaris, dalam kegiatan Paskibra.
Sayang sekali, hujan turun sangat besar, sehingga kami terpaksa berdiam di dalam kelas.
Di dalam kelas, aku mengajarkan anak-anak mengenai tata cara upacara dan menyanyi lagu mengheningkan cipta, karena tak ada satu pun muridku yang bisa menyanyikan lagu tersebut.

M. Arif turut hadir sore itu.

Semenjak aku melangkah masuk ke dalam kelas, dia sibuk merengek meminta nomor ponselku.
Saat kutanya kenapa, katanya agar apabila dia tidak masuk sekolah, dia dapat meminta izin langsung kepadaku melalui SMS.
"Iya, nanti Ibu kasih".
"Sekarang saja, Bu, kenapa harus nanti?"
"Iya, nanti. Kita belajar dulu ya"
Akhirnya dia berhenti merengek dan duduk.

Saat belajar di kelas tadi pagi, selain sangat aktif, M. Arif juga sangat kooperatif.

Dia duduk tenang dan memperhatikan pelajaran.
Namun tidak demikian sore itu.
Dia sibuk berlari atau berjalan-jalan di daam kelas.
Tak lupa juga mengganggu siapa saja yang berada di sekitarnya.

Aku sampai-sampai merasa sangat kesal dengan kelakukan dia sore itu.

Dia sangat sukses membuat keadaan kelas tidak kondusif.

Tidak berhenti disitu.

Sebentar-sebentar dia maju ke depan kelas dan menghampiriku.
Kembali, merengek meminta nomor ponselku.
"Nanti, Arif. Kita kan sedang belajar. Belajar dulu."
Akhirnya dia kembali duduk.
Tak lama, dia merengek lagi. Dan lagi. Bermain. Merengek. Berulang kali.
Kelakuannya sore itu membuatku menegurnya, dan hampir mengeluarkannya dari kelas, tetapi dia tidak mau.
Benar-benar, Arif sore ini sangat berbeda dengan Arif tadi pagi.

Tingkah laku dia untuk menarik perhatianku tidak berhenti disitu.

Entah darimana, tiba-tiba dia menghampiriku sambil membawa foto PM pendahuluku, Mbak Erma bersama anak-anak kelas 6 tahun ajaran sebelumnya.
"Ibu Anneke, ibu yang kemarin cantik. Ibu yang ini, kurang cantik." 
".................................."
Lalu dia melengos pergi.

Saat kegiatan sore itu akhirnya selesai, Arif menghampiriku, lagi.

"Bu, kan sudah selesai. Minta nomor HP." tagihnya sembari menyodorkan secarik kertas kumel.
Akhirnya dengan sedikit enggan aku menuliskan nomor ponselku di kertas itu.

Lalu, dia kembali berbinar.

Sinar matanya kembali ke M. Arif yang belajar IPA bersamaku tadi pagi.
Dia menghampiriku lagi untuk terakhir kalinya hari itu.
"Ibu, salam dulu. Aku mau pulang."

Setelah mencium tanganku, M. Arif akhirnya dia pulang.

Dan aku tertegun tidak sabar melihat binar-binarnya lagi esok hari.

0 comments :

Post a Comment

 
Menarikan Kata © 2012 | Designed by Rumah Dijual , in collaboration with Buy Dofollow Links! =) , Lastminutes and Ambien Side Effects