Tulisan ini menceritakan tentang enam anak manusia beda kasta, masa lalu, dan ukuran badan yang dipaksa keadaan untuk tidak hanya bersahabat, tetapi berkeluarga (ish, ambigu) selama 14 bulan, setelah berkenalan hanya dua bulan saja.
Untuk memerkaya benak anda akan keenam tokoh dalam cerita ini, ada baiknya anda melakukan ta’aruf melalui TULISAN INI terlebih dahulu. Berbeda dengan tulisan sebelumnya yang singkat dan padat, tulisan yang satu ini sangat panjang dan mungkin membosankan, serta banyak curhat colongan. Maaf ya. Maklum, ini rangkuman pengalaman selama enam belas bulan. Jadi silahkan siapkan kopi Aceh dan timphan untuk menemani.
Selamat menikmati!
Once upon a time, in a far away land…. *suara pixy dust*
Tepatnya di ujung barat Indonesia, bertugaslah empat gadis cetar dan dua pria gonyow sebagai –katakanlah- guru sekolah dasar. Tergabung dalam The Atjehngers (Avengers di Atjeh), mereka adalah Basket-eye, Purple-widow, Iron Man, Thor, Pink Hulk, dan Captain A. Keenamnya didaulat untuk membawa perubahan positif di daerah penempatan yang memanjang di jalur Medan-Banda Aceh, dalam kurun waktu 14 bulan saja. Akankah mereka memenuhi harapan dan impian tersebut? *mendelik a la Fenny Rose* *zoom in-zoom out*
Desain: Ratih Dwiastuti
Sebelumnya mari kita berkenalan dengan mereka, in order of lokasi desa bertugas, dimulai dari yang paling –anggap saja- dekat dengan Medan ke yang paling –sebut saja- dekat dengan Banda Aceh.
Pertama kali saya aware dengan keberadaan perempuan berdarah AB ini adalah pada pembukaan pelatihan Pengajar Muda (PM) V di Wisma Handayani, Fatmawati, Jakarta. Tepatnya saat sesi perkenalan dengan Pak Anies Baswedan. “Kalau rata-rata Umur hidup seseorang di dunia adalah 63 tahun, maka saya hanya menggunakan 1/63 umur saya untuk menjadi Pengajar Muda. Jadi, kenapa tidak?” adalah kalimat yang dilontarkannya secara tegas ketika ditanya apa alasannya bergabung menjadi Pengajar Muda. Serangkai kalimat sederhana yang menohok tersebut sukses membuat saya langsung terkagum-kagum kepada perempuan yang lahir pada tanggal 17 Februari 1989 ini. Menurut saya, jawaban tersebut menunjukkan bahwa Ratih Dwiastuti adalah wanita yang tegas dan tahu apa yang dia mau. Bila divisualisasikan dengan line sticker, mungkin ekspresi saya pada waktu itu adalah seperti ini:
Kalimat tersebut juga membawa saya kepada sebuah tuduhan otomatis yang terburu-buru, yaitu oh-dia-ini-‘ukhti’-yang-pasti-ga-mau-dekat-dekat-sama-saya. Kali kedua saya memerhatikan Ratih adalah pada subuh ketika akan berangkat pelatihan fisik bersama Wanadri. “Ih, ranselnya lucu ya. Kayak bantal,” batin saya. Tetapi mukanya yang super serius binti galak dini hari itu membuat saya justru ingin melipir jauh-jauh saja dari dia.
Takdir bicara lain. Tak dinyana, di barak perempuan saya tidur berseberangan dengan Ratih. Telapak kaki kami berhadap-hadapan, hanya dipisahkan lorong selebar dua koper ukuran sedang selama kurang lebih lima minggu, namun kami berdua jarang berbicara. Ketika akhir pekan tiba, kami hampir selalu menjadi yang terakhir tidur di lorong kamar kami, berdua dalam diam. Ratih si Sarjana Teknik Komputer lulusan IT Telkom yang memancarkan aura istiqomah Islamiah dipadu sedikit kepremanan itu membuat saya segan memecahkan keheningan kaku yang mencekik kami di setiap malam Minggu. Saya benar-benar mati gaya, tidak tahu harus melempar topik apa yang pantas kepada perempuan yang tampaknya lebih suka bergaul dengan perempuan yang tidur di sebelahnya, satu kasta intelek dengannya, Ibu Dokter Lili. Sebagai penari pecicilan, saya merasa bagai butiran telur cicak yang sudah pecah bila disandingkan dengan mereka *mandi di bawah pancuran*.
Ketika nama Ratih disebut dalam tim penempatan Aceh Utara, reaksi saya yang namanya telah diumumkan pertama kali adalah………… “duh, mati gue.” Saya langsung sibuk memikirkan bagaimana cara menjaga sikap selama di penempatan, agar tidak banyak ‘dihakimi’ olehnya.
Di Aceh Utara, Ratih bertugas di Desa Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, yang dalam bahasa Indonesia berarti rumah besar. Rumah keluarga piaranya besar memang. Meski tidak seluas rumah keluarga piara Dhika, tetapi rumahnya adalah yang paling mewah di antara kami berenam. Lengkap dengan lantai keramik, komputer, printer, mushola pribadi, sinyal berlimpah dan built-in lamp a la toko buku Gramedia, kami hanya bisa berdecak ngiler dibuatnya. Ratih tinggal bersama geuchik yang sekarang sudah lengser dan istrinya. Pak geuchik merupakan tokoh masyarakat yang terkenal tidak hanya di Langkahan, tapi pesonanya menyebar ke seluruh Aceh. Luar biasa. Sungguh keluarga piara yang tepat untuk mengasuh seorang Ratih Dwiastuti.
Untuk mencapai sekolahnya, SDN 4 Langkahan yang berjarak 3 km di dusun sebelah, Ratih mengendarai motor Supra berwarna hitam-merah yang dinamainya (dan Vira) sebagai Habibi. Ish, gagal paham faedahnya apa ngasih motor nama, dan kenapa harus Habibi. Motor ini dibelinya khusus untuk mobilisasi di penempatan dari tabungan pernikahannya, sungguh sangat berdedikasi. Saat pergi dan pulang dari sekolah, sepanjang jalan Ratih sibuk membunyikan klakson sebagai tanda ramah-tamah kepada warga, dan……. lembu. Populer sekali Ratih memang di desanya.
Sebagai seorang PM yang populer, Ratih sangat tidak suka publikasi. Semua dilakukan dengan ikhlas, karena Allah semata. Definisi modest sesungguhnya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan iming-iming kantor bahwa setiap bulan akan ada satu tulisan PM yang dimuat di edukasi.kompas.com. Tapi apa daya, karena kemampuan menulisnya sangat mumpuni, dicampur niat tulus, justru EMPAT KALI sudah TULISAN RATIH dimuat di edukasi.kompas.com. Geeeelaaaaa……... Ratih yang tidak bisa menari pun telak membuat harga diri saya terinjak-injak. Dengan perlahan tapi pasti, dia sukses mengajarkan tari Gaba-gaba dengan baik kepada anak-anaknya. Bahkan….. saat ini dia sedang berkolaborasi dengan Vira dan anak-anaknya untuk membuat mash up tari Indang dan Gaba-gaba. GEEEEEEELLLAAAAAA! Sedangkan saya, tidak satu pun dari belasan tarian yang saya kuasai, berhasil saya ajarkan penuh kepada anak-anak *gantung diri*. Sungguh, Ratih adalah PM idola yang tak henti membuat saya terkagum.
Ratih adalah wanita yang konsisten, teguh berpendirian, terkadang cenderung keras kepala. Super cuek dan tidak memusingkan omongan orang lain mengenai dirinya. Pandai mengukur kemampuan dan batasan diri, kapan harus berhenti dan kapan harus berlari. Kapan harus membuat tulisan sarat inspirasi dan pesan positif, kapan harus streaming Backstreet Boys. Pengendalian dirinya patut diacungi jempol. Sangat bertanggung jawab, berinisiatif tinggi, dan memberikan lebih dari yang diminta. Pertimbangan yang rasional selalu menjadi dasar pengambilan keputusannya. Apabila sedang kesal, atau lagi pengen nyebelin, secara sadar dia bisa jadi sangat egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain, tapi dalam batas yang wajar. Terkadang pelit dan perhitungan, tetapi dalam waktu kebanyakan justru dia amat sangat loyal. Enggak sabaran, jadi saya takut belanja lama-lama atau ke salon sama dia. Pribadinya sangat lurus dan tidak neko-neko. Semuanya terencana, pada tempatnya dan selalu seimbang. Otak kanan dan kirinya seimbang, urusan dunia dan akhiratnya seimbang, bahkan saldo tabungannya pun selalu seimbang. Gengsinya setinggi menara Eiffel. Saya tahu dia sayang banget sama saya, tetapi selalu menolak bilang *kelitikin*.
Secara keseluruhan, Ratih yang saya kenal sekarang sangat jauh berbeda dari yang saya bayangkan saat pelatihan. Dia adalah anak basket yang rela beli bola basket untuk sekali-dua-kali main di lapangan saat ke kota (ini harafiah baru sekali-dua kali dia pakai itu bola). Sang gitaris otodidak handal yang rela mengirimkan gitar kesayangannya jauh-jauh dari Jakarta karena kangen. Ring tone dan wallpaper di ponsel-nya bukan tilawah atau ayat Al-Qur’an, melainkan Backstreet Boys. Punya obsesi me-mualaf-kan Backstreet Boys dan bermimpi mereka bisa tampil di pesta pernikahannya. Sebotol Good Day dan sebatang Snickers bisa mencerahkan keseluruhan harinya. Melupakan sesuatu sekecil apapun mudah membuatnya bersungut-sungut. Suka marah-marah kalau PMS, tapi itu jarang, karena siklus bulanannya ga bisa ditebak. Mirip sama jodoh. Penikmat musik R&B ketika jaman jahiliyah-nya, dan sesekali memutarnya demi nostalgia. (Saya masih di jaman jahiliyah berarti, karena masih candu musik R&B).
Ratih suka warna biru, dan karena Atjehngers sayang sama dia, kita beri dia sepasang daleman biru sebagai kado ulang tahun. Ahh… ulang tahun yang seharusnya spesial itu. Saya berdosa besar sama Ratih, dan seluruh tim. Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-24, Atjehngers ingin mendatangkan BSB sebagai kejutan. Maka bersiaplah seluruh tim dengan topeng personil BSB, siap menarikan koreografi BSB. Ketika momen kejutan tiba, saya sebagai operator salah memainkan musik. Bukan lagu BSB yang diputar, melainkan sesuatu yang berbunyi seperti gamelan Bali. Epic fail.
Saya dan Murobiah Saya
Bila dibandingkan dengan tepat setahun lalu, tingkat hubungan kami berdua sekarang sudah meningkat drastis. Ya, ga, tih? *nyender*. Dia adalah teman saya nge-galau. Soal cowok? Jodoh? Ish, bukan. Terberkatilah karena saya sehat-bugar-bahagia banget dengan kesendirian saya. Ratih? Dia lagi. Dia jauh lebih terberkati karena hampir bisa dibilang ‘mati rasa’ soal urusan menye-menye berbau romansa. Urusan percintaan bukanlah prioritas hidupnya, dan tidak akan pernah bisa menggoncangkan stabilitas hidupnya. Walau begitu, dia punya target tahun menikah. Aneh ya? Saya pun gagal paham. Mungkin urusan Aphrodite dan Cupid ini akhirnya bisa mengusiknya, apabila saat dekat tenggat waktunya, belum ada yang mengajukan proposal pernikahan kepada ayahnya *smirk* *ketok-ketok meja*. Tapi itu kecil kemungkinan, sih. Pria bodoh mana yang mau melewatkan kesempatan menjadikan perempuan luar biasa ini sebagai istri?
*colek A…………... ri?
Kami selalu dan syeeeelaaaaaluuuu menggalaukan hal-hal yang jauh lebih remeh dari pasangan hidup. Ratih galau saat Backstreet Boys konser di China (padahal dia sudah pernah menonton konser BSB di Jakarta). Saya galau mentok saat April lalu Disney on Ice 2013 membawa paket lengkap Disney Princesses ke Jakarta (padahal sejak tahun 2009, saya selalu nonton Disney on Ice tiap tahun). Ketika galau, Ratih akan melakukan hal berikut. Membuka headset (seringnya galau di depan laptop), berkata “Oh My God!” menyatukan kedua telapak tangannya, lalu menutup mulutnya, menurunkan tangannya lalu berkata, “Backstreet Boys lagi konser di China, ke. Gimana dong?” kemudian dia akan mengulum bibirnya.
Yah.. gimana eaaa tih…
Kami sering galau bersama mengenai persoalan-persoalan kampus. Ya kampus kami yang makin kesini makin canggih, PEMIRA dan regenerasi kampus, acara-acara kampus, yang begitu-begitu. Saya dan Ratih memang sesama klan gagal move on dari kampus garis keras. Namun demikian, sesungguhnya kami berasal dari kelompok yang berbeda di kampus. Kalau lingkungan Ratih adalah golongan kanan, saya berasal dari golongan tengah. Kami selalu membahas, bahwa apabila kami satu kampus, kami tidak mungkin ada di dalam satu peer group yang sama. Ratih adalah anggota HM/HIMA (Himpunan Mahasiswa) yang selalu menganggap anggota BEM itu banyak gaya dan eksploitatif, sedangkan saya adalah anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang menganggap bahwa anggota HM/HIMA itu sulit diajak kerjasama. Kami banyak menertawakan masa-masa dimana kami terbelit idealisme buku, pesta, cinta dan merindukannya pada saat yang sama.
Kegalauan terberat kami adalah ketika sahabat kami masing-masing dari SMP menikah tahun ini. Materi yang kami galaukan adalah ketidakhadiran kami di hajatan penting tersebut. Bila Ratih galau untuk menyusul sekitarnya yang satu persatu pergi menikah, dia biasanya temenan sama Vira, bukan sama saya. Kami mengurai kekusutan hati kami waktu itu dengan Skype-ing bersama sahabat-sahabat kami di venue ketika hari H. Bedanya, saya Skype-ing dengan menggunakan bridesmaid dress yang dijahit mama dan dikirim dari Bogor, sedangkan Ratih Skype-ing dengan menggunakan baju bobo.
Ratih juga merupakan partner ceng-cengan dan pelaku pem-bully saya yang paling ultima. Dari rencana pengajaran sampai ke followers Twitter bisa dijadikan bahan celaan oleh kami. Kalau sudah nyela, dia bisa bikin saya speechless dan tertawa sampai keram perut saking sampah dan mengada-ngada celaannya. Dibalik itu semua, Ratih adalah perempuan pertama dalam tim yang saya cari bila saya didera kekalutan dalam berkinerja sebagai PM. Berbagi dengannya biasanya bisa meringankan pikiran saya.
Kami bertumbuh bersama dalam hal lebih menghargai arti keluarga. Dulu, saya dan Ratih adalah anak yang sering meninggalkan rumah dan cuek saja, cenderung menyepelekan. Kami sibuk dan asyik dengan dunia kami di luar rumah, tanpa benar-benar tahu apa yang terjadi dengan keluarga yang kami tinggalkan. Hal tersebut berubah selama kami bertugas. Kami mendapat hidayah… *mata berbinar*. Sekarang, Ratih bertelepon dengan anggota keluarganya dan bertukar cerita setiap hari *berkaca-kaca*. Perhatikan saat Ratih sedang menelepon. Pasti dia akan mengulangi kalimat dan cerita yang sama di telepon minimal sebanyak dua kali. Ini dikarenakan ayah dan ibunya akan bergantian bicara di telepon, dan menanyakan hal yang kurang lebih sama. Dan saya, pasti akan teriak-teriak mengganggu, “hallo ooom….. tanteeee…….”
Ratih punya seorang keponakan yang enggak sopan banget lucunya, bernama Akino. Akino adalah anak pertama dari kakak Ratih satu-satunya, kak Etta. Lahir di bulan-bulan awal penempatan, setiap minggu ada saja foto terbaru dari Akino. Akino habis berenang, habis pijat, beli dot atau car seat baru, dan lain sebagainya. Ini merangsang beberapa Atjehngers untuk ingin segera menikah serta punya anak, dan Ratih is on the top of the list. Soon, tih, soon. Kehidupan Ratih setelah Indonesia Mengajar tampaknya sudah cerah dan jelas memang. Masih bertugas saja, dia sudah dipanggil untuk wawancara kerja. GEEEEEEELLLLLLLLLAAAAAAA…………………………
Kalau Ratih sering pusing melihat kelakuan saya yang kepo dan pecicilan, sepertinya saat bertemu muka nanti, mama-nya Akino justru akan kompak dengan saya. *lambai-lambai SKSD ke Kak Etta*
Akino dan Kolam Renang Baru
Akino dan Stroller Baru
Sebagai Hawk-eye, di dalam tim Ratih memang selalu paling jeli. Kejeliannya menggiringnya sebagai pembawa kabar apabila gaji sudah masuk *tembak konfeti*. Saking jelinya, sulit sekali mencari epic fail moment yang bisa dibahas. Kiprahnya sebagai Pengajar Muda nyaris tanpa cela. Sayangnya, dia tidak suka dipuji. Maka dengan memuji-muji prestasinya adalah cara paling menyenangkan untuk membuatnya tersiksa. Setelah membaca tulisan ini, dia pasti akan memaki saya mati-matian :3 *ngumpet di balik bahu….. siapa?
Sebuah wall mendarat di laman Facebook saya tidak lama setelah saya bergabung di grup Calon Pengajar Muda (CPM) V dan berteman dengan ke-51 CPM V lainnya di Facebook. Perempuan cantik dan mungil berdarah A ini mengomentari profile picture saya yang mengenakan baju tari Melayu, tetapi dia kira itu kostum Lenggang Nyai dari Betawi. Gapapa. Gapapa. Jangan sedih. Mungkin dia punya sedikit trauma dengan klan Melayu, sehingga alam bawah sadarnya menolak ingat hal-hal berbau Melayu.
Apapun itu, kita asumsikan saja traumanya tidak berkaitan dengan LIMA TAHUN perjuangan kuliahnya di UTM (Universiti Teknologi Malaysia). Bayangkan! Hanya dalam waktu LIMA TAHUN, gadis berhijab modis ini sudah menyabet gelar S2 di bidang IT Management, sedangkan saya yang hina ini butuh waktu 4,5 tahun untuk kelar S1. Coba bandingkan, gelar Master of Science yang menggetarkan dengan Sarjana Ilmu Administrasi (S.I.A) yang bunyi akronimnya bisa berbahaya kalau salah disebut orang Sunda menjadi sia. Bila di hadapan Ratih saya adalah butiran telur cicak pecah, maka di hadapan perempuan yang akrab dipanggil Vira ini, mungkin saya sebatas abu sisa obat nyamuk bakar. Ngenes hidup.
Meskipun sebelum masuk pelatihan saya diberi kehormatan untuk disapa terlebih dahulu oleh Vira di Facebook, perkenalan tersebut tidak berlanjut lebih dekat. Selain karena berbeda lorong tidur di barak, penampakan asli saya mungkin tidak semenarik di Facebook sehingga Vira tidak pernah menjamah saya lebih lanjut di pelatihan. Saya pun, yang sudah keburu terintimidasi melihat tampangnya yang acuh tak acuh bercampur jutek, selalu enggan memulai percakapan duluan. Maka, interaksi kami amat-sangat minim frekuensinya.
Ini sedikit berubah ketika suatu masa di pelatihan terbongkarlah bahwa Vira pernah menjalin kisah kasih di Malaysia dengan seorang CPM V lain, -sebut saja- Vino, yang kini bertugas di –kita anggap saja- Majene. Menurut kicauan burung di luar sana, mereka sudah bersama sejak jaman Vira masih bejat, belum berkerudung (saya masih bejat berarti, karena belum dapet hidayah berkerudung). Dari situ, dengan polos tanpa mengetahui lika-liku percintaan mereka sebenarnya -yang ternyata pelik-, saya jadikan fakta tersebut sebagai bahan interaksi dengan Vira. Sampai sekarang. *senyum manis*
Saat diumumkan sebagai bagian dari tim penempatan Aceh Utara, nama Elvira Soufyani Rosanty bagi saya adalah satu-satunya harapan untuk mencerahkan kehidupan 14 bulan ini. Meskipun kami tidak dekat saat pelatihan, saya merasa kami akan cocok berteman. Dan ternyata… iya, kan vir? *gelendot*.
Vira bersemayam di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan. Ayah piaranya yang seorang sekdes adalah ayah idaman. Tampan, karismatik, rajin belanja dan menyetrika. Adik piara Vira jumlahnya segambreng, setiap jenjang sekolah ada, tapi Farazi yang masih balita adalah bintangnya. Dia tampan seperti sang ayah, kurus, kecil, petakilan, dan suka melakukan hal-hal tidak terduga. Pernah suatu hari, dia tertabrak sepeda roda tiga mini hingga terjengkang, tetapi tegar dia berdiri kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Kami bukannya kasihan, malah heboh menertawakan dia. Lain hari lagi, dia secara tidak terduga menggigit sebelah bagian sakral di tubuh Vira. Ga usah dipikirin apa bagiannya.
Farazi dan Laptop Vira
Farazi Dikerudungin
Untuk sampai di sekolahnya, SDN 2 Langkahan, Vira harus berjalan kaki atau bersepeda melewati jembatan, sekitar 1,5 km ke arah jalan raya. Iya, sekolahnya benar-benar di samping jalan raya yang beraspal bagus itu. Jangan sekali-sekali meremehkan Buk Vira yang kecil ini. Seorang warga pernah dihajarnya dengan dompet karena sering menggodanya di jalanan menuju sekolah. *pasang sabuk hitam*
Vira adalah istri Ratih. Ish, ngeri ya hubungan mereka. Mengklaim suami-istri, dalam saat yang bersamaan mengaku-ngaku sebagai Ainun-nya Habibi, si motor. Absurd. Ratih dan Vira hampir setiap hari bertemu. Kok bisa? He em, bisa. Ngesot lanjut kayang lalu bersin sedikit, Vira akan sampai di desa Ratih. Hidup ga adil ya, kadang-kadang. Mereka bisa-bisanya ngerujak dan nongkrong bareng di dam, saling numpang jemur baju, sampai tega-teganya bikin mash up tarian bareng. Hubungan mereka berdua mulai membuat saya gerah. Bukaaan, bukan saya iri karena bahkan di penempatan pun saya sendirian tanpa teman kecamatan. Tapi mereka semakin hari semakin…. Hhhhhh, kelewat dempet. Ketika belum ada Habibi, mereka threesome sama Bang Ajis, si tukang ojek tebar pesona, untuk berkendara keluar desa. Sekarang, Vira enggak mau ke kota, kalau Ratih enggak pergi. Mereka punya bahasan favorit yang cuma mereka sama Allah yang paham, dari mulai illuminati sampai ke apakah lembu kalau kawin pake foreplay dulu. Jurusan mereka sama, lalu mereka melamar kerja ke perusahaan yang sama. Mereka pernah tertukar tas, sering bertukar daleman. Vira yang sebenarnya demen sama Mogu-mogu, sekarang ketularan Ratih minum Good Day setiap hari. Baru-baru ini mereka membelli capdase untuk ponselnya masing-masing dengan warna persis sama, lalu coba lihatlah wallpaper laptop mereka ini:
Wallpaper Laptop Ratih
Wallpaper Laptop Vira
Tim Langkahan
Ish, tolonglah. Awas-awas nanti mereka berakhir berbagi suami *ketok-ketok meja lagi*.
Hubungan Vira dan Ratih yang kelewat harmonis itu pernah juga digoyang gempa *smirk*. Sekembalinya dari cuti, -mungkin efek dari ketidakpastian hati yang dialaminya ketika cuti- Vira yang sebelumnya tidak pernah menulis cerita di blog PM, tetiba secara membabi buta menelurkan bukan satu, bukan dua, tetapi SEPULUH cerita PM. Geeeeeeeeellllaaaaa…. Mungkin Vira tertekan menjadi bayang-bayang prestasi Ratih di kompas.com selama ini, di mana sesungguhnya di dunia nyata, Ratihlah yang menghamba kepada Vira. Saking hinanya Ratih, suatu hari Vira pernah tetiba melempar buntelan sampah ke muka Ratih tanpa ekspresi dan rasa bersalah.
Ya, kasihan Ratih. Apabila mereka berdua berkenalan dengan stakeholder, Ratih pasti akan dipertanyakan kampusnya. Sedangkan Vira… kombinasi S2 dan Malaysia selalu sukses membuat stakeholder menggelepar kagum. Kemudian Ratih? Dikesampingkan saat itu juga. Mungkin itulah yang memotivasi Ratih menghasilkan tulisan yang menembus kompas.com empat kali, untuk menyelamatkan harga dirinya sebagai PM *adu domba*. Sekarang, mereka berdua sangat kompetitif dalam menulis. Vira menulis Seperti Pak Azhari untuk menyaingi tulisan Pak Doe-nya Ratih. Ratih sebentar lagi akan menulis mengenai muridnya dan tari Gaba-gaba karena Vira pernah menceritakan mengenai kesuksesannya membawa muridnya menari di acara peringatan hari kemerdekaan di kecamatan dalam Lalu, Menarilah Mereka… Hmpft. Suke-suke mereka deh. Mash up project tari Indang dan Gaba-gaba mungkin adalah usaha mereka untuk berdamai. *tetep dibahas* *dendam*
Semesta berkonspirasi itu, ya begini. Dulu, sebut-saja-Vino pernah melaksanakan kerja praktek di Lhokseumawe. Lalu di sinilah Vira sekarang, di sekitar Lhokseumawe. Sejak pertama kali, kedatangannya di Lhokseumawe telah dinanti serombongan besar juniornya di UTM. Mereka beneran ‘besar’…… hatinya. Saat kami kebingungan mencari tempat bermalam di Lhokseumawe, merekalah yang membawa kami ke sebuah –katakanlah- hotel, bernama Vina Vira. Vina ya, a-nya jangan diganti o. Ketika kami jengah dengan ‘hotel’ tersebut, merekalah yang mengungsikan kami di rumah salah satu kekasihnya. Ketika kami liburan produktif ke Banda Aceh, kembali salah satu juniornya menampung kami berhari-hari di rumahnya. Your Highness…. *sembah sujud*
Vira ini perfeksionis. In every way that’s possible, but in a very smooth shape. Kalau kamu sudah membaca tulisannya tentang Atjehngers, perhatikan saja. Tidak ada salah eja atau ketik. Kata yang harus ditulis tegak atau miring pun tidak luput dari radarnya. Ga heran sih, lah dia mengakui sendiri bahwa dia OCD terhadap grammar using. Ishhhh… ngewriiiii. Vira is type of woman that always try to put it together all the time. Sebenarnya perasa, tapi tidak sembarangan menunjukkan perasaannya. Bisa terlihat totally fine, tetapi sebenarnya vulnerable. Bisa kelihatan fragile, tetapi sebenarnya uber strong. Bingung ya? Tapi memang begitu. Sebelas-dua-belas dengan saya, Vira itu ga enakan. Tipe yang lebih suka mengalah dan berkorban perasaan, daripada timbul konflik. Bukan hanya tidak suka konflik, dia takut. Dia juga sangat takut orang lain tidak suka padanya. Bukan perempuan yang bisa ceplas-ceplos berbicara. Kalau sedang sebal, bisa jadi sangat sarkas dan nyinyir. Meski demikian, Vira diberkahi kesabaran yang luar biasa. Terbukti, dia sabar bertahan menyelesaikan dua jenjang pendidikan selama LIMA TAHUN di negeri orang. Vira juga selalu berhati-hati dan pelan-pelan dalam memulai hal yang baru, termasuk urusan….. hati.
Vira mungkin terlihat seperti follower yang selow di dalam tim, tetapi dia selalu bisa bergerak dengan caranya sendiri. Kalau saya suka kayang, dia mungkin suka menari Minang #eh. Gadis yang lahir pada tanggal 30 Juni 1989 ini cerdas dan berwawasan luas. Kalau ke kota, hiburannya buka website berbau pengetahuan, sejarah, konspirasi, hal-hal fenomenal, dan sebangsanya. Vira suka kerapihan dan kebersihan. Paling ga tahan sama yang kotor-kotor. Kalau di kolam ikan, dia ini ikan sapu-sapu. Kerjaannya nyapu ruangan dan nyikat kamar mandi. Bakatnya ini belum terlihat saat pelatihan, mungkin kalah pesona oleh Ratih Eka *nyengir*. Vira selalu penuh preparasi. Saat deployment ke penempatan, kopernya adalah yang paling berat hingga over weight, walaupun ukurannya kecil. Ternyata dia bawa seluruh isi lemari kosmetik dan alat kebersihannya ke tanah Sumatera, seakan disini tidak ada Suzuya. Ribet ya? Enggak. Justru Vira adalah seseorang yang cukup simpel. Selalu tahu apa yang dia butuh, dan bagaimana memenuhinya. Sadar akan konsekuensi dari setiap keputusan yang dia buat, and live it a 100%. Realistis dan berorientasi tujuan selalu tampak dalam keputusan yang diambilnya.
Vira suka mendengarkan Owl City dan Westlife, dan sedang menantikan konser Shane Filan 2014 nanti di Jakarta. Mau gambaran sedikit mengenai suasana hatinya? Coba dengarkan ring tone yang sedang dipasang di ponselnya. Mau tahu momen apa yang akhir-akhir ini cukup memberikan kesan baginya? Silahkan tengok foto yang dipasang sebagai wallpaper di Blackberry-nya. Crocs adalah sepatu kesukaan Vira. Tetapi karena dia cinta warna ungu, dia membeli sepatu ungu untuk dipakai di Orientasi Pasca Penempatan (OPP), walau bukan Crocs. Meskipun dia cinta warna ungu, secara legowo sekarang dia pakai capdase ponsel dengan warna kesukaan Ratih. *geleng-geleng*
Capdase Vira (kiri) dan Ratih (kanan)
Tunggu dulu. Vira sudah beli sepatu untuk OPP??? *WOOT*. Udah banget. Nona ini sudah sangat siap kembali ke dunia nyata. Sudah lihat foto dia di awal tulisan kan? Betapa putih bercahaya mukanya? Jangan salah. Wajah tersebut pernah belang dan menghitam dijilat matahari Aceh. Tetapi saat cuti, dia sudah melakukan perawatan di salonnya Olla Ramlan. Geeeeelllaaa. Saat ini, mukanya sudah kembali bersinar. Dia siap untuk menjalin hubungan LIMA TAHUN (sampai selamanya) yang baru. Dengan siapanya, belum tahu. Amin aja dulu.
Memang, kalau Ratih adalah yang paling siap nikah dengan segala tabungannya, maka Vira adalah yang paling kebelet. Sudah didesak juga sih oleh keluarganya. Untuk menghiburnya, Atjehngers memberikan boneka bayi berwarna ungu sebagai kado ulang tahun. Siapa tahu bisa jadi pancingan jodoh untuk Vira. Can I get an amen? AAAAMEN! Sebagai Purple-widow, sebagai janda,walau belum menikah, perempuan ini sering diserang ngidam. Kalau sudah ngidam, enggak bakal hilang kalau belum dipenuhi. Kalau sedang PMS, ngidamnya makin jadi. Seringnya dia ngidam camilan. Dan pada dasarnya, Vira memang tukang ngemil. Walau sering ngemil, dia tetap kurus. *banting WRP*
Kebiasaan ngemil ini sepertinya dibesarkan di dalam keluarganya. Kita paling senang kalau Vira menerima paket dari rumah. Sebenarnya inti paketnya hanya obat, sepatu, atau bahkan pernah sebatas kartu UNO yang diberi adiknya. Tapi ukuran paketnya tidak pernah mini, pasti minimal sebesar….. kardus Aqua? Pemanis inti paket tersebut biasanya adalah limpahan Beng-beng, Choki-coki, Marie Regal, Coffee Joy, Gery Chocolatos, dan lain sebagainya yang cukup untuk konsumsi di kamar perempuan selama satu bulan. Makasih tanteeeee….. *peluk*.
Berbeda dengan saya dan Ratih, Vira ini memang lebih anak rumahan. Sama seperti keluarga piaranya, adik kandung Vira pun jumlahnya segambreng, dan semuanya dekat dengan dia. Ada tiga adik laki-laki yang sedang bersekolah di tiga jenjang pendidikan yang berbeda. Sekarang adiknya sudah mulai punya kekasih, sehingga wajar sebagai anak pertama Vira sudah diharap-harap punya pendamping hidup *siul-siul*. Adik Vira baru saja membeli sepasang kelinci lucu untuk dipelihara di rumahnya di Pamulang. Mengikuti saran saya, kedua kelinci tersebut diberi nama Momo dan Mumu. (Wandha dan Haidhar, kalau kalian baca ini, maaf ya….. enggak maksud).
Momo dan Mumu
Vira adalah teman sejawat saya dalam menyusahkan tim. Kami berdua tidak bisa mengendarai motor. Beberapa kali kami berusaha untuk belajar mengendarai motor manual dan otomatis kepada Ratih saat ke kota, tetapi perkembangannya tidak begitu signifikan. Ketika ada tukar menukar motor dan pengendara saat perjalanan jauh, saya dan Vira adalah penumpang tetap yang bisanya hanya duduk manis. Dalam urusan hedonisme, Vira adalah partner saya. *kibas rambut*. Dia adalah partner ke salon, body massage, sampai berbagi galau apabila ada film box office yang baru rilis. Itulah, di Aceh yang memanjang dari Sabang sampai Langsa, tidak ada sebiji pun teater bioskop. Untuk menonton film, masyarakat Aceh harus pergi ke Medan yang jaraknya 12-14 jam dari banda Aceh, 6-7 jam dari Lhokseumawe *sigh*.
Saya dan Partner in Crime
Selain bertukar ratapan akan keluarnya film baru di bioskop, saya dan Vira biasanya juga bertukar keluh kesah romansa *berdehem*. Walaupun kami sehat-bugar-bahagia dengan kesendirian kami, bukan berarti kami tidak didera masalah seputar ini selama bertugas *bersemu merah*. Seperti yang sudah saya kemukakan, Vira ini tidak sembarangan menunjukkan perasaannya, bahkan kepada kami sekali pun. Tetapi saya sudah hapal gestur tubuhnya, apabila dia sedang gelisah. Biasanya, dia akan tetiba menghela napas yang pendek tetapi berat, lalu meletakkan ponselnya (yang sering menjadi sumber datangnya kegelisahan), kemudian beralih ke laptop, buku atau camilan apabila kita sedang berjalan. *peluk*
Gelar S2 yang dipikul Vira membuat kami berlima yang hanya sarjana ini memercayakan urusan keuangan tim di tangannya yang selalu presisi dan cekatan. Tidak berhenti disitu. Meskipun di dalam tim saya menjabat sebagai sekretaris, tetapi dalam setiap rapat Vira-lah yang selalu siap sedia mencatat notulensi *ongkang-ongkang kaki*. Luar biasa memang kemampuan master yang satu ini. Kalau saya dan Ratih sering merasa rindu dengan hiruk pikuk kegiatan kemahasiswaan, Vira ini lain lagi. Dia rindu menyusun karya ilmiah. GGGGGEEEEEEELLAAAAAA! Otaknya yang terbiasa menangani hal-hal kompleks sejatinya membuatnya lupa akan konsep-konsep sederhana. Seperti suatu malam saat Vira ingin membuat mie rebus. Untuk memanaskan air, dia menggunakan heater murahan yang saya beli di Suzuya *tetep*. Dengan polos, dia mencolok kabel pemanas tanpa mengisinya dengan air terlebih dahulu. Alhasil, meledaklah pemanas tersebut, dan bubuk besi-nya terbang kemana-mana *tepok jidat*. Pembelaan dirinya, “Maaf ya, kebiasaan pakai heater yang ada tombol on dan off-nya.” Baiklah, vir.
Kompetensi tingkat dunia Vira tidak berhenti di situ. Sebagai generasi 90-an, dia seharusnya malu. ternyata.... dia belum pernah menonton Sound of Music sepanjang hidupnya. Elah, vir. *jewer*
Walau saya terbiasa dengan suasana kemah dan udara dinginnya, tetapi suhu malam itu benar-benar tidak bisa saya tolerir. Kombinasi tubuh setengah membeku dengan nyeri haid yang bergejolak mengoyak rahim, membuat saya memojok murung sendirian di bawah tenda terbuka sebelum materi dengan Wanadri malam itu dimulai.
Tiba-tiba, ada sesosok tubuh tinggi besar menghampiri saya dan mengajak saya mengobrol. “Eh, kamu yang penari itu kan? Coba dong kasih lihat nari,” ucapnya sambil tersenyum ramah. Saya si gadis murahan yang banci tampil serta-merta terangsang oleh ucapan pria bermata sipit tersebut. Sontak saya menari saman di bawah tenda-tengah-hutan dengan bersemangat. Oke, saya tidak se-banci tampil itu sih sebenarnya. Saya semangat menari supaya mengusir rasa dingin yang menusuk, sekalian memuaskan tubuh saya yang sakaw karena sudah dua minggu tidak menari.
Belakangan saya tahu, pria yang akrab disapa Dhika ini menyapa saya malam itu karena kasihan melihat saya murung sendirian tanpa teman. Bukan, bukan karena dia tertarik pada saya ternyata. Asem. Murni karena dia memang baik hati, suatu kualitas paling menonjol dari pria yang meninggalkan pekerjaannya di Samsung, yang membuatnya makmur sampai gendut, untuk bergabung menjadi Pengajar Muda.
Tidak jauh berbeda dengan Vira, meskipun di awal pelatihan Dhika menyapa saya duluan, tapi ya sudah, berhenti sampai situ saja. Tidak tahu saya salah apa -atau saya memang selalu terlalu sensitif- sepanjang pelatihan saya merasa bahwa Dhika menghindari dan tidak menyukai saya, sehingga kami jarang sekali berinteraksi.
Pada awalnya, pria yang lahir pada tanggal 13 Desember 1988 ini sulit sekali saya tebak. Sebelum masuk ke pelatihan, ditilik dari timeline Twitter-nya yang penuh hadis dan berbau Islami, saya pikir dia adalah ikhwan. Mendekati tanggal dimulainya pelatihan, terlihat bahwa dia itu iseng dan sedikit rese. Pasalnya, dia suka memancing keributan di BBM group, dengan menggoda CPM lain. Di pelatihan, oh…. Dhika ini lumayan rusuh dan suka melucu ya. Dia suka bergerombol dengan kelompok pembuat rusuh, seringnya main keroyokan.
Perkenalan setipis kulit ari tersebut membuat saya tidak tahu harus berharap apa ketika mengetahui bahwa saya akan menghabiskan 14 bulan ini bersama dia. Dhika adalah satu-satunya anggota tim yang membuat saya tidak bereaksi apa-apa ketika namanya disebut saat pengumuman penempatan. Tetapi ternyata, satu tim dengannya adalah anugerah yang menyenangkan. Persis seperti yang dikatakan oleh beberapa teman PM yang dulu lebih mengenal dia daripada saya, bahwa tim Aceh Utara beruntung memiliki Dhika sebagai anggota. Cieee, kiw.
Pria yang bergolongan darah B ini bertugas di Desa Seuneubok Aceh. Desa yang dikelilingi sawah ini dijajah oleh lembu. Masya Allah, dimana-mana ada lembu. Para lembu ini memblokir jalan menuju desa tanpa dosa. Saat berkendara ke desa Dhika kita harus melipir-lipir ke sisi jalan hingga hampir terjatuh, agar tidak bertubrukkan dengan para lembu tersebut. Sabar-sabar, bersentuhan badan dengan kulit tebal mereka atau terkena kibasan ekor di wajah adalah kemungkinan yang besar terjadi. Tidak hanya merajai jalan, lembu-lembu ini juga menyerang rumah sekolah dengan tega. Kotoran mereka bisa-bisa membanjiri ruangan kelas secara massive *pukpuk Dhika*.
Sama seperti Vira, keluarga piara Dhika disini kaya akan anak. Dhika memiliki banyak adik piara. Rumahnya yang luas tidak pernah sepi dari kegaduhan, tawa dan ceceran nasi. Meskipun tidak semewah rumah Ratih, rumah keluarga Dhika memiliki keunggulannya tersendiri. Rumah ini dilengkapi dengan mesin cuci, warung mie dan kopi, lapangan voli ukuran kecil lengkap dengan jaringnya, serta seperangkat alat dugem kecil-kecilan di teras rumah. Tidak hanya gaduh dengan teriakan anak-anak sepanjang hari, warung kopi di rumahnya pun meriah dengan dentuman musik dan celotehan pemuda desa sampai pagi *pukpuk lagi*. Eh, sudah tahu kan, Dhika ini adalah Sarjana Teknik Mesin? Kita yang dibuat terkagum-kagum dengan katrol sederhana berbahan kardusnya yang dipamerkan-saat-pelatihan-tembus-ruang-belajar-lalu-menyebar-ke-penjuru-Indonesia-lewat-tayangan-di-Net-TV ini dibuat kecewa di penempatan. Pasalnya, rumah keluarga piaranya itu memiliki sumur super dalam yang harus ditimba dengan tangan kosong, dan Dhika tidak melakukan apa-apa terhadap hal tersebut. Kearifan lokal, alasannya. Katrol, dhik. Katrol.
Untuk mencapai sekolahnya, SDN 6 Paya Bakong, pria yang super-sensitif-geli kalau disentuh telapak kakinya ini harus berjalan kaki sedikit ke arah persawahan. Sekolah Dhika memang terletak berseberangan dengan hamparan luas sawah, dan bersebelahan dengan lapangan luas tempat bersemayam lembu-lembu terhormat tadi.
Pria yang berasal dari Pemalang ini sebenarnya merupakan sosok yang sangat potensial untuk berkiprah gemilang sebagai seorang Pengajar Muda. Cerdas, baik hati, penuh ide cemerlang, pandai menyesuaikan diri, dan lain-lain sebagainya. Sayang, perjalanan menuju kegemilangan tersebut harus dihambat oleh perawakannya yang menyerupai, no offense, suku China. Kenapa hal tersebut menjadi masalah? Karena tuduhan selanjutnya yang menyertai praduga tersebut adalah… Dhika tidak beragama Islam. Di Aceh Utara, hal tersebut menjadi faktor penting yang cukup membatasi ruang geraknya. Kasihan Dhika. Padahal realitanya, Dhika merupakan muslim yang baik dan taat solat lima waktu.
Tidak kalah dengan Ratih, Dhika juga membongkar celengannya di bank untuk membeli sebuah motor berwarna biru, demi lancarnya mobilisasi di penempatan. Sangat-sangat berdedikasi *prok prok*. Tidak kalah dengan Habibi, motor tanpa nama ini pun menuai banyak masalah. Saat pertama kali dibeli, mati-matian diperbaiki di bengkel sebelum bisa meluncur di jalanan. Saat sudah meluncur di jalanan, dia memancing surat tilang dari polisi. Saat menempuh perjalanan ke desa Ari yang terletak di atas bukit, dia tetiba kehabisan oli. Saat melenggang di jalanan Lhokseumawe yang aman dan beraspal, bisa-bisanya dia habis bensin tanpa terdeteksi. Habibi dan motor-Dhika ini mungkin seharusnya ditukar kepemilikan saja, sesuai warna favorit masing-masing pemiliknya.
Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, baik hati adalah kualitas paling menonjol dari pria yang pernah kerja di Samsung, tapi setia banget sama Blackberry ini. Terlalu baik, bahkan. Tipe pria yang berbahaya bagi para kaum hawa yang tidak bisa menjaga hatinya. Dhika ini perhatian kepada semua orang. Menghargai setiap orang dengan sepenuh hati. Salah-salah, para wanita dapat dengan mudah jatuh hati pada kelembutan hati dan tutur katanya, dan lebih salah lagi, dia bisa-bisa dituduh sebagai pria PHP. Ish, jahat. Jangan salahkan tower sinyal-nya, salahin sinyal receptor di ponselnya yang salah menerjemahkan gelombang.
Baik hati bukan berarti Dhika tidak bisa marah. Hanya saja, dia punya pengendalian diri luar biasa atas emosinya. Dia selalu bisa melihat dan mendahulukan kepentingan yang lebih penting daripada sekedar memuaskan ledakan emosinya. Kalau emosinya sudah betulan meledak, seram, kawan. Pemicunya berarti hal yang tidak bisa diolerir lagi. Atauuuu… mungkin saat itu Dhika baru saja selesai makan durian atau kari kambing yang mendidihkan darah tingginya. Mungkin juga, hari itu Manchester United baru saja kalah tanding secara telak. Sejalan dengan kecintaannya pada MU, Dhika suka warna merah. Atjehngers sayang banget sama dia, tetapi belum diberi kesempatan memberikan kado ulang tahun berwarna merah tahun lalu. Sebagai Pengajar Muda spesial yang merayakan ulang tahun dua kali di penempatan, pasti dhik, pasti kamu akan menerima sesuatu berwarna merah pada tanggal 13 Desember nanti *sodorin gincu*.
Tidak hanya berbadan besar, tetapi Dhika juga berjiwa dan berhati besar. Demi mengemban kehormatan selama empat belas bulan ini, Dhika meninggalkan kisah romansa lalunya, yang kini pun telah meninggalkan dirinya dengan melengkungkan janur kuning terlebih dahulu *pukpuk Dhika lagi*.
Dhika adalah cerminan anak Indonesia yang sukses dididik dengan baik melalui pelajaran PPKN. Baik hati, suka menolong, setia kawan, membuang sampah pada tempatnya, menghormati orang tua, sayang teman, rendah hati, taat peraturan, suka gotong royong, dan sebangsanya. Ini serius. Dia juga merupakan potret sempurna wajah keramah-tamahan Indonesia yang dijual dan dibanggakan di iklan Visit Indonesia dari tahun ke tahun. Kayaknya… sempurna banget ya? Salah. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dhika ini suka ngorok. Masya Allah berisiknya kalau dia sudah mendengkur. Seluruh otot di wajahnya bergerak-gerak kalau dia sudah mendengkur. Suka kentut sembarangan. Dia juga sangat pelupa. Tertinggal dan lupa meletakkan barang sudah jadi agenda harian. Yes man, artinya kalau ada sepuluh orang meminta bertemu dengannya di hari dan jam yang sama, mungkin akan dia iya-kan semua. Apabila ada ibu hamil yang terserang sakit mual dan muntah dan ngidamnya adalah melihat Dhika terjun ke jurang, mungkin akan dia penuhi, karena tujuannya baik. Kalau bicara sama Dhika, apalagi menunggu dia bercerita, keburu rambut saya tumbuh sepanjang rambut Rapunzel, dipotong sedagu dengan model bob, lalu dipanjangin lagi.
Dhika paling tidak bisa menahan lapar dan haus, kecuali saat puasa. Organ di tubuhnya serta neuron di otaknya tidak akan berfungsi maksimal kalau dia belum makan. Dhika rajin mendonorkan darah secara rutin. Mendengarkan lagu dari Nasyid dan Maher Zain sampai ke Maroon 5. Chitato atau Qtela adalah camilan kesukaannya. Masih percaya kepada kekuatan self help books, dan secara tekun membacanya. Kalau ke kota, hobi membaca segala jenis berita di koran online serta streaming berbagai jenis video, dari stand up comedy, talk show, sampai video kreatif a la malesbangetdotcom dan Bena Kribo. Selalu tertarik dengan hal baru, dan bersemangat tinggi untuk mencoba dan belajar. Suka memerhatikan kata-kata mutiara, meresapinya dan melontarkannya kembali untuk benar-benar diaplikasikan kepada kehidupannya. Konseptor sejati. Punya segudang ide cemerlang mencengangkan, tetapi terkadang kesulitan merealisasikannya.
Saya dan Koordinator Atjehngers
Dhika is my ultimate spiritual guru. Dia tempat sampah saya, yang menampung semua cerita saya, dari hal seremeh bahagianya saya setelah membeli payung berwarna pink, sampai sebesar rencana kerja PM, masalah keluarga dan hati. Dhika adalah definisi pendengar baik yang sebenar-benarnya ada. Dia sabar saja mendengarkan saya bercerita mengenai satu persatu sahabat saya dari SMP dan SMA, menaruh minat pada setiap detail cerita dan benar-benar mengingatnya saat saya selesai bercerita. Dia membuat saya nyaman mengalirkan keseluruhan lika-liku hidup saya, karena dia tidak pernah menghakimi. Semua-mua yang jadi kegundahan saya, dia pasti tahu. Kalau saya butuh suntikan semangat, saya pasti lari ke Dhika. Dia selalu bisa memberi saran yang bijaksana, tidak sekedar rasional tetapi juga memertimbangkan aspek-aspek emosional. Dhika dianugerahi pikiran yang selalu positif. Saya heran dan terkagum sendiri masih ada saja manusia yang selalu bisa melihat sisi positif dalam setiap hal, di setiap hari. Dhika juga merupakan tempat saya bertukar ide dan pikiran selama di penempatan. Kami sering merencanakan ini dan itu, dan bersama dialah tercetus proyek video Paduan Nusantara.
Naluri kebapak-an dan mengayomi Dhika memang sulit dibendung. Di keluarganya, Dhika adalah tipe anak yang tidak malu dan segan mendampingi ibunya berbelanja. Dia sangat suka dekat berinteraksi dengan anak-anak, terkadang tidak bisa menahan diri sehingga menakuti anak-anak yang dekat dengannya. Rumahnya di Bantarbolang berdekatan dengan keluarga besarnya, semacam kampung Betawi. Si Putra daerah Pemalang ini memiliki mimpi untuk memajukan daerahnya. Bersama teman satu almamater di SMP-nya, dia merintis scholarship foundation untuk adik-adik kelasnya. Bersama Ari, Dhika berobsesi menjadi Jawa Tengah satu dan dua.
Ada sebuah kisah unik mengenai keterlibatan Dhika di Indonesia Mengajar. Dhika memiliki dua sahabat dekat dari kampusnya, Universitas Diponegoro, yang sama-sama berjuang menjadi Pengajar Muda di angkatan IV dan VI. Jadi, setengah waktu penempatan pertama Dhika bertugas bersama Mas Fahmi di angkatan IV yang bertugas di Papua, dan setengah waktu penempatan terakhir dilaluinya bersama sahabatnya di angkatan VI yang bertugas di Rote Ndao.
Di dalam tim, sebagai koordinator Dhika sangat mengayomi dan akomodatif. Dia handal memosisikan sebagai penengah apabila terjadi konflik. Dengan kepribadiannya yang lucu dan menyenangkan, dia selalu sukses mencairkan suasana yang menegang. Sebagai Iron Man, Dhika sungguh berjiwa baja. Tidak hanya berani mengambil keputusan, tetapi juga selalu siap sedia menjadi tumbal, and take the blame apabila ada kesalahan yang terjadi di dalam tim.
Di balik segala bibit unggul yang berkembang subur di dalam dirinya, Dhika pernah melakukan sebuah kesalahan besar yang tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh seluruh anggota Atjehngers, sampai. Kapan. Pun. Ya. Ini berkaitan dengan gelarnya di bidang teknik mesin yang mungkin sudah luntur oleh asupan lemak dan kolesterol yang dimamahnya selama bekerja di Samsung kemarin itu. Suatu hari, kami berenam berjalan mengunjungi desa Ari yang terletak di atas bukit. Untuk mencapainya, kami harus melewati hutan dan jalanan berbatu sebesar dosa yang menanjak. Di tengah perjalanan, tetiba si motor biru kesayangan Dhika ini mati seketika. Ngambek, tidak mau nyala. Dengan pasti dan penuh percaya diri, dia bongkar ini dan itu, dia putar sana, tiup sini selama berjam-jam di tengah hutan yang gelap dan tak berpenghuni. Tak satu pun usahanya tersebut membuahkan hasil. Ketika kami sudah semakin lelah dan gelisah, tetiba datanglah rombongan warga desa Ari yang hendak turun ke desa lain untuk takziyah. Mereka turun menggunakan mobil bak terbuka dan motor. Seorang bapak yang berdiri di atas mobil bak terbuka yang melewati kami dengan santai dan tenang serta merta berkata bahwa motor Dhika kehabisan oli, tanpa menyentuh motor tersebut sedikit pun. Dan ternyata benar, itulah masalahnya. Apalah arti kuliah bertahun-tahun di jurusan teknik mesin? Ck, Dhika.
Saya mengenal namanya terlebih dulu, sebelum mengetahui penampakan wajahnya yang ke-India-Araban itu. @cahayacahoy adalah akun Twitter yang diperkenalkan oleh teman satu angkatan saya di SMA, yang juga merupakan teman sejurusan dari -panggil-saja- Cahoy ini. Sejak pertama kali berjumpa di pembukaan pelatihan CPM V, Cahoy sudah terlihat mencolok. Saya menyadari kehadirannya ketika kami berdiri berseberangan di dalam ruangan yang tempat duduknya dibuat melingkar. Saat itu dia sudah terlihat akrab dengan sejumlah besar CPM V, yang mayoritas adalah laki-laki. Saya yang pada dasarnya memiliki rasa kepercayaan diri yang rendah, selalu terintimidasi seketika apabila bertemu ‘bintang’ di suatu lingkungan baru.
Selama pelatihan, saya dan Cahoy menjadi fire cracker di kelompok yang berbeda. Lorong tidur kami berbeda, teman-teman ‘bermain’ kami berbeda, tetapi kami berdua adalah garda terdepan dari kelompok kinestetis. Kami sama-sama berisik, sama-sama kelebihan energi, sama-sama susah diam dengan cara kami masing-masing. Saya suka menari-nari, teriak-teriak, tertawa-tawa, pindah-pindah tempat duduk selama kelas. Cahoy suka menggoyang-goyangkan badan, menyanyi-nyanyi dan sisanya sama, tertawa-tawa dan bersuara keras. Kami memeriahkan sekitar kami dengan bentuk yang berbeda. Pernah suatu hari di kelas bahasa Indonesia, saat melaksanakan simulasi kegiatan belajar dan mengajar bahasa Indonesia, saya dan Cahoy ‘berperang’. Kami berdua sama-sama berperan sebagai anak murid. Pelaku yang memulai perang ini adalah Cahoy. Tetiba saja dia menirukan gerakan-gerakan tari saya dan perilaku saya di kelas saat simulasi. Ketika tiba giliran kelompok saya yang menampilkan simulasi, saya membalasnya dengan menirukan gerak goyang tubuhnya yang sangat khas, bergetar ke kanan dan ke kiri disertai tangan yang ikut menggelepar. Di luar itu semua, tidak jauh berbeda dengan anggota Atjehngers lainnya, interaksi saya dan Cahoy selama pelatihan sangatlah minim.
Ketika seisi camp mulai didera gelisah dan spekulasi mengenai penempatan dan teman satu timnya, dari keseluruhan 51 orang CPM V pada waktu itu, saya amat-sangat-yakin-sekali bahwa saya tidak akan satu penempatan dengan Cahoy. Kalau pada waktu itu saya diajak taruhan, saya berani taruhan jatah makan selama sisa waktu pelatihan. *biar kurus* *ga kayak sekarang* Keyakinan tersebut didasarkan fakta bahwa saya dan Cahoy ini bagaikan ‘anak kembar’ di peleton Pengajar Muda V dengan segala kepribadian kami yang meledak-ledak di ranah kinestetis. Jadi. Tidak. Mungkin. Kami. Satu. Penempatan. Enggak. Enggak. Ga ga ga ga kuat…..
Maka alangkah terkejut kocar kacir saya, ketika ternyata saya dan Cahoy satu penempatan! Di dalam tim kecil yang hanya beranggotakan enam orang, DI ACEH PULA. Double combo. Waktu itu terbayang oleh saya, betapa akan terasa jengah dan berlebihan, mendapatkan saya dan Cahoy berada di dalam satu tim, yang kecil pula. Bukan apa-apa, rasa-rasanya akan kelewat ramai. Rasa-rasanya terlalu tumpah ruah energi, dan bisa-bisa meledak. Tidak bisa dipungkiri, saya sempat merasa khawatir saya dan Cahoy akan banyak bergesekan di penempatan.
Di Aceh Utara, Cahoy ditempatkan di Dusun Blang pante, Desa Pante Kiroe, Kecamatan Paya Bakong. Dia tinggal di…………..….. sekolah. Tidak… jangan keburu kasihan membayangkan dia tidur di ruangan kelas atau di UKS. Perempuan berdarah B ini tinggal di rumah keluarga piaranya yang terletak di belakang sekolah. Benar-benar masih di area halaman sekolah. Keluarga piaranya adalah guru di sekolah tempat Cahoy bertugas, yang memiliki tiga orang anak bernama Novi yang duduk di SMA, Deka yang duduk di sekolah dasar, dan Amel yang masih balita. Kalau di keluarga Vira, Farazi adalah bintangnya, maka di sini Amel adalah juaranya. Gadis kecil yang imut dan kelewat lucu ini pendiam dan suka malu-malu apabila bertemu dengan orang baru, tetapi dia sangat dekat dengan Cahoy. Amel adalah teman yang menemani keseharian Cahoy di desa. Amel memelihara kucing yang diberi nama Nyingnying, dan memanggil ibunya dengan sebutan Mimi. Saat berkunjung ke rumah Cahoy, Ratih yang polos ini melakukan dosa besar dengan menukar sebutan Nyingnying dengan Mimi. *tepok jidat*
Si Imut Amel
Dengan rumah keluarga piara yang secara teknis berada di dalam sekolah, setiap pagi Cahoy tinggal terbang untuk mengajar di SDN 7 Paya Bakong. Bahkan, tanpa perlu pergi ke sekolah pun dia bisa tetap mengajar, karena rumahnya selalu penuh dengan anak-anak yang singgah. Hal ini menyebabkan Cahoy giat melaksanakan kegiatan les di rumahnya.
Untuk melebarkan jangkauannya di desa agar tidak hanya di sekolah saja, Cahoy kerap bermain bersama anak-anak di sungai besar di belakang desa. Sungai tersebut biasa digunakan sebagai tempat mencuci oleh warga, juga sebagai tempat pengerukan pasir. Di tepi salah satu sungai tersebut terdapatlah gajah dan anak gajahnya yang keluar dari hutan dan dipelihara oleh warga, Raja dan Raju. Keberadaan kedua gajah tersebut sempat membuat heboh, hingga ke kancah nasional. Saat ini kedua gajah tersebut sudah mati karena sakit. :(
Di Paya Bakong, Cahoy adalah partner satu kecamatan Dhika. Berdua, mereka menguasai kecamatan Paya Bakong. Mereka kerap diundang untuk memberikan pelatihan guru dalam berbagai bentuk di kecamatannya. Warga di desa Cahoy sudah familiar dengan Dhika, dan juga sebaliknya. Meskipun jarak antar desa mereka tidak sekayangan desa ratih dan Vira, namun frekuensi mereka bekerja bersama cukup sering.
The Paybacks
Cahoy ini seorang perempuan yang tidak sekedar tahu apa yang dia mau, tetapi gigih berjuang untuk mendapatkan apa yang dia mau. Apa yang dia mau, sebisa mungkin harus dia dapatkan. Dari luar mungkin dia terlihat keras dan super tangguh, tetapi sebenarnya dia juga memiliki sisi rapuh khas perempuan. Sebelumnya, saya bilang Ratih cuek dengan omongan orang lain? Cahoy ini berkali-kali lipat cueknya. Dia tidak akan ambil pusing omongan miring orang lain terhadap dirinya. Selama apa yang dia yakini itu benar, dia akan tetap menjalani sesuai dengan caranya sendiri, meskipun itu mungkin tidak lazim bagi kebanyakan orang. Cahoy ini tegar, dikritik tidak akan tumbang. Sekuat Thor. Dia juga terberkati dengan rasa percaya diri yang sangat besar.
Tidak hanya tahu apa yang dia mau, Cahoy juga selalu sadar akan hal-hal yang tidak dia sukai. Kalau dia tidak mau, yaaa tidak mau. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa memaksakan kemauannya kepada seorang Cahaya Ramadhani.
Dalam mengambil suatu keputusan, cepat, efektif dan efisien adalah faktor paling penting yang menjadi pertimbangannya. Hal-hal yang belum selesai di masa lalu atau menggantung di masa depan tidak akan terlalu dipusingkan olehnya. Dalam beberapa hal, Cahoy bisa menjadi sangat ribet dan grasak-grusuk, tetapi dalam waktu kebanyakan, dia sangat taktis dan tepat guna.
Semangat juang perempuan yang lahir pada tanggal 18 April 1989 ini tidak perlu diragukan lagi. Saya pribadi mengagumi kisah hidupnya dan bagaimana dia bisa begitu santai dan kokoh menjalani kehidupannya. Dia adalah gadis yang tidak akan berhenti mengendarai motor, meskipun berkali-kali jatuh dan berdarah-darah.
Saat berinteraksi dan membangun hubungan dengan Cahoy, hindari jalan yang berputar atau kata yang berbunga-bunga. Hal-hal tersebut tidak menarik, bahkan cenderung mengganggu baginya. Kalau suka, bilang suka. Apabila keberatan, sampaikan keberatannya. Berbeda dengan saya dan Vira yang perasa, Cahoy ini memiliki saraf sensitif yang tipis dan sedikit jumlahnya. Dia tidak akan mudah tersinggung, dan dia juga tidak bisa merespon keadaan secara peka. Maka untuk kalian yang hobi bermain #kode, you can play it by yourself, because she won’t get it any how.
Cahoy is a triple threat indeed. Seorang jurnalis, pecinta alam serta penyanyi. Sebagai jurnalis, dia dibekali dengan predikat cum laude dari komunikasi Universitas Padjajaran Bandung. Kiprahnya sebagai jurnalis dapat kita lihat di Ekspedisi yang ditayangkan di Metro Tv. Sebagai pecinta alam, Cahoy boleh berbangga sebagai wanita pertama yang masuk ke gua vertikal terdalam di Indonesia, tepatnya di Pulau Seram. Sebagai penyanyi, suara Cahoy tidak perlu diragukan lagi. Suaranya yang empuk dan khas tersebut dapat menyesuaikan dengan berbagai jenis lagu tanpa kesulitan. Cahoy ini benar-benar suka menyanyi, pun dengan volume yang tidak kecil. Ketika Ratih, saya, dan Vira suka menyanyi di kamar sebagai respon dari lagu yang kami dengarkan di ponsel atau di laptop, maka Cahoy ini beda sendiri. Dia bisa bernyanyi kapan saja, bahkan tanpa perlu ada musik yang dimainkan. Pagi hari ketika bangun tidur, dia bernyanyi. Ketika mandi, dia bernyanyi. Saat berpakaian, dia bernyanyi. Pengang HP, nyanyi. Nonton film di laptop, bisa sambil nyanyi juga. Mau tidur, pasti nyanyi juga. Untung saja suaranya bagus. Kalau tidak……………………………………..
Meskipun Cahoy mendengarkan segala jenis musik, dari India, dangdut, lagu Aceh sampai ke rock, grup kesukaannya adalah MEW dan Sigur Ros. Maka dari itu, tahun 2013 adalah tahun yang penuh cobaan baginya, karena kedua grup tersebut datang dan menggelar konser di Indonesia dalam waktu yang berdekatan. Ketika hari H konsernya tiba, Cahoy hanya bisa menatap timeline Twitter dengan nanar dan hampa, atau berguling guling gelisah penuh rasa gemas.dan saya, dengan senang hati akan menambah keresahannya dengan mengirimkan berbagai berita dan foto-foto mengenai kedua konser tersebut kepada Cahoy *evil laugh*
Warna hijau adalah sesuatu yang serius baginya. Semua-muanya yang dia punya, warnanya hijau. Minuman kesukaannya adalah green tea dalam segala bentuk. Lalu semua yang memiliki rasa atau aroma green tea dan berwarna hijau pasti dia beli. Tak pelak, hal tersebut juga menjadi pertimbangannya dalam membeli…………. pasta gigi bahkan.
Warna tampaknya akan selalu menjadi pertimbangan utama bagi Cahoy dalam memilih barang. Baru-kemarin-banget dia membeli power bank berwarna jingga. Dia beli karena warnanya lucu. Ketika ditanya berapa daya yang dimiliki, dia menjawab 80.000 mAh. Menurut Ratih, itu setara dengan gardu listrik yang bisa menyuplai listrik se-kampung. Untuk hal-hal yang berbau teknologi, kita memang tidak bisa mengharap banyak dari Cahoy.
Sebenarnya, kombinasi jurnalis, pecinta alam dan penyanyi adalah sesuatu yang cukup luar biasa, bukan? Tetapi apalah artinya itu semua, apabila sebagai jurnalis, tulisannya baru satu kali berhasil menembus edukasi.kompas.com selama penempatan? Apabila sebagai pecinta alam yang terbiasa dengan alam liar, dia tidak bisa kita lepas di tengah kota yang asing tanpa tersesat atau melanggar rambu lalu lintas? Dan sebagai penyanyi, apabila dia belum pernah tampil bernyanyi selama di penempatan? *puk puk Cahoy* *ini colongan teaser OPP sebenernya*
Saya dan 'Kembaran' Kinestetis
Selama bertugas, Cahoy adalah teman mencari jati diri *asek*. Sebelum berangkat ke penempatan, saya dan Cahoy sama-sama belum mengenakan hijab. Di Aceh ini, kami diwajibkan untuk berhijab sehari-hari. Kini, Cahoy sudah bertransformasi dan mengenakan hijab secara, Insya Allah, istiqomah. Doakan saya segera diberi hidayah juga ya! Dalam pertumbuhan karakter di penempatan, saya dan Cahoy mungkin yang paling banyak harus menyesuaikan diri dengan beragam aturan dan atmosfer yang sebelumnya bisa dibilang bukan-kita-banget. Untuk itu, saya belajar banyak darinya mengenai penyesuaian diri, namun sekaligus memertahankan inti dari ‘siapa kita’. Cahoy sudah banyak mengalami perubahan tingkah laku, menjadi lebih kalem. Saya yang masih saja pecicilan, sepertinya belum mengalami perubahan apa-apa *sigh*.
Cahoy juga teman untuk mencari adrenalin dan hal-hal baru di penempatan. Dia adalah pribadi yang cepat bosan, sehingga akan selalu berkeliaran mencari hal-hal baru yang menarik. Akan ada saja hal baru yang bisa dia temukan setiap minggu, dari mulai tempat makan, tempat jajan, hingga tempat berbelanja. Nah, kalau mau blusukan ke pasar, saya akan minta ditemani Cahoy *dorong Ratih*.
Jiwa petualang Cahoy memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Meskipun dia berkuliah tidak jauh dari rumahnya di Cimahi, tetapi dia sudah melanglang buana ke berbagai tempat, dan itu membuatnya sering meninggalkan rumah. Sebelas dua belas dengan saya. Keluarga Cahoy sebenarnya berasal dari suku Jawa, namun dia sangat fasih berbahasa Sunda. Baik kasar maupun halus.
Sebagai seorang Pengajar Muda, Cahoy adalah primadona. Baik bagi anak-anak, terlebih bagi para stakeholder. Dia adalah sosok yang paling dicari oleh stakeholder dalam setiap kesempatan, terutama stakeholder yang berbeda jenis kelamin. Selain karena wajahnya yang manis sangat diminati kumbang-kumbang, Cahoy juga merupakan Atjehngers yang paling cepat menyesuaikan diri dengan budaya setempat. Dia adalah yang paling fasih berbahasa Aceh, hapal lagu dan tarian Aceh. Bagi anak-anak, Cahoy adalah guru yang sangat dipuja. Kepulangan Cahoy ke desanya akan selalu diiringi oleh teriakan “Bu Ayaaaaa….” dari segala penjuru desa.
Ratingnya yang tinggi di penempatan dimanfaatkan oleh seluruh anggota tim. Apabila kami membutuhkan usaha lebih untuk merayu beberapa stakeholder demi memerlancar dan memermudah urusan kami di kabupaten, maka serta merta pesona Cahoy akan ditebar di garda depan.
Ini adalah saya, sang penulis! Hore!
Perempuan yang baru saja menginjak usia 25 tahun pada tanggal 12 Oktober lalu.
Saya bertugas di Dusun Alue Mbang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur.
Saya...... jomblo. Bukan, bukan soal urusan pasangan. Kalau berkaitan dengan masalah itu, saya sih single. Artinya, saya memilih untuk sendiri.
Tapi untuk urusan penugasan sebagai Pengajar Muda, saya akui saya jomblo maksimal.
Tidak punya teman satu kecamatan. Sedih ya.
Ini bukan mau saya loh. Sudah ditentukan dari sana-nya.
Saya kerap bertanya-tanya setengah mati, kenapa saya (dan juga Ari) yang desa-nya jauh lebih luas (desa saya SEMBILAN DUSUN For God Sake!) dari empat orang Atjehngers lainnya, diberi kehormaatn untuk lalu-lalang benar-benar sendirian.
Coba bandingkan dengan jarak desa Dhika dan Cahoy?
Bayangkan jarak desa Ratih dan Vira?????????!!!!!!!!!! *banting kursi* *tendang meja*
Jalan masuk ke desa saya dari kota itu bercabang dua, ke kiri dan ke kanan.
Ke kiri itu adalah pusat pemerintahan. Segala KORAMIL, kantor kecamatan dan kantor UPTD bermarkas disitu.
Ke kanan, adalah pasar, lalu kebun sawit, lalu dusun utama, lalu teruuuuus luuuuuuuuuuuuuruuuuus sampai bego, akan sampailah ke dusun saya.
Sehari-hari, saya biasa lewat kanan untuk naik-turun desa. Jalanan di sana memang jauh memutar melewati banyak desa dan dusun serta kebun kelapa sawit yang tak ada habis, lebih terjal dan berbatu, namun lebih ramai. Sedangkan apabila saya lewat kiri, saya harus menghadapi jalanan panjang yang sepi tanpa deretan rumah. Saya juga harus waspada terhadap rombongan monyet berjumlah ratusan dengan berbagai ukuran yang suka menyeberang tiba-tiba, belum lagi................................. kemungkinan bertemu makhluk menjijikkan yang paling saya takuti di seluruh dunia, ular. *bergidik* *merinding*
Bukan cuma saya yang memilih untuk lewat kanan, tetapi itu adalah jalur yang lazim dilewati oleh penduduk, dan jalur yang selalu dipilih tukang ojek.
Iya, betul sekali.
Tu-kang o-jek.
Atau di sini biasa disebut dengan RBT.
Seperti telah saya kemukakan sebelumnya, saya ini tidak bisa mengendarai motor.
Jadi, kemana-mana saya naik ojek. Bahkan saya sudah punya ojek langganan yang setia SMS-an dan teleponan sama saya setiap minggu.
Ngomong-ngomong soal jalan menuju desa, Atjehngers punya peringkat tingkat-kesulitan-jalan-menuju-desa-masing-masing. Lucunya, peringkat tersebut adalah urut, dari jalur Banda menuju Medan.
Peringkat pertama diduduki oleh desa Ari, yang jalanannya luar biasa menantang. Nanti kalian bisa baca sendiri di sesi Ari.
Peringkat kedua diduduki oleh desa saya, yang jalannya cukup terjal dan berbatu, juga sarat becek ketika hujan.
Peringkat ketiga adalah desa-nya Dhika, yang selain dijajah lembu, juga dijajah lubang-lubang penampung air hujan, lengkap dengan kerikil.
Peringkat keempat adalah desa Cahoy, yang jalannya penuh pasir dan kerikil.
Peringat kelima adalah desa Vira, semata-mata karena harus melewati jembatan.
Peringkat terakhir adalah desa Ratih, di mana untuk menuju desanya kita harus melewati jalanan panjang beraspal yang rusak dan bolong-bolong.
OH! Saya lupa menceritakan soal sinyal ya.
Kalau berdasarkan kencangnya gelombang sinyal, urutannya akan seperti ini:
1. Ratih
Ponsel : di rumah, EDGE di hampir seluruh titik, dengan posisi memegang ponsel normal.
kalau beruntung, terkadang muncul sinyal 3G.
Modem : sama dengan sinyal ponsel, tambahkan kekuatan mengunduh video You Tube.
2. Ari
Ponsel : EDGE - 3G di hampir seluruh titik di rumah dan di sekolah. Lucky you!
Modem : potensial, tetapi dia tidak pernah berusaha memerjuangkannya. Payah.
3. Vira
Ponsel : EDGE di rumah dan di sekolah, tetapi di titik tertentu dengan posisi ponsel tertentu.
Modem : yaaaa sabar-sabar deh.
4. Cahoy
Ponsel : EDGE di kamarnya dan di bawah tiang bendera
Modem : gimana eeeeaaaaa......
5. Dhika
Ponsel : EDGE-3G di sekolahnya. EDGE di titik tertentu di rumah.
Modem : giamana eeeeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....................
6. SAYA
Ponsel : EDGE di kamar dan di dapur, posisi ponsel harus berdiri lurus di titik tertentu. Di sekolah?
blind spot.
Modem : MASIH NANYA?
Baiklah, kembali ke desa saya.
Di desa, saya tinggal bersama anak Pak Geuchik, namanya kak Ani dan suaminya.
Mereka dikaruniai tiga orang anak, tetapi tidak ada satu pun yang tinggal bersama mereka.
Anak pertamanya, Kiki, bersekolah di dayah (pesantren) modern di arah ke Lhokseumawe.
Dia duduk di kelas tiga SMP sekarang.
Kiki memilki dua orang adik laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Fahmi di kelas empat, dan Munawanis di kelas dua.
Mereka berdua bersekolah di kampung asal abang, dan tinggal bersama nenek dan kakeknya di sana.
Kakak dan abang mengunjungi mereka satu minggu sekali.
Abang piara saya adalah juragan sawit di desa dan kakak saya berjualan nasi dan pulsa.
Di desa, mereka termasuk keluarga yang cukup berada.
Bahkan di rumah, keluarga piara saya memiliki mobil, Escudo.
Sejak minggu pertama di penempatan, saya sudah langsung didaulat untuk menyetir mobil naik dan turun desa.
Tentu saja saya panik, karena jalanan desa begitu terjal dan saya belum pernah mengemudikan Escudo.
Tetapi Alhamdulillah saya bisa menaklukkan jalanan menyiksa tersebut.
Saya rasa level kemampuan mengemudi saya meningkat! hahahahaha.
Rumah keluarga piara saya terletak sekitar 300 meter dari sekolah.
Setiap pagi saya cukup berjalan kaki sedikit menuju ke sekolah.
Ketika istirahat, saya bahkan bisa pergi pulang ke rumah dulu kalau saya mau.
Meskipun jaraknya dekat, jalanan menuju sekolah saya telah memakan beberapa korban sepatu karena banyaknya batu serta becek.
Sepatu yang saya gunakan sekarang adalah penghabisan dua bulan terakhir.
Sol belakangnya sudah menganga dan minta dipleaster dengan UHU. *BRB beli lem UHU*
Meskipun jalanan desa saya cukup dapat bisa dibanggakan tingkat kesulitannya, tetapi hal tersebut menjadi bukan apa-apa karena letak desa saya amat-sangat dekat dengan kota Lhokseumawe.
Total perjalanan dari tengah Kota Lhokseumawe ke tengah dusun saya, hanya memakan 60 menit dengan menggunakan sepeda motor.
Saya kemudian dijuluki PM penempatan Lhokseumawe *menghembuskan nafas berat*
Tapi jarak desa saya dengan Kota Lhokseumawe memang sungguh keterlaluan dekatnya.
Kalau saya mau, saya bisa berangkat sekolah setiap hari dari Lhokseumawe, pulang sekolah turun makan siang di Lhokseumawe, lalu balik lagi ke desa untuk mengajar les, lalu turun lagi dan tidur di Lhokseumawe.
Sa-king de-ket-nya.
Suatu hari, saya pernah turun tergesa-gesa dengan kakak saya ke Lhokseumawe, mengurus beberapa hal di sana sembari duduk ngobrol di kedai, lalu kembali lagi ke desa, dan semuanya memakan waktu dua jam setengah saja.
Apabila saya dan Atjehngers janjian di kota, saya se-la-lu tiba pertama.
Tidak peduli saya sudah menyempatkan diri mampir ke UPTD, ke rumah guru, ban motor pecah, mampir ke pesantren Kiki, menunggu mobil yang saya tumpangi masuk ke tempat pencucian mobil, lewat jalan memutar, menyambung dengan labi-labi (angkot) dari kecamatn sebelah, dan lain sebagainyaaaaa... tidak peduli apapun hambatan saya turun ke kota,
saya selalu tiba paling pertama. *korek tanah*
Di antara para Atjehngers, saya adalah yang paling berisik dan tidak mau diam.
Suara saya adalah sumber keributan, gerak-gerik saya adalah sumber polusi mata.
Paling ribet dan rempong. Kalau pergi kemana-mana, bawaannya pasti selalu paling banyak.
Dari yang paling ga penting sampai paling penting pasti saya punya dan bawa kemana-mana bak kantong Doraemon.
Butuh gunting? Pemotong kuku? Lem? Sisir? Payung? Jas hujan? Kaca? Kapas? Tissue basah? atau kering? Pulpen? Colokan? Roll kabel?
Sini, come to mama *bongkar kantong*
Cerewet. Banci di whatsapp group PM V dan Atjehngers.
Kalau ke kota, sebagian besar waktu saya habis di dunia maya melalui ponsel saya.
Kalau duduk di motor, selalu duduk menyamping, tidak peduli sejauh apa dan sesulit apa perjalanan yang harus ditempuh.
Bukan masalah mengikuti qanun Walikota Lhokseumawe, tapi saya pribadi memang tidak suka dengan konsep duduk ngangkang. Tidak feminin.
Kalau dibonceng Ari, rok saya sering tersangkut di tempat pijakan kaki, dan tak jarang hingga membuat saya terjatuh.
Seumur hidup tidak pernah bermasalah dan peduli dengan berat badan, hingga saat ini. Saat ini saya sedang diet ketat dan olahraga mati-matian agar tubuh saya kembali normal.
Doakan saya ya!
Saya ini kecanduan menari dari kecil. Hal tersebut membuat saya lamaaaaa sekali kalau mandi.
(Lah apa hubungannya?).
Ada. Ada banget hubungannya.
Saya suka menari-nari di kamar mandi, sebelum mulai mandi. Pusing, kan.
Pokoknya saya selalu dianugerahi inspirasi berlimpah untuk merangkai gerak tari di kamar mandi, walaupun sesederhana itu saat saya melangkahkan kaki keluar kamar mandi, das blas semuanya hilang seketika.
Di antara kami berempat, saya paling lama mandi. Dengan tahu diri, saya selalu berangkat mandi paling belakangan. Kasihan kalau yang lain nungguin saya, kalau kata Ari, keburu Akino punya pacar baru selesai.
Saya heran sendiri, bagaimana saya bisa sukses bertahan tujuh minggu di pelatihan dengan waktu mandi yang dibatasi, seperti jatah pembagian sembako.
Saya bangga dengan pencapaian ini *mata berkaca-kaca*
Seperti yang sudah-sudah, tingkat interaksi saya dengan Ari saat pelatihan, sebelum pengumuman penempatan sangatlah minim. Dengannya saya yakin adalah yang paling minim dari keseluruhan anggota tim. Bahkan saya tidak memiliki momen sekecil apapun selama pelatihan yang bisa saya kenang dengannya. Apabila saya sempat tertipu oleh Dhika yang sempat saya asumsikan sebagai ikhwan super kaku, maka dengan Ari ini lebih mengenaskan lagi kisahnya. Dulu saya sangat terintimidasi oleh dua tanda hitam yang menghiasi jidatnya. Meskipun lelaki yang lahir pada tanggal 19 Januari 1989 ini se-hitam malam, tetapi dua tanda hitam di dahinya tersebut tetap terpajang secara mencolok menyakitkan mata. Tanda hitam tersebut sukses membuat saya menjaga sikap dan jarak dari lelaki yang berasal dari Magelang ini selama pelatihan, sampai saatnya pengumuman penempatan.
Apabila reaksi saya hanya sedikit tercekat ketika saya mengetahui akan satu tim dengan Ratih, maka ketika nama Ari Hendra Lukmana disebut sebagai bagian dari tim penempatan Aceh Utara, rekasi saya adalah seperti ini:
“OH MY GOD OH MY GOD OH MY GOD DEMI APAAAAA???!!!! MAMPUS GUEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!”
teriakan tersebut hanya bergejolak di dalam hati, tentu saja. Tidak mungkin saya berteriak-teriak di tengah-tengah momen sakral dalam pelatihan waktu itu. Tapi hal tersebut justru memerburuk keadaan, karena saya tidak bisa meluapkan emosi saya secara maksimal. Rasanya waktu itu saya bagai anak kecil yang terkena sakit cacing, menggelinjang tidak jelas. Saya benar-benar gelisah, membayangkan apa yang akan terjadi dengan saya dan Ari selama 14 bulan di penempatan nanti. Menjaga sikap di hadapan Ratih saja sudah cukup menyulitkan, apalagi ditambah dengan kehadiran Ari. *sigh* *pasrah*
Setelah tim penempatan diumumkan, Ari yang baik hati ini dengan manisnya mencoba untuk membangun interaksi dan hubungan dengan saya duluan. Caranya lucu dan menggemaskan. Saat di kelas, dia mengomentari hal-hal kecil tentang saya, seperti…. model kalung berbeda-beda yang saya pakai. Saya pikir hanya sesama perempuan dan lelaki yang memiliki homon progesteron berlebihan sajalah yang akan memerhatikan detail aksesoris semacam itu. :3
Di Aceh Utara ini, Ari ditempatkan di sebuah desa yang terletak jauuuuuuuuh sekali di atas bukit. Namanya Araselo, Kecamatan Sawang. Untuk mencapai desanya, kita harus menempuh dua jam perjalanan dari Kecamatan Sawang. Dua jam perjalanan yang amat-sangat-tidak mudah. Jalanan menuju desa Ari nampaknya tidak habis-habis. Melewati sungai, banyak desa, jalanan aspal, lalu berkerikil, berpasir, berbatu besar, hutan, dan lain sebagainya. Saya sungguh kagum dengan Ari yang harus melewati serangkaian fenomena alam tersebut apabila dia hendak naik atau turun desa. Saat kami mengunjungi desa Ari, perjalanan tersebut memakan banyak korban luka-luka dan motor rusak, dan Ari harus menghadapi jalanan tersebut sepanjang tahun ini.
Selain kagum, saya juga selalu khawatir dengan keselamatan bocah bergolongan darah AB ini. Pasalnya, jalanan menuju desanya tersebut sangat berbahaya. Dalam urusan keselamatan, jalanannya berbahaya karena gelap dan sepi. Untuk urusan kesehatan, berbahaya karena banyak sekali pasir dan debu yang berterbangan sepanjang jalan, belum lagi kencangnya angin yang berhembus yang dapat mengoyak paru-parunya. Ari yang nakal ini sungguh sangat menyepelekan kesehatannya. Dia menolak menggunakan masker atau jaket ketika berkendara naik-turun desa, dan akibatnya dia pernah terserang batuk yang tidak berhenti-henti selama berbulan-bulan. Saya selalu memarahinya dengan gemas, tetapi dia cuek saja. HHHHHHHH!
Untuk mobilisasi sebagai PM, Ari menggunakan dua motor sekaligus. Yang pertama adalah Mio putih yang sangat ganteng dan sustain kepunyaan abang piara, dan yang kedua adalah sebuah motor berwarna hitam, yang diberi pinjam oleh seorang PM VI kenalan kami yang berasal dari Langsa, Aceh. Kedua motor tersebut digunakan oleh Ari secara bergantian. Berbeda dengan Ratih dan Dhika yang membobol tabungan mereka untuk membeli motor, Ari memeroleh keduanya secara gratis dan tinggal pakai.
Perjalanan menantang maut menuju desa Ari terbayar dengan pemandangan yang indah ketika sampai di puncak. Desanya dikelilingi dengan hutan dan pepohonan, dan udaranya dingin. Di Araselo, Ari diasuh oleh Mak Ponah yang tinggal bersama satu anaknya, abang piara Ari. Abang piara Ari ini bekerja di daerah Takengon, Aceh Tengah, dan jarang berada di rumah. Maka dari itu, praktis Ari adalah satu-satunya teman Mak Ponah di rumah. Mak Ponah memiliki kedai kopi dan mie Aceh. Harga kopi di kedai Mak Ponah adalah SERIBU rupiah. Setiap hari, selain mengajar dan memberikan les kepada anak-anak, Ari juga membantu Mak Ponah di kedai. Mencuci, membuat mie rebus, membersihkan kedai dan menghidangkan sajian kepada pelanggan adalah hal-hal yang biasa dilakukan Ari, tetapi tidak untuk membuat kopi. Menurut warga yang datang ke kedai mak Ponah, kopi buatan Ari rasanya tidak enak.
Mak Ponah ini sungguh sudah sangat tua, tetapi staminanya luar biasa. Setiap malam, mak tidur di atas jam dua pagi sembari menjalankan kedai, namun sebelum jam lima, sudah terbangun kembali dan bersiap membuka kedai. Dengan aktivitasnya yang segudang, setiap hari mak hanya makan satu kali sehari, dengan sarapan rokok dan kopi. Sama nakalnya dengan Ari. *gemes* Mak Ponah ini sangat penyayang dan menyenangkan. Beliau memanggil Ari dengan sebutan ‘sayang’.
Ari dan Mak Ponah
Sekolah Ari, SDN 25 Sawang terletak agak jauh dari rumah Mak Ponah. Seperti tidak cukup dengan jalanan menuju desanya yang luar biasa, jalanan menuju sekolah Ari pun tidak kalah menantangnya. Menanjak, dan penuh dengan bebatuan besar. Seharusnya dengan perjalanan menuju sekolah yang begitu jauh dan melelahkan setiap harinya, Ari akan kurus selama di penempatan. Tetapi tidak. Sebaliknya, dia menjadi sangat gendut sekarang. HA. Eat that!
Berbeda dengan Dhika yang ‘sial’ di penempatan karena wajahnya, Ari justru berkiprah gemilang. Meskipun logat Jawanya yang kental sebenarnya bisa membahayakannya, tetapi dia terselamatkan oleh wajahnya yang hitam manis dan sangat mirip dengan orang Aceh betulan. Apabila Cahoy adalah primadona di kalangan para agam, maka Ari ini adalah primadona di kalangan para inong. Banyak inong yang berusaha menarik perhatiannya dengan berbagai cara, dari yang halus sampai yang agresif. Proposal pernikahan untuknya sudah tak terhitung banyaknya, namun dia tolak semua. Bukan karena dia tidak tertarik dengan inong Aceh, justruuuuuuu karena hatinya sudah tertambat kepada salah satu inong Aceh yang selalu menjadi bunga tidurnya. *siulsiul*
Sebagai Pengajar Muda, Ari ini adalah PM idola. Saingan ketat Ratih, di dalam Atjehngers. Saya sangat mengidamkan Ari dan Ratih suatu saat bisa bersatu dalam ikatan pernikahan sebenarnya. Anaknya pasti akan sangat luar biasa. *menerawang* Ari sangat diandalkan di sekolah, dicintai anak-anak dan disayangi warga. Kemampuannya dalam menjalin silahturahmi dengan berbagai pihak membuatnya menjadi sosok yang sangat dikenal di penempatan, dari mulai di desa, kecamatan, kota, hingga kabupaten.
Ari ini memang selalu senang bertemu dengan orang yang baru. Dia sangat menikmati waktu-waktu berbasa-basi, mendominasi saat-saat perkenalan, dan senang tenggelam dalam obrolan yang panjang sebagai bentuk menjalin silahturahmi. Baginya, setiap orang adalah menarik. Dia selalu merasa dapat belajar hal-hal baru dari orang-orang yang ditemuinya. Tidak heran, Ari selalu menjadi orang yang menyalurkan kabar-kabar terbaru mengenai orang-orang yang kami kenal di penempatan. Apabila dia berkenalan dengan orang baru, PASTI dia akan melontarkan pertanyaan ini, "sudah pernah ke Araselo?" kepada siapa pun itu. Dia sangat bangga dengan letak desanya yang jauh dan sulit dijangkau tersebut. Dia juga sangat yakin bahwa hanya segelintir orang Aceh saja yang sudah pernah menjamah Araselo.
Tutur kata yang lembut selalu mengalir dari mulut Ari ketika berbicara. Dia selalu berbicara secara halus dan hati-hati, dengan modus logat Jawa yang sekental susu kental manis. Ari juga dilingkupi dengan kepolosan tak berbatas. Dia selalu memiliki cara tersendiri untuk menyikapi berbagai hal, juga dalam menyampaikan rupa-rupa maksudnya. Ketulusan hatinya luar biasa.
Ari ini benar-benar punya dunianya sendiri. Apa yang menurutnya biasa saja, bisa jadi menurut orang lain adalah sesuatu yang luar biasa. Hal-hal yang secara umum akan dikagumi oleh orang-orang, bisa jadi tidak akan dilirik sedikit pun olehnya. Ketika kami berlima tertawa, dia diam. Ketika dia tertawa keras-keras, kami bingung dibuatnya.
Ari yang merupakan Sarjana Sosial dari jurusan Arkeologi Universitas Gajah Mada ini memang sangat unik. Soal musik, dia mendengarkan apa saja yang enak didengar. Dulu, saya pikir dia hanya mendengarkan lagu Jawa dan nasyid, karena setiap saya berdua saja dengan dia, dia selaluuuuu memutar lagu-lagu Jawa yang saya tidak paham. Hal tersebut membuat saya sangat kesal. Eh, lalu ternyata, dia juga terkena racun ERK saat pelatihan, dan sekarang sering memutarnya. Setiap hari, dia mendengarkan radio. Bahkan di desa, yang saya tidak paham bagaimana dia bisa mendapatkan gelombang radio. Dia rela membeli ponsel nokia baru hanya untuk mendengarkan radio, setelah ponsel lamanya hilang karena lupa dia taruh. Ari adalah fans Geisha. Hanya saja, dia tidak tahu apakah Geisha itu grup band atau penyanyi solo.
Ari rajin membeli koran. Setiap ke kota, berbagai jenis koran dia beli. Dia suka membaca buku-buku lama, yang muatannya berat. Hanya dia dan Allah yang akan paham. Di penempatan, ketika menemukan satu toko buku yang menjual buku-buku kuno, dia girang bukan main, seperti bertemu dengan jodoh saja.
Ngomong-ngomong soal jodoh, Ari ini masih melajang. Daaaan... dia memang melajang sepanjang hidupnya, sampai sekarang. Dia amat-sangat-kaku saat berhadapan dengan perempuan. Ketika suatu saat saya menyender padanya, mukanya kaku dan tegang seperti melihat hantu. Ketika kami goda, dia tersenyum garing. Sungguh kasihan. Untuk meningkatkan keluwesannya dalam menghadapi perempuan, kami mengajarinya beberapa hal. Cahoy mengajari bagaimana cara menyuapi perempuan. Vira mengajari bagaiman memerhatikan perempuan. Ratih menyuapinya dengan hal-hal yang diidamkan oleh perempuan yang ingin berkeluarga. Saya? Sebagai drama princess, tentu saja saya mengajarkan dia bagaimana menghadapi perempuan saat PMS, saat sedang banyak mau, ngidam, dan yang paling penting adalah memberinya simulasi pertengkaran-pertengkaran di dalam sebuah hubungan. Dari mulai yang kecil-kecil, sampai yang melibatkan adegan dramatis kejar-kejaran dengan sepeda motor di tengah jalan.
Keunikan Ari itu tak ada habisnya. Setiap makan bersama, dia selalu memesan makanan yang berbeda dari kami semua. Dan biasanya, menu tersebut adalah menu yang tidak lazim, baik secara harga maupun porsinya. Pernah suatu saat dia memesan semangkuk sup ikan seharga 90 ribu yang isinya bisa digunakan untuk makan satu kelompok.
Selain unik, Ari ini juga ajaib. Bukan hanya bacaannya yang menjadi misteri alam, tetapi juga keberadaanya. Dia sering menghilang. Dia sering tetiba ada di tempat A, lalu tidak lama kemudian sudah berada ribuan mil jauhnya dari tempat tersebut tanpa kabar. Sebagai partner yang dipaksakan, saya sering dibuatnya kesal dalam melacak jejaknya. Omelan-omelan saya dalam mencari-cari dirinya selalu menjadi hiburan gratis bagi Atjehngers di grup whatsapp. Ari ini juga pelupa dan memiliki fokus yang perlu ditingkatkan secara tajam. Dia sering sekali lupa menaruh ponsel, helm, kabel data, kunci motor, sampai pernah membiarkan ATM-nya tertelan, hanya karena susunan tombolnya berbeda dari ATM yang biasa dia temui. *elus-elus dada*
Dalam menghadapi teknologi, Ari ini berteman dengan Cahoy. Dia juga gagap teknologi. Saat pertama kali tiba di penempatan, akhirnya dia tergerak untuk membeli smartphone setelah sebelumnya dia memakai ponsel dengan nada dering yang masih polyphonic. Dia merasa tertinggal banyak informasi dan bertekad untuk mengikuti zaman. Ketika membeli smartphone, dia banyak dibantu oleh Dhika. Tanpa Dhika, mungkin dia salah beli ponsel.
Ketika akhirnya dia memiliki ponsel pintar, dia terkagum-kagum dengan berbagai fitur di dalamnya. Tak henti-hentinya dia mengotak-ngatik ponselnya tersebut. tak henti-hentinya dia berdecak kagum oleh kemampuan ponselnya. Memiliki ponsel pintar merubah banyak aspek di dalam hidupnya. Juga merubah kelakuannya, begitu menurut pengakuannya sendiri. Dengan ponsel pintarnya, dia telah merekam berbagai peristiwa di penempatan, dalam mode gerak atau gambar. Apa-apa direkam. Apa-apa difoto. Dengan ponsel pintarnya juga, dia sering menjalin komunikasi intens dengan seorang inong Aceh yang sering membayangi hari-harinya.... Ihiiiiiiirrrrr !
Sebelum menjadi handal dalam bermain dengan ponsel pintarnya, dia sempat melewati masa-masa di mana dia sangat kebingungan untuk mendaftarkan paket internet di ponselnya. Ratih menjadi mentornya dalam hal ini. Saya? saya mentornya dalam mengelola beragam aplikasi dan pengaturan di ponselnya. HAHA.
Namanya Ari, harus unik. Mungkin dia adalah satu-satunya Pengajar Muda yang memiliki jumlah followers yang jauh lebih sedikit dari following-nya. Jumlah followers-nya hanyalah 447 orang, sedangkan dia mem-follow tidak kurang dari 1.798 akun. Astaga. Bagaimana dia memeroleh akun-akun tersebut? Dia searching 'Cut' dan 'Teuku' lalu dia follow semuanya. itu dilakukannya ketika kampanye program pengumpulan buku kami bersama Penyala Aceh di PO BOX 1144. SIlahkan cek akun dan timeline @Arihend, anda mungkin akan banyak dibuat tertawa olehnya.
Sumpah, membicarakan kelakuan, karakter dan kebiasaan-kebiasaan unik Ari tidak akan ada habisnya. Saya sampai bingung sendiri. Yang pasti, dia adalah sosok yang sangat menyenangkan dan membuat kami selalu tertawa sampai mau muntah.
Serupa dengan Dhika, Ari adalah didikan sukses mata pelajaran PPKN. Sama. Persis. Mereka juga memiliki kesamaan dalam hal mengontrol emosi, tidak enakan, juga yes man. Semua kesamaan tersebut membuat mereka sangat akur. Mereka selalu asyik merencanakan program untuk kabupaten dan menikmati menjalankannya berdua sebagai pioneer. Mereka sangat tabah dan sabar menghadapi para perempuan-perempuan yang banyak mau dan sering kekeuh dengan maunya masing-masing ini. Mereka sering sekali mengalah kepada kami dengan penuh senyum. Apabila Dhika dan Ari sedang berdua, saya hanya bisa bengong. Mereka selalu berbicara dalam bahasa Jawa yang super halus. Saya merasa sedang menonton siaran wayang orang, dan butuh penerjemah.
Di Magelang sana, Ari tinggal di desa di kaki gunung Merapi bersama ayah, ibu dan kedua adik perempuannya. Sejak SMP, Ari sudah meninggalkan keluarganya untuk menuntut ilmu di pesantren. Memiliki hubungan jarak jauh dengan keluarganya adalah hal yang biasa untuknya. Meskipun demikian, Ari sangat sayang dan perhatian dengan keluarganya, juga sebaliknya. Sama seperti Ratih, Ari selalu bertelepon dengan keluarganya setiap hari. Terkadang hal tersebut mengganggunya, ketika dia sedang sibuk mengurusi berbagai hal, lalu keluarganya menelepon. Ari bukan tipe yang akan menolak mengangkat telepon.
Sebagai sesama Pengajar Muda yang tidak memiliki teman satu kecamatan, Ari adalah teman seperjuangan saya. Banyak hal yang terkait dengan program kabupaten harus kami tangani bersama. Kolaborasi ini dimulai sekitar akhir Maret, ketika kami berdua dipasangkan di dalam satu tim roadshow ke lima UPTD di sekitar kecamatan kami bertugas. Di dalam roadshow tersebut, saya dan Ari harus ber-partner sebagai tim trainer untuk guru-guru. Kami bertugas untuk menyalurkan pengetahuan mengenai pengajaran dan pembelajaran kreatif kepada guru-guru tersebut. Hal tersebut membuat kami harus berkelana ke berbagai kecamatan yang berbeda setiap minggunya selama satu bulan penuh. Pada masa itu, malam Jumat hingga malam Sabtu adalah quality time saya berdua dengan Ari.
Kerjasama tersebut memererat hubungan kami berdua. Di tengah proses tersebut, Ari berubah menjadi teman saya dalam berbagi cerita mengenai masalah masing-masing di sekolah dan di desa. Saat kami hanya berdua, kami banyak merencanakan program-program fantastis untuk kami lakukan di sekolah dan di desa. Tetapi sayangnya, banyak di antaranya hanya menjadi ampas di kopi yang kami minum saat kami berbincang.
Ketika pertama kali dipasangkan dengan Ari, meskipun kami berdua sudah menjalani beberapa bulan di penempatan bersama, saya masih merasa takut dan canggung karena harus melewati waktu berdua saja dengan Ari. Dan ternyata, Ari pun merasakan hal yang sama. Menurutnya, dari keseluruhan anggota Atehngers, dia paling merasa berbeda dunia dengan saya. Untuk bisa masuk menyesuaikan diri dengan saya, menurut pengakuannya dia harus menurunkan frekuensi secara signifikan. *nangisssssssssssssssssssssssss*
Sekarang saya dan Ari sudah saling memahami satu sama lain. Saya cuma bisa mengelus dada menghadapi ulah-ulahnya yang eksentrik, dan dia pun sering hanya memasang cengiran melihat tingkah polah saya yang ekstrem baginya.
Saya dan Teman Seperjuangan!
Saya sayang banget sama Ari. Dia adalah pahlawan saya! Saya selalu terharu saat dia rela berlelah-lelah menambah dua jam perjalanan menuju kota hanya untuk menjemput saya ke desa. Dia selalu sabar mengantar dan menemani saya kemana-mana saat di kota. Dia duduk sabar saat saya sibuk berbelanja, dia ikut semangat saat saya sibuk mengirimkan barang ke sana ke mari. Saya dibuatnya kehabisan kata-kata ketika suatu hari, saat dia merasa hubungan Atjehngers mulai merenggang, dia mengurung diri di kamar dan membuat ini untuk mengejutkan kami semua:
Majalah Dinding Atjehngers Buatan Ari
Dia mungkin terlihat kaku atau tidak romantis, tetapi justru sebaliknya. Dia ini penuh perhatian, kepedulian dan empati, serta memiliki segudang cara yang unik untuk menunjukkannya. Kalau saja saya bisa memilih jodoh saya, mungkin saya mau sekali menikah sama dia. Tapi dia pasti enggak mau. *nangis*
Sebagai Captain A, Ari memang selalu handal menebarkan pesonanya, baik di dalam maupun di luar tim. Bukan, bukan pesona macam playboy kampungan yang suka tebar janji dan gombalan murahan. Dia selalu menebar ketulusan dan keceriaan. Sosok yang kami perkirakan akan menjadi outsider yang kaku, justru malah menjadi perekat paling kuat di antara kami. Dengan kesabaran dan teladannya, dia selalu sukses membuat kami termotivasi. Ari juga merupakan senjata rahasia kami dalam menjalin hubungan dengan beragam stakeholder yang kami miliki.
Meski selalu jadi yang paling terakhir, dia adalah anggota yang paling kami sayang.
*peluk Ari sampai sesak nafas*
Rencana Tuhan memang selalu luar biasa.
Dari sekian banyak Pengajar Muda yang dekat dengan saya di pelatihan, tidak ada satu pun yang akhirnya satu penempatan dengan saya.
Lucu ya.
Satu tahun yang lalu, saya punya segudang prasangka terhadap masing-masing anggota Atjehngers ini. Benak saya dipenuhi kekhawatiran akan sulitnya membangun hubungan dengan setiap individu yang menemani hari-hari saya selama empat belas bulan ini.

Sekarang, mereka memenuhi inner circle saya, tepat di dalam ring satu.
Mereka juga memenuhi hati saya.
Setiap dari mereka kini telah berubah menjadi sosok-sosok yang akan selalu saya cari ketika dada ini sesak karena sedih, dan akan menjadi yang pertama saya ganggu dengan teriakan-teriakan kegembiraan saya.
Mereka telah menjadi orang-orang yang membuat saya akan selalu ingin tahu mengenai apa yang membuat mereka risau dan bahagia setiap harinya.
Satu tahun sudah kami berada di Tanah rencong ini.
Berbagi air mata, lengkungan senyum, sakit hati, kejenuhan, rasa syukur dan hati yang membucah karena bahagia.
Saya mencintai kelompok ini sepenuh hati.
Saya mencintai percakapan kami selama berjam-jam di whatsapp group untuk menentukan tempat makan sembari rapat.
Saya mencintai waktu-waktu di mana kami berkumpul di tempat makan selama tiga jam yang penuh gosip dan tawa, untuk rapat yang hanya berjalan 15 menit.
Saya mencintai bagaimana kami sibuk hura-hura setiap kali bertemu, dan kemudian saat berpisah kembali ke desa masing-masing, kami semua sibuk berkutat dengan ponsel untuk merapatkan hal-hal yang kami lupa bahas saat bertemu muka.
Saya mencintai cara kami menghadapi setiap masalah dengan kelewat santai, sehingga kami bebas stres, meskipun kami selalu dikejar tenggat waktu.
Saya mencintai bagaimana kami bisa membuat topik sesederhana ini:
berlanjut menjadi seperti ini:
Saya mencintai bagaimana kami tidak pernah bisa duduk serius.
Saya mencintai saat kami mengalami konflik, dan duduk bersama untuk membahasnya hingga tuntas.
Saya mencintai waktu-waktu di mana kami tersesat di jalan saat mencoba mencapai suatu tempat, tetapi tidak ada satu pun yang mengeluh atau menyalahkan pelaku yang menyesatkan arah kami.
Saya mencintai hari-hari kami yang penuh dengan celaan atas kekurangan kami, dan celaan berikutnya atas prestasi-prestasi yang kami raih.


Kini, waktu kami bersama hanya bersisa dua bulan. Dua bulan ini akan menjadi wahana baru bagi dinamika kelompok kami. Saya yakin, dua bulan terakhir ini juga akan memberikan warna dan kesan yang berharga sebagai penutup perjalanan empat belas bulan kami.
Saat kami berpisah bulan Januari nanti, sesegera mungkin saya akan merindukan mereka.
Setiap hari.
Terima kasih untuk satu tahun yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.










































Luar biasa komprehensifnya Neke. Ga abis-abis ketawanya ngebayangin :))
ReplyDeleteAhahahahaha terima kasih sudah mau cape-capein mata buat bacaa :D
Deletekalau lagi bosen-bosen boleh dibaca ulang sebagai hiburan, ada beberapa yang kutambahin, termasuk profil diriku. hahaha :p
Nekee.. Seriously, nikmat banget baca cerita kamu. Deskriptif banget kamu. Hahaha. :))
ReplyDeleteakkkkk kembaran akuuuuuu. Jadi ga enak dibaca kamu hihihi.
DeleteMakasih lohhhh jadi maluuuu :33
Halo kak, perkenalkan nama saya Bayu, sekarang tinggal di Kabupaten Natuna. Sekitar satu bulan lagi juga berpisah dengan 7 orang lainnya. Sama seperti yang kakak rasakan, pm yang dekat dg saya selama di camp malah ditaro di kabupaten lain hehe. Saya suka dengan postingan ini, kocak dan jujur. Kalau ke Aceh, titip salam dengan teman saya disana ya kak. Terima kasih.
ReplyDelete