Gambar di atas merupakan bukti tersisa, kali terakhir aku berinteraksi dengan Kristo sebelum peristiwa yang mengoyak hati ini terjadi.
Namanya Kristo Baskoro.
Sedang wara-wiri sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi di kampus FISIP Universitas Indonesia sejak tahun 2010 lalu.
Awalnya tampak seperti mahasiswa biasa.
Tapi nyatanya, banyak hal luar biasa.
Awal perkenalanku dengan Kristo terjadi sekitar awal tahun 2011, tahun (seharusnya) terakhirku di kampus jingga.
Perkenalan standar, di tengah hiruk pikuk lingkaran sesama pecinta dan pejuang seni di FISIP UI.
Aku suka berlenggok centil, nari.
Kristo tampak serius, kaku, ternyata suka berakting.
Perkenalan ini difasilitasi sebuah acara pentas tari di FISIP UI, bernama GELAS TARI (GElar Apresiasi Seni Tari) FISIP UI.
Digelar pertama kali bulan April 2011 di Teater Kolam FISIP UI, sebuah pentas berjam-jam yang penuh diisi berbagai jenis tarian oleh mahasiswa/i FISIP UI tanpa jeda.
BEM FISIP UI 2011 dan Komunitas Tari FISIP UI (KTF UI) berada dibalik terlaksananya FISIP menari kala itu.
Kristo yang baik hati, sibuk membantu ini-itu untuk kesuksesan acara tersebut.
Aku kenal Kristo, karena waktu itu sebagai ketua KTF, juga menjadi ikut sok sibuk.
Kami sama-sama sibuk.
Sama-sama suka duduk di Takor (Taman Korea, kantin FISIP UI) bicara ngalor-ngidul ditemani bergelas-gelas teh manis buatan mang Ari.
Sama-sama... suka tertawa-tawa lupa waktu.
Perkenalan ini berlanjut lagi.
Lebih jauh.
Ternyata, Kristo tidak kaku.
Kristo lucu, suka melempar lelucon garing.
Kristo baik, selalu mau membantu.
Kristo rendah hati, sangat-sangat rendah hati. Apa adanya.
Berada di sekitarnya, akan selalu tertular kehangatannya.
Di kampus kuning kami, ada kompetisi seni tingkat universitas setiap menjelang akhir tahunnya.
Kristo tergerak ingin memimpin kontingen FISIP UI untuk menjuarai perhelatan bergengsi tahun 2012 itu.
Dari sekian banyak pejuang seni di FISIP UI, Kristo menjadi satu-satunya sosok yang berani maju berinisiatif.
Lalu, saat pembuktian itu tiba.
Kristo harus menghadapiku bersama beberapa teman lain, *yang sok garang*, yang dipercaya untuk menilai dan berkomentar.
Mengawal dan mendampingi idealisme seni FISIP UI, kemudian melolos-atau-tidakkan Kristo sebgai ketua kontingen.
Dengan kejujuran dan ketulusan tak terelakkan, hari itu Kristo menusuk tepat di sendi bawah sadar logika.
Kagum dan langsung percaya.
Penuh keyakinan tanpa cela, menyerahkan perjuangan ini di bawah lambaian tangannya.
Bukan.
Bukan skema perencanaan luar biasa atau presentasi membelalakkan mata yang memenangkan hati kami.
Semua disampaikan secara sederhana.
Bahkan, masih buta strategi.
Ini karena Kristo, itu saja.
Sosoknya yang gugup dan gelisah hari itu, diliputi tingginya semangat yang terpancar hebat.
Kristo bilang, dia akan menjadikan perjuangan ini prioritas utama di tahun 2012.
Kristo bilang, dia akan mengorbankan komitmen lain di luar kampus, yang nilainya lebih profesional untuk ini.
Kristo tidak perlu bilang, tetapi motivasinya berpendar-pendar kencang beraura.
Kristo anggota kelompok teater Paradoks FISIP UI.
Kristo jago akting.
Nulis.
Sering bercinta dengan puisi.
Kristo suka musik.
Suka senandungkan ERK.
Walau sedikit-sedikit serak campur fals, tapi cukup membuatnya bergoyang.
Tapi..... Kristo ga bisa nari.
Tidak tahu menahu ribetnya mengurusi kaki kapalan sehabis latihan, mengubek pasar mencari bahan kostum dan perintilan perhiasan.
Tidak tahu sulitnya menyuarakan kata dalam gerak secara konsisten, menyerasikannya dengan pukulan gendang bertubi.
Kristo juga mungkin baru tahu sedikit soal film, lukisan, dan lain-lainnya yang nanti akan diadu tanding dengan fakultas lain se-UI.
Sederhananya Kristo, Kristo sangat mau belajar.
Tidak ada sama sekali jejak angkuh khas seorang pekerja seni pada Kristo.
Yang sibuk dengan dunianya sendiri, yang merasa seninya paling asik.
Jadi begitulah, setelah didaulat sebagai Ketua Kontingen Seni FISIP UI untuk UI Art War 2012,
Kristo sibuk kesana kemari, belajar.
Berdiskusi, mencari ilham.
Menyusun strategi pengawalan terbaik, tidak sekedar untuk mengejar juara.
Tapi membangun kepedulian dan kekompakkan tersentralisasi atas suara seni FISIP UI dari dalam.
Membangun kemegahan dan kegentaran dari lawan sekitar.
Untuk itu, aku pun kembali duduk bersama Kristo di takor.
Terlibat pembicaraan kuras pikiran yang melelahkan, namun super menyenangkan.
Tidak peduli waktu yang berlari di sekitar kita.
Tidak peduli es yang mencair di dalam gelas teh manis kami.
Kami asyik berteori, menyusun strategi, asik berkhayal tentang kejayaan FISIP UI akhir tahun nanti.
Kami sama-sama senyum, berjabat tangan, berpisah dengan bahagia petang itu.
Beberapa bulan kemudian, 19 Juli 2012.
foto: Nadia Riyastika Ilyas
Di atas panggung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Aku mendapat kehormatan bermain peran, satu panggung bersama Kristo.
Malam itu adalah konser perpisahan, pamitan KTF sebelum berangkat melaju misi budaya ke Eropa kali kedua.
Konser tari, campur teater sebagai lidah penyambung.
Kristo yang baik hati, lagi-lagi membantu kami, para penari KTF.
Frame kami pendek.
Aku, si gadis melayu, Seroja berdialog sedikit dengan ayah Umar, pria yang mendamba hatiku.
Aku memberi salam, tersenyum malu dan mencium tangan ayah Umar.
Frame super pendek.
Dalam dunia teater, mungkin super sepele.
Gampang.
Tapi untuk penari yang tak terbiasa verbal berkata-kata di bawah sorotan lampu,
frame pendek tersebut mendekati mimpi buruk dari yang terburuk.
Lalu, verbal yang dikata bukan kalimat biasa.
Bahasa Melayu, dengan gerak-gerik malu-malu ala gadis melayu.
Kristo penyelamat malu.
Sangat membantu dalam proses kilat latihan.
Memberi suntikan percaya diri, dan menularkan ketenangan.
Kristo mungkin junior kampus,
tapi suhuku dalam berusaha berakting.
Malam itu, frame pendek tersebut berakhir manis.
Kami turun panggung dengan senyum lebar :D
Konser pelepasan yang luar biasa, mengawali satu bulan misi budaya yang luar biasa pula.
Sekarang, aku sedang di Tanah Rencong.
14 bulan berkutat berusaha mengajar, sejak November 2012 lalu.
November - Desember 2012.
Aku senang, bahagia.
Mendapat kabar bahwa perjuangan para kontingen seni FISIP disana berjalan lancar.
Tidak hanya karya-karya seni yang dihasilkan mencengangkan,
tapi lebih mencengangkan lagi aura kekompakkan warga jingga dalam mendukung para pejuang, tidak hanya jagoan seni, tetapi juga olahraga dan sains secara bersama.
SATU FISIP.
Disuarakan dimana-mana, bahkan kutularkan diantara teman-teman disini ;)
Kristo hebat, membanggakan. Akhirnya bisa mengerti kebutuhan semua kontingen seni FISIP, walaupun itu bukan bidangnya.
Akhirnya, bisa mencolek apatisme warga jingga terhadap kompetisi seni ini,
dan akhirnya mereka padu, gempita, membahanakan arena di setiap pertandingan.
3 Desember 2013.
Hari Senin.
Tepat sebulan aku berada di Aceh.
Di Depok sana aku tahu sedang sibuk-sibuknya gegap gempita UI Art War.
Para kontingen sedang giat berjuang.
Di sini.
Tampaknya seperti hari biasa sebelumnya.
Aku mengajar di sekolah, lalu memberi les.
Ponsel kutinggalkan berdiri di titik pencarian sinyal terbaik.
Petang pulang, kucek ponselku.
Masuk banyak pesan instan, yang isinya sama.
Kristo kecelakaan. Butuh banyak darah. Operasi. Kritis.
Informasi mengagetkan tidak masuk akal itu berlarian di dalam otak.
Tak bisa diproses jelas. Aku sibuk klarifikasi sana-sini dengan panik.
Dan ujungnya, hanya bisa menangis cengeng.
Sedih, tapi lalu bisa apa?
Hanya bisa ikut meneruskan dan menyebarluaskan kabar.
Itu saja.
Lalu nyatanya, kemudian ini bukan kecelakaan biasa.
Dengan jauhnya jarak, sulitnya sinyal, kuterima info sepotong-potong.
Kristo harus berkali-kali operasi.
Dengan biaya yang sangat besar.
Kristo koma.
Kristo tidak biasa bicara.
Kristo..... berbulan-bulan, sampai saat tulisan ini diluncur, masih terbaring di rumah sakit.
Sumber: teoremapagi.blogspot.com
Sedihnya, peristiwa ini terjadi di hampir mendekati akhir dari perjuangan Kristo sebagai pemimpin jagoan seni FISIP.
Sempat ingin mengguncang tubuhnya, menyuruhnya bangun, melihat bahwa perjuangannya berakhir manis,
FISIP UI Juara 2 UI ART WAR 2012.
Tapi ironis.
Gegap gempita itu hanya dapat bersisian dengan Kristo.
Begitu dekat, bersamaan begitu jauhnya.
Hari ini, 29 Maret 2013.
Sudah berbulan lamanya sejak kecelakaan tersebut terjadi.
Kristo masih harus mengalami beberapa kali operasi lagi.
Aku sangat cinta keluarga besar jinggaku di Depok sana.
Mereka bersatu padu, mengusahakan segala cara untuk meringankan beban Kristo dan keluarga.
Mereka selalu ada setiap hari.
Mereka selalu berdoa.
Mereka bertindak nyata, membuat acara Satu Hati untuk Kristo, peluncuran buku Teorema Pagi.
Kumpulan tulisan dari Kristo Baskoro, yang dikumpulkan oleh kakaknya.
Sumber: teoremapagi.blogspot.com
Hari ini, aku selesai membaca Teorema Pagi.
Sumber: teoremapagi.blogspot.com
Pagi telah sibuk berlari dan bernyanyi, dan kita masih saja asyik berteori.
-Kristo Baskoro-
Aku sontak menangis kejar hampir semalaman.
Terharu, karena Kristo ternyata telah menulis begitu banyak karya mengagumkan.
Aku tidak menahu.
Terharu, karena selangkah lebih dekat aku merasa dengannya.
Tapi dari jarak yang jauh.
Serimba-rimbanya ruang adalah kota, dan seramah-ramahnya ruang adalah rumah
-Kristo Baskoro-
Kristo, ini Seroja.
Masih ingat?
Gadis Melayu palsu, yang dalam latihan seringkali lupa mencium tanganmu itu.
Ini... kakakmu.
Teman duduk tukar pikiran sambil menyesapi sore di Takor.
Ini salah satu penari yang kamu suka menontonnya.
Masih ingat?
Mungkin sudah berbulan sejak terakhir kita bertemu.
Sudah lewat beberapa pekan sejak kita bertukar sapa sebentar di linimasa.
Tapi sungguh, aku disini selalu gelisah ingin tahu tentangmu.
Lucunya, aku belum pernah berusaha menyapamu disana.
Tak terfikir mengirim pesan suara.
Tak terfikir menulis untukmu.
Maka kini, kulakukan saja.
Basi, tapi.. apa kabar kamu?
Bodoh, tapi... sakit ya to?
Gimana kepalanya?
Gimana rasanya badanmu?
Maaf ya, aku tidak bisa jenguk.
Maaf ya, aku tidak bisa isi buku tamu di depan kamarmu.
Maaf ya, aku tidak bisa hadir di peluncuran Teorema Pagi.
Maaf ya :(
Maaf aku hanya bisa cengeng.
Hanya bisa nangis.
Tapi aku suka Teorema Pagimu.
Aku suka setiap aksaranya.
Aku terbawa-bawa terbang di dalam anganmu.
Lalu, aku jadi rindu.
Rindu bercanda.
Rindu melihatmu berjalan menuju takor.
Rindu berpapasan denganmu di catwalk FISIP.
Rindu tos di udara denganmu.
Rindu melihat rambut keritingmu, topimu, dan baju serba warna coklatmu.
Rindu tergelak atau tersipu karena godaanmu.
Ayo, lekas sembuh ya.
Aku pulang, kita berbincang.
Aku pulang.... kita ciptakan sesuatu lagi.
Aku mati kata.
Tidak tahu harus bilang apa.
Kamu dinanti banyak orang.
Ayo sembuh
oh ya.
Happy Good Friday, Kristo.
Informasi lebih lanjut mengenai apa yang menimpa Kristo, tentang Teorema Pagi, dan bagaimana cara memesan Teorema Pagi, bisa dilihat disini:
@TeoremaPagi







0 comments :
Post a Comment