Ini adalah kali pertamaku masuk ke kelas 6 SDN 16 Kutamakmur.
Aku didaulat mendampingi Wali Kelas 6 membimbing anak-anak kelas 6 ini, terutama untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan SBK.
Tak kenal maka tak sayang.
Aku berusaha menjalin hubungan yang lebih dekat dengan calon murid-muridku yang akan kuhadapi selama 14 bulan ini.
Untuk itu, aku melakukan perkenalan dengan mereka.
Mereka diminta maju satu persatu ke depan kelas untuk memperkenalkan nama lengkap, nama panggilan, hobi serta cita-cita mereka.
Selain untuk berkenalan, kegiatan ini dilaksanakan agar mereka dapat berlatih untuk berani berbicara di depan umum.
Anak-anak kelas 6 ini mungkin sangat cerewet dan berisik saat duduk di tempatnya masing-masing.
Tapi untuk berbicara di hadapan kelas, itu perkara lain.
Mulanya agak sulit untuk mendorong beberapa anak maju ke depan.
Aku sampai harus benar-benar duduk di samping mereka, berbisik dan menuntun mereka ke depan kelas.
Ada juga beberapa anak yang harus dikuntit berkeliling kelas karena kabur ketika gilirannya maju.
Mereka malu-malu.
Ada fenomena lucu saat kegiatan perkenalan ini dilaksanakan.
Ketika para murid perempuan dengan malu-malu mau berdiri di tengah-tengah kelas. murid laki-laki-nya memiliki spot tersendiri untuk memperkenalkan dirinya.
Di dalam lemari kelas, di pojok depan ruangan.
Ya, di dalam lemari, seperti ini.
Para anak lelaki yang jumlahnya lebih banyak dan jauh lebih aktif serta berisik itu ternyata lebih pemalu dan salah tingkah dibandingkan dengan anak perempuannya.
Mereka tampak kurang nyaman ditatap oleh seluruh kelas, dan terutama oleh aku.
Tampaknya mereka tidak nyaman dengan kondisi fisik mereka juga yang sedang bertumbuh.
Saat mereka bercerita mengenai dirinya di muka kelas, aku mendengarkan dari seberang ruangan.
Awalnya suara mereka pelan, dan logat bicara Bahasa Indonesianya tak terdeteksi.
Setelah dipancing dengan pertanyaan, akhirnya suara mereka mulai keluar.
Mereka bercerita mengenai cita-cita dan hobi mereka dengan mata yang berbinar.
Priceless.
Tentara, guru, pelukis, pemain bola... bahkan ada yang ingin menjadi wartawan dan kerja kantoran, istilah mereka.
Ada juga anak-anak yang memutar-mutar matanya, menengok kesana kemari ketika harus bercerita mengenai cita-citanya. Bingung.
Beberapa anak bercita-cita jadi dokter.
Sedikit pilu ketika melihat teman-temannya menertawakan anak yang berkeinginan menjadi dokter tersebut.
Ini adalah hutang, menanamkan kepada mereka bahwa itu semua mungkin.
Mereka dapat menjadi apa saja yang mereka inginkan.
Satu lagi, terdapat banyak hal-hal lain yang dapat dilakukan diluar sana selain melukis, bermain bola, menjadi tentara, dokter atau guru :)

0 comments :
Post a Comment