Polemik kehidupan masa kini itu bernama kantuk.
Ya, rasa kantuk.
Rasa kantuk ini menjadi perbincangan yang cukup hangat di kalangan calon Pengajar Muda angkatan V, selama kita menjalani hari-hari Pelatihan Intensif Pengajar Muda.
Bagaimana tidak?
Si rasa kantuk ini benar-benar mengganggu.
Ini epidemi.
Tidak hanya menyerang satu atau dua individu saja,
tetapi keseluruhan camp :/
Anehnya, rasa kantuk ini tidak hanya menyerang di jam-jam kritis seperti siang hari, tetapi di setiap waktu.
Iya. Di setiap waktu.
Waktu pelatihan kami ini penuh dari jam 8 pagi, hingga setengah 10 malam.
Dan si rasa kantuk ini setia sekali nempel, di setiap sesinya.
Si kantuk ini sukses menjadi pusat perhatian.
Si kantuk ini sukses menjadi trending topic.
Kehadiran si kantuk ini benar-benar tak bisa diduga datangnya.
Tak bisa dikira penyebabnya.
Yang pasti efeknya dahsyat sekali.
Dia terus-menerus, secara kontinu, nempel di pelupuk mata.
Ga mau pergi-pergi.
Akibatnya?
Kami kesulitan fokus di kelas.
Mata kami merem-melek sepanjang sesi, secara tidak terkontrol.
Kepala-kepala kami semakin lama semakin menunduk...menunduk....
terkaget, bangun lagi. Lalu... menunduk... menunduk... menunduk lagi.
Ada juga yang sampai mangap, ketiduran.
Saya.... mata sih terbuka.
Tapi tahu fenomena saat kita tidur dan bermimpi terjatuh?
Menimbulkan efek kejut yang luar biasa bukan?
Nah saya, dengan mata terbuka dan telinga masih mendengar, tiba-tiba kejet sendiri.
Begitu saja -_-"
Fenomena ekspresifnya para calon Pengajar Muda V dalam merasakan kantuk ini... benar-benar terekam di dalam lensa kamera dalam jumlah yang sangat banyak.
Dengan berbagai gaya.
Setiap harinya, kami berjuang melawan kantuk ini dengan cara masing-masing.
Caranya lucu-lucu.
Unik-unik.
Ada yang makan permen terus. Segala jenis permen dimakan.
Ya permen kopi, permen mint, permen karet, bahkan permen rasa rujak.
Rasa rujak loh.
Tasnya penuh sama sampah bungkus permen.
Nah, orang itu adalah..... saya.
Kayak-kayaknya nih, rasa kantuknya ga pergi-pergi, yang ada tambah polemik baru: batuk.
Ada yang jadi iseng di kelas.
Semuaaaa orang di sekitarnya digangguin.
Mencubit, menggelitik, noel-noel, ganjen. -_-"
Ada juga yang tiba-tiba jadi Affandi.
Sedikit-sedikit coret-coret di bukunya.
Semua deh digambar. Orang, tumbuhan, hewan...
Ini cara yang produktif. Produktif menghasilkan karya,
tapi tetap saja jadinya tidak memperhatikan di kelas.
Ada yang masokis.
Dikit-dikit minta dicubit.
Dikit-dikit minta ditampar.
Biru-biru iya, mata tetep merem-melek.
Orang-orang yang kinestetis seperti saya, punya alternatif melawan mengantuk ini.
Sederhana caranya : goyang-goyang.
Kayaknya, pemateri bingung lihat saya.
Sedikit-sedikit goyang-goyang kaki.
Sedikit-sedikit badannya mengayun ke kanan atau ke kiri.
Atau tiba-tiba................ nari saman di kelas.
Kegiatan ini mungkin mengganggu sekitar saya yang melihatnya, tetapi sungguh ini membuat saya lebih fokus.
Lain lagi dengan orang yang memiliki mobilitas tinggi.
Mereka dengan senang hati bolak-balik kamar mandi.
Buang air kecil, sambil cuci muka.
Ada juga yang sangat frustasi dengan si kantuk ini, sehingga di lorong kamar mandi dia pasrah menempelkan jidatnya ke dinding.
Ga tahu sih sebenarnya tujuannya apa.
Dan kocak, dia bisa bertahan lama dengan posisi tersebut.
Bau-baunya sih, ya tidur sekalian disitu.
Kadang-kadang, di kondisi yang ekstrem, orang-orang yang izin ke kamar mandi ini lama tak kembali.
Usut punya usut, ada yang memutuskan tidur di lantai di lorong kamar mandi, pasrah.
Ada juga yang menyerah mengikuti kelas, lalu dia ngumpet di belakang atau di samping luar ruangan, sambil ngobrol-ngobrol lucu sama mas catering yang sedang sibuk menyiapkan coffee break untuk kita.
Ini ada lagi yang lain.
Melotot. Saya juga suka coba.
Tapi sepertinya... mimik wajah saya tak terkontrol.
Sering kali saya mendapati teman-teman tertawa-tawa melihat wajah saya yang melotot-melotot tidak jelas.
Si kantuk hebat ini bahkan membuat para pemateri tergerak hatinya untuk memberikan tips-tips melawan rasa kantuk.
Menggelitik dinding atas mulut dengan lidah sendiri.
Melancarkan aliran oksigen ke otak dengan cara menghirup dalam-dalam udara melalui sebelah lubang hidung secara bergantian.
Membuat otak kembali ke gelombang alpha, dengan cara menggerakan jempol membentuk lintasan infinitive.
Dan lain sebagainya.
Secara ini disampaikan oleh ahli-ahli di bidangnya masing-masing, maka penuhlah kelas dengan gerakan-gerakan baru ini.
Berhasil? tidak :/
Dahsyat ya, si kantuk ini.
Bagi saya pribadi, ada satu cara pamungkas menendang si kantuk ini dari pelupuk mata.
Menata rambut.
Lebih tepatnya, mengepang rambut panjang saya.
Dalam satu sesinya, saya bisa buka salon sendiri.
Rambut saya akan dengan sangat cepat berubah gaya.
Kepang satu ala Tomb Raider.
Kepang dua macam gadis desa.
Kepang tiga. Enggak sih.
Kepang satu di tengah. Kepang satu dari samping.
Dibuka, digerai sambil disisir-sisir.
Kadang-kadang hasilnya keriting-ikal cantik, kadang-kadang ngembang kayak singa.
Dicepol. Dicepol di puncak kepala macam Siddharta Gautama.
Kepang setengah. (kayak gimana tuh?)
Kuncir setengah.
Yak! Sampai capek dan pegal-pegal.
Kebiasaan saya mengotak-atik rambut di kelas ini menjadi perhatian beberapa teman saya.
Mereka penasaran, kok rambut saya sering sekali berubah gaya, dalam kurun waktu yang singkat-singkat.
Dan akhirnya mereka bersikeras untuk melototin saya, ingin menangkap momen proses perubahan gaya rambut yang satu ke yang lainnya.
Yaa saya sih senang saja, berarti saya membantu teman saya menemukan satu lagi alternatif kegiatan untuk menghilangkan rasa kantuk.
Kalau saya sih, lebih salut kepada teman-teman yang pasrah dan lapang dada mengikuti si alur kantuk ini.
Mereka dengan serta-merta menjalani rasa kantuk ini.
Ada dua ikon CPM V wanita yang konsisten dengan ketegasannya mengikuti maunya si kantuk.
Tidur.
Yang satu sangat mumpuni memodifikasi dan memanipulasi posisi tidurnya di kelas.
Tampak depan, dia akan terlihat sedang menulis atau mencatat, atau mendengarkan dengan serius.
Tapi coba buka matamu lebih lebar, perhatikan ke arah matanya.
Ya. Tepat sekali. Terpejam dengan sempurna!
Satu lagi. Dia lebih tegas.
Tidak pakai modifikasi atau manipulasi.
Dia dengan penuh percaya diri akan duduk di barisan paling depan di setiap sesi, dan dengan tegasnya..... tidur.
Mata boleh terpejam, dan dia benar-benar tertidur.
Tapi dia sangat responsif.
Apabila kami tertawa atau bertepuk tangan, serta merta dia akan terbangun, membuka mata untuk partisipasi tertawa dan bertepuk tangan, kemudian.... ya langsung tidur lagi.
Pemateri boleh duduk hanya beberapa meter selurusan dia, tapi dia akan tetap tegas memejamkan matanya.
Entah hingga kapan polemik kehidupan masa kini yang dialami CPM V ini akan berakhir.
Semoga secepatnya.
Yang pasti, kami semua mendapatkan pelajaran sangat berharga dari epidemi ini.
Yaitu, kami jadi sangat lebih menghargai waktu.
5 menit saja menjadi sangat begitu berarti bagi kami,
dimana di sela-sela jam istirahat kami, 5 menit itu kami sempatkan untuk benar-benar tertidur hingga bermimpi.
I Choreograph My Life, and Dance it in Your Mind.
Polemik Kehidupan Masa Kini
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
Author
@calliandr_a
Archives
Popular Posts
-
Tulisan ini menceritakan tentang enam anak manusia beda kasta, masa lalu, dan ukuran badan yang dipaksa keadaan untuk tidak hanya bers...
-
Rasanya sudah berdekade aku tidak didera gelisah semacam ini. Dulu mungkin ini aku namai rindu. Ini masa yang baru. Saat aku tidak tahu l...
-
Saya baru saja membaca sebuah cerita di dalam Madre karya Dee Lestari yang berjudul Menunggu Layang-layang. Cerita ini mengenai seorang p...
-
People say that growing up can wait. I used to believe it. But well then, apparently it cannot wait. at all. Rasa-rasanya, baru se...
-
"persahabatan itu sebuah proses kompromi." We meet each and everyday. But you are not really there, and I'm also not ther...
-
Sabtu, 25 November 2017. Merayakan Hari Guru di tahun 2017 dengan pulang ke SD Negeri 16 Kutamakmur, Aceh Utara, tempat saya pernah ...
-
30 Desember 2008. Malam yang sama, Saat perbincangan melelahkan itu berlangsung Di ampar bangunan yang kutempati secara tidak per...
-
Hari ini adalah ulang tahun Papa ke-54! Untuk pertama kalinya selama 24 tahun, aku tidak ada di rumah untuk menyelipkan hadiah kejutan at...
-
Ini adalah sebuah kisah abu-abu yang akan selalui menghantuiku, entah sampai kapan. Ya, abu-abu. Bukan merah jambu yang penuh cinta, Ata...
-
Menjadi Kepala Departemen Seni dan Budaya, berhenti dari BEM, atau mencoba posisi lain? Tulisan ini dulu dibuat di tengah kegalauan...
Calliandra. Powered by Blogger.
0 comments :
Post a Comment