Kisah Putih Abu Paling Manis



Ini adalah ruangan yang tampaknya cukup layak untuk digunakan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar. Terlindungi dari panas dan hujan, serta dilengkapi dengan kursi dan meja yang cukup memadai jumlah dan keadaannya, membuat ruangan ini mampu menampung satu rombongan belajar SMA di desaku setiap harinya. Kondisi yang terlihat baik-baik saja ini berkata lain, ketika ruangan ini merupakan satu-satunya tempat layak yang tersedia untuk digunakan oleh SMA tersebut. Boleh juga ditambahkan, ruangan ini sesungguhnya adalah properti milik sekolah dasar tempatku bertugas sepuluh bulan terakhir ini.





Ya. Sejak dibentuk kurang lebih tiga tahun yang lalu, SMA persiapan ini ‘menumpang’ di rumah sekolahku untuk kegiatan sehari-harinya. Ruangan yang semula direncanakan untuk lokasi perpustakaan oleh sekolah dasarku, akhirnya digunakan sebagai ruangan kelas dua SMA, yang menampung 22 murid. Murid-murid ini harus belajar di antara tumpukan kursi dan meja yang tidak terpakai, karena ruangan tersebut juga digunakan sebagai gudang oleh sekolah dasarku. Kelas satu yang hanya berjumlah dua orang anak, terpaksa belajar di tengah reruntuhan bekas rumah guru sekolah dasar yang kondisinya sangat memprihatinkan. Reruntuhkan ini juga digunakan sebagai ruangan guru SMA persiapan ini.


Banyak hal tidak ideal mewarnai kiprah SMA persiapan ini selama tiga tahun wara-wirinya. Selain masalah tempat, tenaga pengajar yang hampir seluruhnya bermukim di daerah kecamatan yang sangat jauh dari desa, juga menjadi kendala besar bagi pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar yang konsisten dan berkualitas. Para guru jarang hadir di sekolah, seringkali dikarenakan mereka tidak bisa membeli minyak untuk berkendara ke sekolah. Hal ini tidak menyurutkan semangat belajar anak-anak. Meskipun setelah berjalan kaki jauh mereka sering terpaksa pulang dengan getir saat bel istirahat di SD-ku berbunyi, tapi keesokan harinya mereka akan kembali hadir di sekolah dengan setia.


Beberapa waktu setelah kedatanganku pertama kali di desa, geuchik* yang juga merupakan bapak piaraku serta kepala sekolahku memintaku untuk membantu mengajar di SMA. Akhirnya, sesekali aku turun mengajar anak-anak kelas satu dan dua sekaligus. Selama mengajar mereka, aku dapat merasakan semangat dan rasa haus mereka akan pengetahuan baru. Mereka bercerita dengan berbinar bahwa selepas SMA, mereka ingin pergi melanjutkan kuliah. Binar itu meredup dengan cepatnya ketika mereka mengeluhkan ketakutan mereka akan kelulusan Ujian Nasional. Sambil tertawa getir, salah satu dari mereka berkata, “Kami sudah bodoh, bu. Gak pernah ada guru, gak pernah belajar. Kek mana mau lulus Ujian Nasional?” Aku yang semasa SMA sering merasa senang saat ada guru yang tidak masuk ke dalam kelas, merasa malu seketika karena tidak mensyukuri nikmat pendidikan yang begitu diidamkan oleh anak-anak ini.


Di tahun ajaran baru ini, kondisi SMA persiapan ini semakin memprihatinkan. Dengan jumlah anak baru di kelas satu sekolah dasar yang membludak memenuhi dua lokal*, maka murid-murid SMA terpaksa tidak bisa lagi menggunakan ruangan kelas yang biasanya. Saat ini, mereka harus belajar di reruntuhan lain yang bersatu dengan toilet dan sumur sekolah dasar.



Tiga tahun yang lalu, SMA ini dibentuk atas inisiatif berbagai pihak di desaku. Kepala dusun, kepala desa, ketua kelompok pemuda, kepala sekolah dasarku serta seluruh masyarakat desa bahu-membahu merintis terbentuknya SMA ini tanpa kenal lelah. Mereka berusaha keras agar SMA persiapan ini diresmikan menjadi sekolah negeri dan mendapat bantuan fasilitas dari pemerintah.

Dengan wilayah yang cukup luas, jumlah SMA di kecamatanku terbilang sedikit, dan tidak merata. Hanya terdapat tiga SMA untuk 39 desa, dan tidak satu pun diantaranya terletak dengan jarak yang manusiawi dari desaku. SMA terdekat dapat dicapai setelah menempuh perjalanan kira-kira 30 km dengan menggunakan kereta (motor), melewati jalanan becek dan berbatu serta membelah hutan sawit, selama kurang lebih satu jam.

Warga di desaku, yang meliputi sembilan dusun, kesulitan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA setelah mereka lulus SMP. Mereka harus turun dari desa dan bermukim di rumah saudaranya atau menyewa kamar kos agar bisa tetap bersekolah, dikarenakan jauhnya jarak untuk ditempuh bolak-balik setiap hari. Karena hal tersebut memakan biaya yang tidak sedikit, maka sebagian besar warga di desaku akan putus sekolah setelah menyelesaikan pendidikan mereka di SMP. Mereka kemudian akan melanjutkan pola hidup turun temurun di keluarganya, yaitu bekerja di kebun atau mungkin berdagang.

Terbentuknya SMA di desaku memberi angin segar yang membawa harapan baru. Meskipun masih menumpang dengan jumlah murid yang masih sedikit, masyarakat menaruh harapan besar atas peningkatan kualitas pendidikan dan kehidupan bagi anak-anak mereka kelak.

Panitia persiapan SMA yang diketuai oleh kepala sekolah dasarku telah mengajukan proposal permohonan pembangunan gedung SMA ini. Proposal tersebut telah melanglang buana, tidak hanya di dinas pendidikan kabupaten dan provinsi, tetapi juga sampai ke pihak-pihak swasta. Proposal tersebut memuat permohonan untuk dilaksanakannya pembangunan satu unit sekolah lengkap di atas tanah seluas kurang lebih 1,5 hektar yang telah diwakafkan oleh warga dusunku. Tanah tersebut terletak di Dusun Alue Mbang, Desa Sidomulyo, tidak jauh dari sekolah dasar tempatku bertugas. Meskipun jalan menuju tanah tersebut cukup sempit dan sulit, namun lokasi tanah tersebut baik dan strategis untuk pembangunan gedung SMA. Saat ini, tanah tersebut digunakan masyarakat sebagai lapangan bola. Sore hari, sepulang sekolah, anak-anak biasa bermain bola atau kejar-kejaran di lapangan tersebut.





Di awal tahun ketiga pembentukan SMA ini, belum terlihat ada respon positif dari pengajuan proposal pembangunan tersebut. Suatu hari, abah, biasa aku memanggil bapak piaraku, menghampiriku dengan gelisah. Beliau meminta bantuanku untuk melacak keberadaan proposal tersebut, yang menurut kabar sudah sampai ke Jakarta. Abah merasakan beban untuk mempertanggungjawabkan tanah warga yang telah diwakafkan tersebut. Saat memeriksa kelengkapan berkas desa, aku terkesiap. Berkas-berkas yang tidak lengkap dan tampak kurang layak tersebut membuat hatiku mencelos. Terbersit kekhawatiran bahwa proposal pembangunan gedung SMA itu tidak dianggap serius oleh dinas, dan kemudian dikesampingkan. 

Setelah berkomunikasi dengan pihak dinas pendidikan di kabupaten, usut punya usut ternyata proposal tersebut belum bisa dikabulkan karena tidak tersedianya dana yang memadai, baik dari kabupaten maupun provinsi. Pihak dinas menawarkan agar kami menyetujui pembangunan gedung SMA ini secara bertahap. Dalam jangka waktu 5 tahun, dinas menjanjikan akan berdirinya satu gedung SMA yang utuh. Pihak swasta yang menerima pengajuan proposal tersebut pun menawarkan hal yang sama.

Aku dan abah setuju bahwa tawaran tersebut adalah hal terbaik yang bisa kita terima. Mengharapkan dana cair sejumlah hampir satu milyar dalam waktu dekat, nampaknya merupakan sesuatu yang sulit. Namun, kepala sekolahku bersikeras untuk memperjuangkan dana pembangunan USB (Unit Sekolah Baru) bagi SMA kami. Akhirnya kita semua menunggu, dengan harap-harap cemas.

Suatu malam, kepala sekolahku yang bermukim di daerah kecamatan tetiba naik ke desa. Beliau mengumpulkan beberapa orang, termasuk aku, untuk berbincang dalam sebuah rapat kecil di rumah abah. Ternyata, besok desaku akan kedatangan tamu dari Jakarta yang akan melakukan verifikasi sekolah target pembangunan USB. Warga yang hadir dalam rapat tersebut gembira bukan main. Mereka lalu sibuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan, sembari mempersiapkan penyambutan kedatangan tamu penting tersebut.

Keesokan harinya, sekolahku ramai oleh para guru SMA, murid-murid, serta warga. Semua bersiap menyambut tamu yang diharapkan dapat mengabulkan impian mereka akan pendidikan tinggi yang layak. Ruangan guru yang luasnya tidak seberapa itu dipenuhi berbagai makanan sumbangan dari warga. Mie Aceh, nasi dan lauk pauk, bahkan durian penuh menjejali meja. Acara hari itu berlangsung dengan sederhana, tetapi meriah dan membuncah dengan semangat dari semua yang hadir. Tamu tersebut memang hanyalah seorang. Tetapi kepulangan beliau dari desa kami hari itu telah dititipkan dengan sejumlah doa dan harapan seluruh warga desaku.



Seminggu kemudian, tepatnya hari Sabtu yang lalu.
Aku sedang duduk-duduk di teras rumah seorang muridku. Di tengah obrolanku dengan ayah dari muridku yang baru sembuh dari sakit, abah datang dengan tergopoh-gopoh sembari memamerkan senyuman lebarnya. Beliau membawa selembar surat. Abah yang tidak bisa membaca, meminta ayah muridku tersebut untuk membacakan isi surat tersebut. Sambil memotong kukunya dengan pisau dapur, ayah mendengarkan isi surat tersebut dengan mata berbinar.

Ternyata, SMA persiapan kami terpilih menjadi satu diantara 42 sekolah di seluruh Indonesia yang akan menerima dana pembangunan USB sebesar 1,5 milyar rupiah. Surat tersebut merupakan surat pemberitahuan sekaligus sebuah undangan. Hari Selasa yang lalu, Kepala Disdikpora Kabupaten Aceh Utara, kepala sekolahku serta seorang kontraktor diundang ke Jakarta untuk menerima pengarahan dan dana USB tersebut secara simbolis. Aku tidak bisa mempercayai pendengaranku. Rasa-rasanya sore itu aku merasa sangat haru dan gembira, melihat bahwa perjuangan warga desaku akhirnya bersambut manis.

Sore itu, abah bilang ini adalah buah dari doa yang dipanjatkan tiada henti, serta kesabaran yang dipupuk tidak habis-habis.  Doa dari seluruh panitia persiapan SMA serta masyarakat yang telah mewakafkan tanah mereka, guru-guru yang telah dengan ikhlas mengeluarkan tenaga dan materi untuk mengajar, anak-anak yang ingin terus belajar, serta doa dari wali murid yang ingin anaknya lulus dengan baik.

Bagiku, ini adalah hasil kerja bakti masyarakat yang optimis. Mereka percaya diri, bahwa mereka mampu mendirikan gedung SMA yang layak bagi anak-anak mereka. Mereka pantang menyerah dan selalu berpikiran positif. Kendala dan ketidakpastian yang bertubi tidak membuat mereka berhenti berharap. Mereka tidak henti berdoa kepada Allah untuk memberkahi usaha mereka, dan akhirnya turun tangan untuk pendidikan ini berbuah nyata.

*kepala dusun
*ruangan kelas

1 comments :

 
Menarikan Kata © 2012 | Designed by Rumah Dijual , in collaboration with Buy Dofollow Links! =) , Lastminutes and Ambien Side Effects